1.057 Penenun Sikka NTT Pecahkan Rekor Dunia

- Sabtu, 14 November 2015 10:52 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2015/11/hariansib.com): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Maumere (SIB)- Tanah Nusa Tenggara Timur kini sedang dilirik dunia mode busana karena kain tenun ikatnya. 1.057 penenun Kabupaten Sikka berhasil memecahkan rekor dunia.Pemecahan rekor dunia ini dilakukan di lapangan Kota Baru kabupaten Sikka, NTT, Rabu (11/11). Sebanyak 1.057 penenun memenuhi lapangan ini lengkap dengan alat tenun mereka.Sejak pagi mereka duduk menenun sambil menunggu acara pemberian rekor atas penenunan tenun ikat Sikka. Acara secara resmi dibuka oleh Mufidah Jusuf Kalla dan Megawati dengan pemukulan Letor yakni alat musik khas NTT secara simbolis.Pemberian rekor MURI ini adalah bagian dari Peresmian Pembukaan Festival Teluk Maumere. Acara ini dihadiri oleh istri Wakil Presiden Mufidah Jusuf Kalla, ketua PDIP Megawati Soekarnoputri dan para istri menteri kabinet kerja Jokowi-JK.Menurut Gubernur NTT Frans Lebu Raya, setiap corak dalam tenun ikat milik NTT menceritakan filsafat dan budaya kehidupan masyarakat NTT. Karena itu, coraknya beragam dan berwarna bumi seperti cokelat, merah, hitam atau biru.Pemberian rekor MURI ini sekaligus memecahkan rekor dunia dengan peragaan pembuatan tenun ikat Sikka terbanyak di dunia."Muri menyatakan sebagai rekor dunia atas peragaan pembuatan tenun ikat Sikka. Ada 1.057 pengrajin tenun," kata perwakilan MURI, Yusuf Gandri.Selain pembuatan tenun, peragaan busana dengan menggunakan kain tenun juga meraih rekor MURI. Setelah rekor MURI diumumkan, para mama-mama (panggilan pada ibu-ibu di tanah  NTT) langsung melanjutkan menenun kain mereka.Setelah itu Mufidah dan Mega mendatangi mama-mama para penenun untuk berbincang."Ini pakai pewarna apa? Alam atau kimia?" Kata Megawati pada salah satu pengrajin."Sudah ada campuran kimia, ibu," jawab penenun tersebut.Mega lalu menyapa penenun yang lain. Sebagian besar ditanya mengenai pewarna yang digunakan untuk kain mereka.Mega dan Mufidah menyapa penenun yang berbeda. Jika Mega menanyakan bahan pewarna, Mufidah lebih banyak bertanya lama pembuatan kain mereka."Berapa lama buatnya?" tanya Mufidah pada salah seorang penenun."Bisa sebulan," jawab penenun tersebut yang dikenal dengan nama mama Beti.Setelah menyapa para penenun, Mufidah lalu melihat stand kain tenun ikat yang juga berada di lokasi yang sama. Ia melihat proses pewarnaan benang, pembuatan pola kain dan bahan-bahan alami yang digunakan untuk warna kain tenun.Sebagai pencinta kain Indonesia, Mufidah pun tak melewatkan kesempatan membeli kain tenun ikat berwarna merah marun yang menggunakan bahan pewarna alami.Menurut Mufidah, pelestarian budaya Indonesia harus dimulai dengan menjaga para penenun kain tersebut. "Kita mengapresiasi kegiatan para penenun. Mereka semangat sekali menenun dan menjaga budaya mereka," ucap Muffidah. (detikcom/l)


Tag:

Berita Terkait

Lembaran Budaya

Ephorus HKBP Desak Pemerintah Pusat Perbaiki Jalan Rusak Parah di Nagasaribu Taput

Lembaran Budaya

PT Surya Jaya Agung Bagikan Sirup Sambut Idulfitri kepada Warga Seibuluh

Lembaran Budaya

Cekcok Picu Suami Aniaya Istri dan Kerabatnya Hingga Pingsan

Lembaran Budaya

RS Adam Malik Jadi Rumah Sakit Penyelenggara Pendidikan Utama PPDS

Lembaran Budaya

TNI AD Berhasil Bangun 218 Jembatan Kurun Waktu 2,5 Bulan

Lembaran Budaya

Mayat Dalam Kontainer Gegerkan Warga Menteng VII, Diduga Diantar Ojol