Muniru, Begadang Seru ala Masyarakat Gayo

- Sabtu, 05 Desember 2015 15:33 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2015/12/hariansib.com): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Di dataran tinggi Gayo, Aceh, malam-malam yang dingin membuat orang-orang berangkat tidur lebih cepat.  Tapi banyak juga yang tak bisa tidur.  Ini mungkin siksaan.  Bagi saya, ganguan tak bisa tidur adalah petaka yang membuat bangun pagi terasa seperti lepas diri dari lilitan tali yang ketat di sekujur tubuh.  Tapi orang Gayo memiliki cara tersendiri, mereka menyebutnya muniru.Biasanya, muniru dimulai dengan inisiatif salah seorang yang berkumpul malam hari membuat api unggun.  Orang lain yang melihat itu akan datang berkumpul di lingkaran api.  Sambil bercakap dan menyeruput kopi, orang-orang menghangatkan tangan dan bagian tubuh lainnya. Tangan yang hangat diusapkan pada wajah hingga menimbulkan rasa nyaman.Tapi di Kota Takengon, muniru tak akan banyak dijumpai kecuali orang-orang yang berkumpul di warung kopi.  Saya mendatangi salah satu warung yang juga menyediakan menu kopi arabika, warung kopi WRB.Beberapa pemuda terlihat berkumpul walau tak ada api uggun.  Tapi mereka tetap menyebutnya muniru.Barista di WRB punya nama keren, Marzuki Sofyan Bintang.  Saya memanggilnya Bang Jack, menyuguhkan secangkir sanger arabika pada saya.Bang Jack menuangkan susu kental manis hampir memenuhi seperempat bagian dari cangkir.  Dalam hati saya berpikir, minum susu kental manis terlalu banyak tentu menghilangkan cita rasa kopi. “Jangan khawatir, kalau tidak mau terlalu banyak susu, jangan aduk semuanya,” kata Bang Jack.Dia kemudian meletakkan cangkir di mesin pembuat kopi dan sesaat kemudian, air cokelat kehitaman menetes dari pipa kecil. Walau tak banyak krema, itu adalah kopi kental yang keluar dari proses penyaringan pertama, espresso.Muniru malam itu ditemani dengan kelakar dan kritik pedas atas kondisi kekinian. Berbagai isu diperbincangkan hingga kematian. Di beberapa sudut kota, kegiatan malam juga diisi dengan obrolan seputar batu cincin yang kini sedang tren.Beberapa pria tampak asik melingkarkan kain sarung di lehernya.  Hingga larut, satu per satu mereka pulang untuk tenggelam dalam selimut tebal.Muniru hingga larut malam memang tak lengkap jika api tak dinyalakan.  Kabut sekilas tampak seperti bayangan kain putih tipis yang menyelimuti bukit-bukit.Kabut itu lenyap bersamaan dengan hilangnya asap dari cangkir kopi yang panas.  Saya menyeruputnya lagi agar terbebas dari penat. (Geographicnational/c)


Tag:

Berita Terkait

Lembaran Budaya

Satresnarkoba Polres Labuhanbatu Tangkap 2 Pengedar Sabu di Bilah Barat, Satu Warga Riau

Lembaran Budaya

SOL dan Pemkab Taput Perkuat Sinergi Dukung Pembangunan Daerah

Lembaran Budaya

BNNP Sumut dan Forkopimda Tinjau Kampung Bahari Belawan, Sarang Narkoba Jadi Perhatian Serius

Lembaran Budaya

Pomparan Raja Toga Sitompul Boru Bere Gotong Royong Bersihkan dan Perbaikan Tugu Raja Toga Sitompul

Lembaran Budaya

KASAD Maruli Simanjuntak Resmikan Jembatan Bailey di Boronadu Nisel

Lembaran Budaya

Teknologi Layanan Kelas Dunia, Kunci Strategi Singapore Airlines Memanjakan Penumpang