Seoul (SIB)- Tergelincir. Itulah pernyataan salah satu awak kapal yang selamat dari tragedi kapal feri Sewol yang tenggelam dan mengakibatkan ratusan nyawa melayang serta ratusan lainnya belum ditemukan. "Kami telah berupaya untuk menyebar sekoci, namun karena tergelincir kami tak dapat meraihnya, sementara kapal semakin miring," ujar seorang awak kapal yang selamat saat memberikan pernyataan di luar ruang pengadilan Selasa (22/4) setelah ditahan selama satu hari sebelum disidang atas tuduhan yang mengakibatkan hilangnya banyak nyawa.Dilansir CNN, Rabu (23/4, keempat kru tersebut memasuki ruang persidangan dengan kepala tertunduk dan wajah yang ditutupi supaya tak dikenali. Mereka merupakan 4 dari 9 kru kapal yang ditangkap termasuk kapten kapal yang diduga melarikan diri saat insiden tersebut.Lambatnya penyebaran sekoci merupakan salah satu dari serangkaian masalah yang menimpa kapal yang tenggelam pada Rabu (16/4) saat membawa 476 penumpang menuju Pulau Jeju. Sebuah transkrip percakapan radio yang dikeluarkan oleh pihak berwenang menunjukkan bahwa penumpang kapal tak dapat mencapai sekoci untuk menyelamatkan diri karena kapal miring dengan cepat sehingga menyebabkan banyak penumpang tak terselamatkan.Kapten kapal mendapat kecaman keras dari anggota keluarga penumpang karena keputusan mereka yang memerintahkan para penumpang untuk tetap berada di kapal. Sementara dirinya bersama beberapa awak kapal lain menjadi orang pertama yang diselamatkan.Hingga saat ini 150 orang dinyatakan tewas dan 156 lainnya masih menghilang selama hampir sepekan setelah kapal yang mereka naiki tenggelam. Semenjak operasi pencarian dan penyelamatan dilakukan pada Rabu (16/4) lalu, tim hanya berhasil diselamatkan hanya 174 orang saja, termasuk kapten kapal dan belasan awak kapal. Jumlah korban tewas diprediksi akan terus bertambah mengingat para penyelam dilaporkan berhasil mencapai bagian kafetaria yang ada di dalam kapal Sewol. Diduga, ada banyak penumpang yang terjebak di dalam kafetaria yang sudah terendam air laut tersebut.Upaya pencarian terus dilakukan oleh pihak patroli laut Korsel dengan dibantu militer serta relawan sipil. Juru bicara tim penyelamat gabungan, Koh Myung-seok, menjelaskan tim akan memfokuskan pencarian pada dek tiga dan dek empat yang ada di dalam kapal dengan lima lantai tersebut.Di bagian permukaan, dua pelampung besar berwarna cokelat menjadi penanda lokasi kapal Sewol yang kini tenggelam sepenuh di dalam lautan dalam kondisi terbalik. Pelampung tersebut dikelilingi oleh puluhan kapal, mulai dari kapal kecil hingga kapal perang yang terus siaga untuk mengevakuasi temuan korban dari dalam kapal.Para penyelam, yang sebagian besar merupakan relawan sipil, ini menggunakan tali untuk menjadi pemandu mereka ke dalam kapal yang sudah tenggelam. Kondisi di dalam laut sangatlah gelap. "Para penyelam bahkan tidak bisa melihat tangan mereka sendiri," terang Koh.Salah satu penyelam, Bard Yoon, mengakui kondisi di dalam air cukup buruk, bahkan hingga bagian tubuhnya kesakitan. "Kami masuk ke dalam, berpikir kemungkinan ada korban selamat," ucapnya. "Ketika kami kembali tanpa apa pun, kami bahkan tidak bisa menghadapi para keluarga," imbuh Yoon.Di pantai, atau di pelabuhan Jindo, keluarga korban menunggu dengan cemas. Sebagian besar dari mereka merupakan orangtua murid SMA Danwon, Ansan, yang ada di kapal tersebut bersama dengan sejumlah guru mereka untuk berwisata ke Pulau Jeju.Begitu ada jasad yang dibawa dengan kapal tiba, keluarga korban diminta masuk ke dalam tenda untuk membantu identifikasi jasad tersebut. Dari total 476 penumpang dan awak kapal yang ada di kapal, sebagian besar atau lebih dari 300 orang merupakan siswa SMA Danwon. Banyak siswa sekolah tersebut yang terjebak di dalam kapal yang kini kondisinya sudah tenggelam sepenuhnya. (Detikcom/f)Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.