Tiongkok Menentang Lawatan Dalai Lama ke Norwegia

- Jumat, 25 April 2014 15:25 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2014/04/hariansib.com): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Beijing (SIB)- Tiongkok kembali memperingatkan Beijing menentang rencana kunjungan pemimpin spiritual Tibet Dalai Lama ke Norwegia, dengan mengatakan bila ia benar-benar seorang pemuka agama, maka ia seharusnya "tinggal di dalam kuil" bukan keliling dunia. Dalai Lama dijadwalkan mengunjungi Norwegia pada 7-9 Mei untuk memenuhi undangan dari kelompok masyarakat di Oslo sebagai bagian dari perayaan 25 tahun penghargaan Nobel Perdamaian yang pernah diterimanya.Perdana Menteri serta Menteri Luar Negeri Norwegia tidak menerima undangan untuk bertemu dengan Dalai Lama, tetapi Dalai Lama dijadwalkan bertemu dengan sejumlah anggota parlemen termasuk anggota "komite Tibet".Kementerian Luar Negeri Tiongkok, yang pada Desember mengecam rencana kunjungan itu, mengatakan menentang semua negara yang memberikan landasan pada pandangan Dalai Lama. "Sikap kami mengenai Dalai Lama sudah sangat jelas, tegas dan tetap," kata juru bicara kementerian Qin Gang dalam  jumpa pers tetap."Kalau Dalai Lama, seperti katanya sendiri, adalah seorang tokoh agama, ia mesti berada di kuil dan tidak bepergian kesana-kemari, terlibat dalam konflik internasional dalam pemisahan dengan Tiongkok dan meminta penyatuan etnik," katanya. "Kami dengan tegas menentang semua negara asing yang menyediakan bantuan bagi aksi pemisahan Dalai Lama dan menentang pertemuannya dengan para pemuka negara lain."Tiongkok menyebut Dalai Lama sebagai "Serigala berbulu domba" yang memakai metode kekerasan untuk membentuk kemerdekaan Tibet. Dalai Lama yang melarikan diri ke India setelah gagal pada dalam gerakan pada 1959, tetap memperjuangkan otonomi bagi Tibet dan membantah menyokong kekerasan. Hubungan diplomatik Tiongkok dan Norwegia membeku sejak 2010 ketika Komite Nobel memberikan penghargaan perdamaian kepada Liu Xiabo, penentang pro-demokrasi tahun 1989 yang digulung pemerintah. (Ant/Rtr/d)Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.


Tag:

Berita Terkait

Luar Negeri

Tiongkok Klaim Bisa Lumpuhkan Starlink! Senjata 20 Gigawatt Ini Bikin Dunia Geger

Luar Negeri

Ekspor Sumut 2025 Tumbuh 14,78 Persen, Tiongkok Masih Tujuan Utama

Luar Negeri

Imigrasi Bongkar Sindikat Love Scamming Internasional di Tangerang, 27 WNA Diamankan

Luar Negeri

BPS: Nilai Impor Sumut Turun 5,23 Persen

Luar Negeri

Pemkab Humbahas Berangkatkan Kepala Desa Baringin Studi Banding ke Tiongkok

Luar Negeri

Drama Tarif AS-Tiongkok Guncang Pasar Dunia, Ekonomi Indonesia Tetap Perkasa