AS dan UE ‘Tampar’ Rusia dengan Sanksi

* Kedubes Rusia Minta Rakyat Indonesia Tidak Baca Media Barat
- Rabu, 30 April 2014 16:05 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2014/04/hariansib.com): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
KOSTYANTYNIVKA (SIB)- Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) memberikan tamparan untuk Rusia berupa sanksi. Hal ini dilakukan karena Rusia gagal menghentikan lonjakan ketegangan yang terjadi di Ukrania. Gedung Putih memberlakukan sanksi terhadap tujuh pejabat Rusia dan sekira 17 perusahaan yang dekat dengan Presiden Rusia. Uni Eropa juga menambahkan sekira 15 dalam daftar sanksi tersebut.Menurut laporan, Direktur dan Ketua Dewan Rosneft, Igor Sechin pemilik perusahaan minyak terkenal di Rusia akan di kenakan sanksi. Rusia pun mengecam sanksi ini. “Kami muak dengan aksi yang yang dilakukan AS,” tutur Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov, seperti dikutip The Nation, Selasa (29/4).  AS akan memperketat persyaratan perizinan ekspor teknologi tinggi ke Rusia. Sanksi yang diberikan Barat adalah bentuk respons dari komitmen Rusia yang tidak sesuai dengan kesepakatan di Jenewa pada 17 April 2014. Menurut laporan, ketegangan di Timur Ukraina mulai menunjukkan tanda-tanda mereda. Krisis mulai meningkat sejak November 2014, ketika pengunjuk rasa pro-Barat di Kiev mulai melakukan demonstrasi massa menentang Kremlin. Aksi tersebut didukung oleh Presiden Viktor Yanukovych, setelah dia menolak kesepakatan untuk membawa Ukraina lebih dekat dengan Uni Eropa.Kedubes Rusia Minta Rakyat Indonesia Tidak Baca Media BaratPenasihat Bidang Politik Kedutaan Rusia, Oleg Kopylov meminta masyarakat Indonesia untuk tidak membaca media Barat. Hal tersebut disampaikan terkait di Ukraina yang melibatkan Rusia. "Jangan membaca sumber media Barat karena itu hanya menyudutkan kami," ucap Kopylov, dalam diskusi bertema "Krisis Ukraina dan Pengaruhnya di Asia Tenggara" di Universitas Indonesia, Depok, Selasa (29/4).Sementara Duta Besar Ukraina Volodymyr Pakhil sampaikan rasa kekhawatirannya dengan krisis yang terjadi di negaranya. Hingga kini separatisme masih terus mengancam Ukraina. Kekhawatirannya disampaikan ketika Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia Robert O.Blake Jr. mengomentari krisis Ukraina.Sebelumnya diberitakan Dubes AS Robert Blake melakukan diskusi ilmiah dengan Dubes Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin. Dalam diskusi itu Dubes Ukrania Volodymyr Pakhil juga turut hadir.Meski Dubes Pakhil tidak ditempatkan sebagai pembicara pada seminar umum tersebut, tetapi dirinya hadir dalam diskusi dan membahas apa yang terjadi di timur Ukraina. "Saya berterima kasih atas semua dukungan masyarakat internasional termasuk Indonesia yang ikut berikan dukungan," tutur Dubes Pakhil, di Depok, Selasa (29/4).Dalam diskusi tersebut Kopylov beradu arguman dengan Kepala Bagian Politik Luar Negeri Kedubes AS, Casey Mace. Mereka saling mengeluarkan pendapat masing-masing mengenai isu yang terjadi di Ukraina. (thenation/okz/h)


Tag:
AS

Berita Terkait

Luar Negeri

PT Sumo Tolak Tudingan Pihaknya Menyebabkan Kebocoran PAD Medan dari Sektor Reklame

Luar Negeri

Sapa Warga di Bantaran Sungai Babura, Rico Waas Tegaskan Komitmen Respons Cepat dan Tepat Sasaran

Luar Negeri

Pemko Medan Luncurkan PKH Adil Makmur Bantu Warga Kurang Mampu

Luar Negeri

JAM Intel Hadiri Sosialisasi Jaga Desa di Kantor Gubernur Sumut

Luar Negeri

Satsamapta Polres Tanah Karo Gelar Rapat Penanggulangan Bencana Alam

Luar Negeri

Kasus Keracunan Makanan MBG, BGN Hentikan Sementara SPPG Sidikalang