Washington (SIB)- Biro Federal AS mensinyalir makin banyak orang Amerika yang pergi ke Suriah untuk berperang bersama pemberontak. Mereka dengan ribuan pejuang asal Eropa melawan tentara Bashar al-Assad.Berbicara kepada wartawan, Direktur FBI James Comey mengatakan aparat hukum di AS harus siap mengantisipasi meningkatnya skenario mirip serangan 11 September. Potensi serangan meningkat tajam karena makin banyaknya warga AS yang mempunyai pengalaman perang setelah bergabung dalam konflik Suriah."Akan ada yang menjadi diaspora di luar Suriah di beberapa titik, dan kami bertekad untuk tidak membiarkan mereka menarik garis dari Suriah hari ini sampai 9/11 mendatang," tambah Comey. "Jadi itu adalah sesuatu yang menjadi fokus semua bagian dari komunitas intelijen AS," katanya. Comey membandingkan keadaan di Suriah dengan perang Afghanistan di era 80-an yang memberikan lahan subur bagi tumbuhnya radikalisasi dan menginisiasi terbentuknya al-Qaeda. "Kita harus ingat dengan memori 80 dan 90-an dari Afghanistan. Kita melihat keadaan di Suriah bisa menjadi lebih buruk."Pada dekade 80-an, AS mengelontorkan dukungan besar-besaran bagi pejuang Mujahidin yang berperang melawan tentara Uni Soviet. AS menggunakan Pakistan untuk memasok persenjataan pada Mujahidin dengan mengirim persenjataan canggih termasuk rudal anti pesawat portabel.Mereka juga menggandeng dinas rahasia Pakistan ISI untuk membangun struktur jaringan pejuang Islam yang kelak bersalin rupa menjadi al-Qaeda. Ketika tentara Soviet berhasil diusir dari Afghanistan, pejuang-pejuang yang dulunya didukung AS berbalik gagang melawan mereka. FBI menyatakan jumlah orang Amerika yang pergi ke Suriah meningkat dari beberapa puluh menjadi ratusan ketika orang-orang dari AS mencoba untuk membawa lebih banyak orang. “Ini akan makin parah, karena makin banyak orang dari seluruh dunia pergi ke sana untuk ambil bagian dalam pertempuran,†kata Comey.Dia memperkirakan dalam beberapa tahun ke depan mereka yang telah ‘bersekolah’ di Suriah akan berdiaspora ke seluruh dunia dengan mengusung ide-ide radikal. “Kami tak akan membiarkan mereka menarik garis dari Suriah dengan ide-ide 11 September.â€Di dalam negeri, aparat hukum AS berkali-kali menyatakan keprihatinan menguatnya pengaruh para militan garis keras di Suriah yang banyak dari mereka terkait dengan al-Qaeda. Mereka yang telah bergabung dengan perang Suriah akan dengan gampang menjadi radikal dan menanamkan keyakinan mereka sekembalinya mereka ke rumah. Hampir SelesaiPerundingan mengenai penarikan pemberontak Suriah dari beberapa distrik yang terkepung di Homs telah memasuki tahap akhir, sementara pasukan pemerintah mendesak penarikan di sekitar Damaskus dan Aleppo. Menurut Gubernur Talal al-Barazi dan perunding pemberontak, Abul Harith al-Khalidi, perundingan untuk mengevakuasi Homs, yang pernah disebut sebagai ibukota revolusi melawan Presiden Bashar al-Assad, telah hampir selesai. Perundingan dilanjutkan sehari setelah gencatan senjata dimulai di Homs, yang mengalami kekerasan paling parah dan paling konsisten sejak perang saudara mulai berkobar 2011.Jika pemberontak menarik diri dari sejumlah distrik yang terkepung di Homs, berarti rezim Assad telah kembali menguasai kota itu sepenuhnya. Sebagian besar dari sekitar 1.500 orang yang masih terkepung di Kota Lama adalah pemberontak. Sementara distrik Waer yang dikuasai pemberontak, penghuninya adalah ribuan warga sipil, banyak diantaranya berasal dari kubu-kubu pemberontak yang telah direbut pasukan pemerintah. (Ant/Tpos/w)Simak berita selengkapnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB) edisi 5 Mei 2014. Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap pukul 13.00 WIB.