Damaskus (SIB)- Bashar al-Assad kembali terpilih sebagai Presiden Suriah setelah mengantongi 88,7 persen suara dalam Pemilu yang digelar di negeri yang tengah berkecamuk tersebut. Pemilu yang banyak menuai respon dari berbagai kalangan ini berujung pada pemenangan Assad yang jauh mengantongi suara mayoritas. Kelompok pemberontak bahkan menyebut Pemilu yang digelar sebagai sebuah sandiwara.Juru Bicara Parlemen, Mohammad al-Lahham menyebutkan para calon lainnya yang bersaing dalam Pemilu itu memperoleh suara jauh dibanding Assad. Mereka mendapatkan suara di bawah lima persen dalam pemungutan yang berlangsung Selasa (3/6) kemarin. Hasan al-Nuri memperoleh 4,3 persen suara, sementara Maher al-Hajar memperoleh 3,2 persen suara. Dua nama ini tidak pernah terdengar sebelumnya."Saya mengucapkan selamat kepada Suriah yang telah memilih pemimpinnya yang akan membawa masyarakatnya ke tepina keamanan dan stabilitas," kata Lahham dalam pernyataannya seperti dikutip AFP, Kamis (5/6). Pemilu ini diselenggarakan di sekitar 40 persen wilayah Suriah. Di mana wilayah tersebut termasuk dalam kendali rezim militer Suriah.Namun negara Barat menolak kemenangan Assad. Menteri Luar Negeri AS John Kerry menyebut hasil itu "tak berarti", demikian laporan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Kamis petang. Ia mengatakan, "Apa yang disebut pemilihan umum bukan lah pemilihan umum tapi cuma nol besar."Uni Eropa juga mengatakan di dalam satu pernyataan pemilihan umum tersebut "tidak sah dan merusak upaya politik guna menemukan penyelesaian bagi konflik mengerikan ini", yang telah membuat 6,5 juta orang menjadi pengungsi di dalam negeri mereka, demikian statistik paling akhir PBB.Pemerintah Inggris menyebut kemenangan Assad tersebut sebuah penghinaan. Menteri Luar Negeri Inggris William Hague mengatakan, pemilihan presiden tersebut hanyalah cara untuk mempertahankan kediktatoran Assad.Assad yang menggantikan ayahnya pada tahun 2000, terpilih kembali dengan meraih 88,7 persen suara. Pemilu yang digelar 3 Juni itu disebut sebagai lelucon oleh para pemberontak Suriah yang terus berupaya menggulingkan kekuasaan Assad. "Legitimasi Assad berkurang sebelum pemilihan ini, dan juga berkurang setelahnya. Pemilihan ini tak ada hubungannya dengan demokrasi murni," cetus Hague dalam statemennya.Hague pun menyinggung tentang perang sipil yang tengah melanda Suriah. Ditambah lagi dengan jutaan orang yang tidak mendapatkan haknya untuk memilih. "Menggelar pemilihan dalam kondisi seperti itu hanyalah cara untuk meneruskan kediktatorannya, dan merupakan penghinaan bagi warga Suriah yang telah meminta kebebasan dan perubahan politik yang nyata," tandas Hague."Pemilihan itu digelar di tengah perang sipil dengan jutaan orang kehilangan haknya, tak punya akses ke bantuan kemanusiaan dasar, dan dengan semua penolakan terhadap Assad yang ditekan dengan brutal," imbuhnya. Menurut Hague, Assad tak punya rencana untuk perdamaian, stabilitas dan pembangunan di Suriah. "Satu-satunya formulanya adalah membunuh dan membuat lapar rakyatnya sendiri, kehancuran kota-kota dan kehilangan tempat tinggal bagi jutaan orang," cetus Hague.Kepala NATO Anders Fogh Rasmussen menyebut pilpres tersebut sebagai "lelucon." Alasannya, pemilihan tersebut tidak memenuhi standar internasional. "Pemilihan presiden Suriah merupakan lelucon," cetus Rasmussen. "Itu tidak memenuhi standar internasional untuk pemilihan yang bebas, adil dan transparan dan saya yakin, tak ada sekutu NATO yang akan mengakui hasil dari apa yang disebut pemilihan ini," tutur Rasmussen.Prancis melalui Menteri Luar Negeri Laurent Fabius, bahkan menyebut pemilu yang digelar di Suriah sebagai pemilihan palsu. "Dalam pemilihan ini, pilihannya hanya antara Bashar dan Bashar," ucap Fabius. "Pemilu yang palsu ini hanya akan membenarkan kemampuan Bashar al-Assad untuk melanjutkan jenis kebijakannya yang kita semua ketahui, yakni pertempuran sengit (melawan oposisi) dan mempertahankan dirinya sendiri dalam kekuasaan," imbuhnya.Menurut Fabius, pemilu ini sama sekali tidak akan membantu untuk menyelesaikan konflik berdarah yang terus berlangsung di Suriah. Negara adikuasa AS bahkan mengecam Pemilu yang sedari awal diyakini bahwa Assad yang akan tampil sebagai pemenangnya. "Pemilihan presiden di Suriah memalukan," cetus juru bicara Departemen Luar Negeri AS Marie Harf. "Kredibilitas Assad saat ini tidak lebih baik daripada kemarin," imbuh Harf. (Detikcom/f)Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.