Caracas (SIB) -Putra Presiden Venezuela, Nicolas Maduro Guerra, mengancam akan menduduki Gedung Putih dengan bersenjatakan senapan. Hal ini menanggapi pernyataan Presiden AS Donald Trump yang ingin mengerahkan personel militer AS ke Venezuela yang sedang dilanda kerusuhan politik.Seperti dilansir CNN, Senin (14/8), Gedung Putih mengecam rezim Presiden Nicolas Maduro atas pelanggaran HAM. Lebih dari 120 orang tewas dalam unjuk rasa antipemerintah sejak April lalu. Pekan lalu, Trump menyatakan dirinya dirinya tengah mempertimbangkan opsi militer sebagai respons atas krisis politik di Venezuela tersebut. Trump menyebut situasi di Venezuela sebagai 'kekacauan yang sangat berbahaya'.Pada Sabtu (12/8) waktu setempat, putra Maduro menanggapi pernyataan Trump itu. Namun tampaknya dia sedikit bingung dengan lokasi Gedung Putih di AS. "Jika peristiwa mengotori Tanah Air yang tidak diinginkan, sungguh terjadi, senapan akan tiba di New York," tuturnya kepada media nasional Venezuela. Bukannya menyebut Washington DC, putra Maduro malah menyebut kota New York sebagai lokasi Gedung Putih. "Tuan Trump, kita akan tiba dan mengambil alih Gedung Putih," imbuhnya.Dalam pernyataan kepada wartawan di klub golf New Jersey, tempatnya berlibur pada Jumat (11/8) lalu, Trump untuk pertama kalinya menyebut dirinya tengah mempertimbangkan intervensi militer untuk situasi kacau di Venezuela. "Venezuela tidak terlalu jauh dan rakyatnya menderita, dan mereka sekarat. Kita memiliki banyak opsi untuk Venezuela, termasuk opsi militer jika diperlukan," tutur TrumpSecara terpisah, juru bicara Pentagon, Eric Pahon, menyebut Departemen Pertahanan AS belum mendapat perintah dari Presiden AS untuk mengerahkan personel militer ke Venezuela. Namun dikatakan Pahon, Pentagon telah siap jika memang diperlukan.Pemerintahan Trump menjatuhkan sanksi keras terhadap Venezuela, setelah Presiden Maduro bersikeras membentuk Dewan Konstituen untuk menekan oposisi yang mendominasi Majelis Nasional Venezuela. Dewan Konstituen disebut-sebut menjadi 'cara' Maduro menghapuskan Majelis Nasional. Rakyat Venezuela memprotes keras pemberontakan Dewan Konstituen yang disebut mengarah pada pemerintahan otoriter. Sementara itu Presiden Kolombia Juan Manuel Santos mengatakan tidak ada satu negara pun di Amerika Latin yang akan menerima bentuk intervensi militer apapun yang dilakukan Amerika di Venezuela, dan ini seharusnya menjadi pertimbangan. Santos melangsungkan konferensi pers bersama di Cartagena, Minggu (13/8), bersama Wakil Presiden Amerika Mike Pence yang sedang melawat ke negara itu.Santos merujuk aksi militer Amerika lebih dari satu abad lalu di seluruh Amerika Latin dan mengatakan tidak seorang pun pemimpin di Amerika Latin yang ingin melihat "hantu" itu muncul kembali. Ditambahkannya, kembalinya demokrasi di Venezuela seharusnya berlangsung damai. Dengan menyebut Amerika sebagai "benua penuh perdamaian", Santos mengatakan "mari kita melestarikannya seperti itu lagi."Pence tidak mengesampingkan penggunaan kekuatan militer, tetapi ia juga tidak membicarakannya secara langsung. Pence mengatakan ada beberapa pilihan yang bisa dilakukan untuk menekan rezim Maduro di Venezuela, termasuk tekanan diplomatik dan ekonomi. Ia meyakinkan Santos bahwa Amerika tidak akan diam ketika Venezuela "hancur" dan menuju kediktatoran.Pence mengatakan sebuah negara yang gagal di Venezuela akan membahayakan seluruh benua. Ditambahkannya, Trump mengirimnya ke Amerika Latin untuk mengerahkan dan mengkonsolidasikan dukungan kawasan yang dibutuhkan untuk membantu rakyat Venezuela. (Detikcom/d)