Rusia Ancam Putuskan Gas ke Ukraina

* Lavrov: Pengunjuk Rasa Kedutaan Rusia di Kiev
- Selasa, 17 Juni 2014 12:01 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2014/06/hariansib_-Rusia-Ancam-Putuskan-Gas-ke-Ukraina.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
SIB/rtr
Seorang pekerja memeriksa kondisi pipa-pipa gas di kilang penyimpanan gas Ukraina. Rusia, Senin (16/6) mengancam akan menghentikan pasokan gas ke Ukraina jika Kiev tidak bisa membayar 1,95 miliar dolar AS kepada perusahaan pemasok gas asal Rusia Gazprom.
Kiev (SIB)- Rusia mengancam akan menghentikan pasokan gas jika Ukraina tidak bisa membayar 1,95 miliar dolar AS, di tengah perundingan yang gagal mencapai kesepakatan antara Moskow, Kiev, dengan penengah Uni Eropa yang membahas pemasokan gas, pada Senin (16/6)."Kami belum mencapai kesekapatan apa pun sedangkan peluang untuk bertemu dalam perundingan lagi semakin kecil -- kami sudah berada di dalam pesawat yang membawa kembali (ke Moskow)," kata Juru Bicara perusahaan gas Rusia (Gazprom), Sergei Kuprianov, kepada AFP."Bila kami tidak menerima pembayaran sampai dengan pukul 10.00 (13.00 WIB), maka kami tidak akan mengirim pasokan gas lagi."Sementara itu, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, mengatakan segerombolan warga Ukraina yang menyerang kedutaan Moskow di Kiev ingin mengambil-alih kompleks kedutaan dan ingin melihat "darah tumpah" di sana. "Diplomat kami merasa bahwa penyerang ingin secara fisik merebut kedutaan. Ada juga alasan untuk percaya bahwa mereka ingin melihat darah tumpah di sana," kata kantor berita mengutip Lavrov, di Moskow, Minggu.Para pengunjuk rasa melempari kedutaan di Kiev dengan telur, Sabtu, dan merobek bendera Rusia sebagai protes atas apa yang mereka sebut dukungan Moskow terhadap pemberontak separatis di Ukraina timur, kata para saksi mata. Kerumunan lebih dari 100 orang sebagian besar pemuda, banyak dari mereka dengan wajah ditutupi, mengangkat spanduk dengan slogan-slogan seperti "Pulang Rusia". Para demonstran kemudian menjungkir-balikkan beberapa mobil, termasuk beberapa yang tampaknya milik kedutaan, dan merusak gerbang logam tetapi polisi tidak melakukan intervensi. Demikian diberitakan AFP. Ukraina menuduh Rusia, yang mencaplok wilayah Krimea dari Ukraina pada Maret, mendukung pemberontakan di daerah timur yang penduduknya berbahasa Rusia dan Amerika Serikat telah menuduh Moskow menyediakan para pemberontak dengan tank-tank. Sementara pihak Rusia membantah tuduhan itu. Protes dilakukan setelah kematian 49 prajurit Ukraina di atas pesawat angkut militer yang ditembak jatuh oleh kelompok separatis pada Sabtu dini hari.Amerika Serikat mengutuk serangan terhadap Kedutaan Besar Rusia di Kiev itu, Sabtu, dan menyerukan Ukraina untuk memberikan keamanan yang memadai bagi misi diplomatik. Reaksi AS itu datang setelah orang banyak terbakar oleh jatuhnya pesawat angkut militer Ukraina, merobohkan bendera di kedutaan dan menjungkir-balik kendaraan-kendaraan saat belasan polisi datang."Amerika Serikat mengutuk serangan terhadap Kedutaan Besar Rusia di Kiev, dan menyerukan kepada pihak berwenang Ukraina untuk memenuhi kewajiban Konvensi Wina guna memberikan keamanan yang memadai," kata juru bicara Departemen Luar Negeri, Jen Psaki.Menteri Luar Negeri AS John Kerry, sementara itu, melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Perdana Menteri Ukraina Arseniy Yatsenyuk, dan menyampaikan belasungkawa untuk 49 tentara yang tewas Sabtu ketika pemberontak pro-Rusia menembak jatuh pesawat angkut Il-76 dekat bandara yang melayani kota Lugansk, kata seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri.Kerry juga melakukan percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, menyuarakan "kekhawatiran kuat" AS tentang pengangkutan senjata berat dan gerilyawan melintasi perbatasan Rusia ke timur Ukraina, dan juga jatuhnya pesawat transportasi."Dia mendesak Menteri Luar Negeri Lavrov untuk membuat komitmen yang jelas Rusia bagi peredaan dan perdamaian dengan mengakhiri aliran senjata dan dukungan kepada kaum separatis, dan secara aktif bekerja sama dengan Ukraina untuk gencatan senjata, amnesti, dan dialog politik," kata pejabat itu. (AFP/Ant/d)Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.


Tag:

Berita Terkait

Luar Negeri

New START Berakhir, AS dan Rusia Bebas Tambah Hulu Ledak Nuklir ?

Luar Negeri

Jadi Tentara Bayaran Rusia, Personel Brimob Polda Aceh Dipecat

Luar Negeri

AS Sita Kapal Tanker Minyak Rusia di Atlantik Utara Usai Pengejaran, Picu Ketegangan dengan Moskow

Luar Negeri

Harga Emas Dunia Tembus Rp2,2 Juta per Gram, Dipicu Ketegangan AS-China dan Konflik Rusia-Ukraina

Luar Negeri

Polres Sergai Tangkap Empat Tersangka Penganiayaan, Senjata Api Pabrikan Rusia dan Narkotika Turut Diamankan

Luar Negeri

Bupati Sergai Harap Apdesi Jadi Motor Penggerak Pembangunan Desa