Cabut Sejumlah Sanksi, Korsel Peringatkan Jepang

- Jumat, 04 Juli 2014 11:51 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2014/07/hariansib_-Cabut-Sejumlah-Sanksi--Korsel-Peringatkan-Jepang-.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
SIB/AP Photo/Kim Hong-ji, Pool
Presiden Tiongkok Xi Jinping (kanan) didampingi Presiden Korsel Park Geun-hye menyapa anak-anak dalam upacara penyambutan tamu negara di Gedung Biru Kepresidenan, Kamis (3/7). Keduanya diperkirakan akan membicarakan kekhawatiran atas program nuklir dan ru
Seoul (SIB)- Korea Selatan memperingatkan Jepang, Kamis (3/7), terkait langkah Jepang yang dinilai merongrong upaya untuk memaksa Korea Utara meninggalkan senjata nuklirnya, setelah Tokyo mengumumkan pencabutan sejumlah sanksi tertentu terhadap Pyongyang.Dalam sebuah pernyataan, kementerian luar negeri Korea Selatan mengatakan pihaknya mengakui sifat "kemanusiaan" dari perhatian Jepang atas isu penculikan itu. Namun pihaknya juga menekankan, setiap diskusi antara Jepang dan Korea Utara terkait isu-isu yang tertunda, termasuk pencabutan sanksi, harus dilakukan secara "transparan". "Dan setiap kebijakan yang diambil pemerintah Jepang tidak boleh menyakiti koordinasi internasional antara Korea Selatan, Amerika Serikat dan Jepang atas program nuklir dan rudal Korea Utara," tambah pernyataan itu.Amerika Serikat dan dua sekutu militer utamanya di Asia secara umum berada dalam satu front terkait isu nuklir Korea Utara. Tetapi sebuah keretakan yang kian mendalam antara Seoul dan Tokyo, terkait sengketa yang bersumber pasa masa Perang Dunia II dan penjajahan Jepang atas Semenanjung Korea, telah membuat aliansi itu terlihat semakin rapuh. Para pejabat Korea Selatan mengatakan, Pyongyang menggunakan isu penculikan untuk mengeksploitasi kerapuhan itu.Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengatakan, sejumlah sanksi sepihak akan dicabut setelah ada kemajuan dalam pembicaraan dengan Korut terkait penculikan warga Jepang pada masa Perang Dingin. Abe mengatakan Tokyo menilai Pyongyang --yang berjanji untuk melakukan penyelidikan ulang atas menghilangnya sebagian warga Jepang -- menunjukkan niat baik untuk memecahkan perseteruan yang sudah terjadi puluhan tahun, dan ini memerlukan timbal balik."Kami mencapai suatu kesimpulan bahwa suatu skema yang belum pernah terjadi dapat mengarah pada keputusan nasional. Sejalan dengan prinsip-prinsip dasar untuk melakukan tindakan, kami akan mencabut sebagian sanksi yang diberikan Jepang," kata Abe kepada wartawan.Langkah tersebut dicapai setelah kedua belah pihak melakukan pertemuan di Beijing untuk membahas nasib puluhan bahkan mungkin ratusan warga Jepang yang konon diculik oleh agen rahasia Korea Utara untuk melatih mereka berbicara bahasa Jepang dan mempelajari budaya Jepang, antara tahun 1970-an hingga 1980-an."Pandangan kami adalah menyelesaikan secara menyeluruh masalah penculikan, sedangkan masalah nuklir dan senjata sama sekali tidak berubah," kata Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga kepada wartawan. "Tentu saja kami akan berkoordinasi dengan Amerika Serikat dan Korea Selatan mengenai masalah-masalah tersebut," tegas Suga.Tokyo berencana mencabut larangan masuk warga Korea Utara ke Jepang, meniadakan keharusan membayar 100.000 yen (seribu dolar AS) tunai dan mengakhiri larangan bagi sejumlah kapal Korea Utara untuk memasuki pelabuhan-pelabuhan Jepang, demikian pernyataan pemerintah.Kabinet Abe secara resmi akan mencabut sanksi pada Jumat sesuai rencana Korea Utara untuk mulai membentuk Komite Penyelidik di Pyongyang, kata Suga. " Korea Utara tampak menunjukkan kesungguhannya, dan Jepang menanggapinya dengan masuk akal, " kata Satoru Miyamoto, seorang pakar Korea Utara di Universitas Seigakuin, di Saitama, sebelah utara Tokyo."Namun ini baru awal mengingat tidak ada seorang pun yang tahu hasilnya akan seperti apa," kata Miyamoto. "Perdana Menteri Abe telah bertaruh dan mulai sekarang harus mengambil keputusan politik yang keras," katanya. Jepang dan Korea Utara tidak memiliki hubungan diplomatik sedangkan hubungan kedua negara sudah lama berlangsung dalam keadaan saling mudah tersinggung. (Ant/AFP/ r)


Tag:

Berita Terkait

Luar Negeri

HKBP Paparkan Capaian Strategis 2026

Luar Negeri

Ratusan Massa Berbagai Kelompok Masyarakat Unjuk Rasa di Basecamp PT Gruti dan PT Teluk Nauli

Luar Negeri

Kuatir Berganti Nama Pasca Pencabutan Izin PBPH PT TPL, Ini Respon Agresu

Luar Negeri

Optimalkan Terminal Tanjung Pinggir, Pemko Pematangsiantar Siapkan Sanksi Tegas hingga Cabut Izin PO Bandel

Luar Negeri

Ephorus HKBP–GOKESU Apresiasi Presiden, Desak Pemulihan Ekologis Pasca Pencabutan Izin PT TPL

Luar Negeri

Ebenejer Sitorus Apresiasi Menhut Cabut 22 Izin PBPH di Sumut dan Aceh