Baghdad (SIB)- Situasi politik di Irak semakin rumit setelah presiden regional Kurdi, Massoud Barzani, Kamis (3/7), meminta parlemen wilayah otonomi Kurdi menetapkan tanggal referendum kemerdekaan dari Irak. Farhad Sofi, anggota dari Partai Demokratik Kurdistan (KDP), mengatakan bahwa Barzani juga meminta parlemen untuk membentuk sebuah komisi pemilihan independen yang akan digelar dan memastikan masa depan wilayah itu.Sementara itu, sejumlah anggota parlemen mengatakan Presiden Barzani tidak memberikan jadwal kerja komite yang diusulkan pembentukannya itu dalam merencanakan gelaran referendum. Niat menggelar referendum itu muncul karena para pemimpin Kurdi menuding PM Nuri al-Maliki sebagai biang ketidakstabilan di Irak."Kami sudah memperingatkan Maliki enam bulan lalu tentang kemungkinan yang terjadi sekarang ini. Namun dia tak mendengarkan dan kini dia menerima konsekuensinya," kata Barzani di hadapan parlemen. "Apa yang kita lihat saat ini adalah buah kegagalan kebijakan Maliki di Irak," tambah Barzani sambil menambahkan pasukan Peshmerga tak akan meninggalkan wilayah yang direbut bulan lalu.Pasukan Peshmerga bergerak untuk merebut kota Kirkuk dan wilayah sengketa lain di provinsi Nineveh dan Diyala, setelah pasukan pemerintah Irak takluk dalam serangan kilat yang dipimpin ISIS bulan lalu. Kirkuk dan beberapa kawasan lain memiliki populasi campuran Arab dan Kurdi yang signifikan. Nasib etnis Kurdi sebenarnya ditentukan dalam pasal 40 konstitusi Irak yang menyebutkan referendum. Namun, referendum itu tak pernah terjadi di Irak.Namun Pemerintah AS menentang seruan tersebut, dengan menyatakan Irak hanya bisa mengusir kelompok radikal yang menyebut dirinya Negara Islam Irak dan Suriah (atau ISIS) jika tetap bersatu. "Faktanya adalah kami tetap percaya bahwa Irak lebih kuat jika bersatu," kata juru bicara Gedung Putih Josh Earnest. "Itulah sebabnya Amerika Serikat terus mendukung Irak yang demokratis, pluralistik dan bersatu, dan kami akan terus mendesak semua pihak di Irak untuk terus bekerja bersama menuju tujuan tersebut."Wakil Presiden AS Joe Biden kemudian bertemu kepala staf Barzani, yaitu Fuad Hussein di Gedung Putih, dan mengatakan kepada delegasi Kurdi itu tentang "pentingnya pembentukan pemerintahan baru di Irak yang akan bekerja sama dengan semua masyarakat" demi memerangi ISIS, kata pernyataan Gedung Putih.Biden juga berbicara tentang derita Irak dalam pembicaraan telepon dengan Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan. Pembicaraan dengan Erdogan itu merupakan bagian dari upaya Washington membangun dukungan di kalangan pemain utama di wilayah itu untuk membentuk pemerintahan bersama Irak.Warga Irak Berjuang KerasMengungsi dari serbuan militan Sunni di tempat tinggal mereka, banyak warga Irak yang kini harus berjuang keras untuk tetap berpuasa di pengungsian. Cuaca terik di tengah musim panas yang melanda Irak dan kekurangan pangan serta air, kian mempersulit perjuangan mereka.Salah satunya Iyad Nafia Shiet yang kabur dari Mosul, bulan lalu dan kini mengungsi di kamp yang juga dipenuhi dengan warga setempat. Di kamp tersebut, pria berusia 35 tahun ini kekurangan pangan, air dan juga listrik."Kebanyakan orang di sini tidak bisa berpuasa -- tidak ada air dingin untuk suhoor," ucap ayah dari 5 anak ini. Shiet merujuk pada aktivitas sahur dan buka puasa di kamp, yang hanya bisa dilakukan dengan air panas atau air hangat saja sehingga semakin menambah dahaga mereka."Kami tidak tahu apa yang harus dilakukan," tutur pria yang sebelumnya bekerja sebagai pekerja konstruksi ini. Sudah seminggu lebih Shiet dan keluarganya berada di kamp pengungsian Al-Khazar. Selama itu juga dia menderita karena kekurangan air dingin dan es di tengah musim panas yang sangat terik.Tidak adanya aliran listrik berarti tenda pengungsian bagaikan dibakar matahari di tengah cuaca terik. Jika sebelum Ramadan para pengungsi mendapatkan makanan sebanyak dua kali, yakni saat makan siang dan makan malam, maka kini mereka hanya mendapat satu kali makanan pada malam hari, untuk berbuka puasa. "Bagaimana bisa kami berpuasa?" tanya Shiet yang menghabiskan waktunya dengan mendengarkan ayat Alquran dari telepon genggamnya.Penderitaan yang sama juga dialami pengungsi lainnya, yakni Mohamemd Hamed Jumaa yang mengungsi bersama istri dan keenam anaknya. Terlihat handuk basah melingkar di kepalanya. "Satu hari rasanya bagaikan satu tahun," keluh pria berusia 41 tahun ini. "Karena kami tidak bisa tidur dari pukul 06.00 hingga pukul 18.00 waktu setempat, karena panas," imbuhnya. "Kamp ini sangat panas, dan kami tidak memiliki pendingin udara untuk mendinginkan tenda. Atmosfernya sangat berdebu, dan puasa sangatlah sulit. Namun demikian, kami tetap berpuasa," tandas Jumaa.Sekitar 1,2 juta orang mengungsi dari rumah masing-masing akibat serangkaian kekerasan yang dilakukan militan Sunni yang tergabung dalam Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL). Sebagian besar mengungsi ke kamp-kamp pengungsian yang ada di sekitar wilayah Irak yang belum dikuasai oleh militan. (Detikcom/d)