Pemimpin Militan Sunni Tampil di Publik

- Senin, 07 Juli 2014 12:53 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2014/07/hariansib_Pemimpin-Militan-Sunni-Tampil-di-Publik.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Baghdad (SIB)- Untuk pertama kalinya, pemimpin Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) atau yang juga disebut ISIL muncul di hadapan publik. Kemunculan Abu Bakr al-Baghdadi yang tengah berkhotbah ini terlihat dalam sebuah video yang dirilis di Internet, Sabtu, (5/7).“Saya pemimpin kalian, meskipun saya bukan yang terbaik untuk kalian. Jika kalian melihat saya benar, dukunglah saya. Dan jika kalian melihat saya salah, nasihatilah saya,” kata Baghdadi dalam video berdurasi 20 menit itu, seperti dikutip BBC.Video yang muncul di tengah laporan yang menyebutkan Baghdadi telah tewas atau terluka dalam serangan di Irak ini diduga diambil pada Jumat, 4 Juli 2014, di Masjid Al-Nouri di Kota Mosul, utara Irak, yang telah dikuasai ISIS. Kepada Reuters, tiga saksi mata menuturkan bahwa pria berjanggut dengan jubah dan sorban hitam yang mengaku sebagai Baghdadi ini memasuki masjid dengan diapit oleh pria bersenjata yang mengenakan seragam yang juga dikenakan militan Negara Islam. “Kami menahan napas karena takut dan terkejut,” kata seorang saksi mata yang tak mau disebutkan namanya demi alasan keamanan. Memang, sebelum mulai berkhotbah, salah satu pria bersenjata meminta semua orang yang menghadiri salat Jumat itu untuk tidak menggunakan ponsel mereka guna mengambil foto atau video.Adapun pemerintah Irak menyebutkan bahwa video ini tidak kredibel. “Kami telah menganalisis rekaman dan menemukan bahwa itu adalah sebuah lelucon,” kata juru bicara Kementerian Dalam Negeri, Saad Maan. Ia malah mengklaim bahwa Baghdadi kini terluka akibat serangan udara dan tengah dalam perawatan medis ISIS.Seemntara pemimpin senior militer AS mengatakan militan Sunni yang terus mendekati Baghdad tidak memiliki cukup tentara dan pasukan keamanan Irak bisa melindungi ibukota jika diserang. Para pejabat Amerika mengatakan, Amerika belum akan memberikan bantuan untuk melawan  ISIS.Serangan terjadi cepat dan luar biasa - militan yang berjuang di bawah panji-panji ISIS merebut kota demi kota di Irak utara. Kini, mereka menghadapi lebih banyak perlawanan di tempat-tempat lain seperti Tikrit. Jenderal tertinggi AS Martin Dempsey mengatakan tampaknya jangkauan mereka mulai melemah.“Pasukan ISIS semakin tipis, kesulitan mengendalikan kawasan-kawasan yang mereka rebut, dan kesulitan mengatur jalur-jalur logistik serta komunikasinya,” kata Jenderal Dempsey. Ini memberi waktu pasukan keamanan Irak untuk lebih bersiap. “Pasukan Keamanan Irak (ISF) menguat, mereka mampu mempertahankan Baghdad, tapi mereka akan kesulitan untuk menyerang, terutama karena kesulitan logistic,” lanjut Dempsey.Tetapi meskipun Irak menggunakan pesawat dari Rusia dan Iran untuk memperluas perlawanannya terhadap ISIS, pejabat-pejabat Irak kecewa bantuan dari AS belum kunjung tiba, walaupun hampir 200 penasihat militer telah datang dan kapal-kapal AS mengawasi dari Teluk Persia.Analis Jessica Lewis dari Institute Study of War mengatakan mungkin ada alasan untuk khawatir, bahkan tentang nasib kota Baghdad. ”Menurut saya sangat mungkin ISIS melakukan serangan di tempat-tempat yang jauh, untuk mengalihkan perhatian atau memancing pasukan Irak sehingga ibukota Baghdad menjadi lebih rentan,” kata Jessica Lewis.Tindakan AS baru-baru ini juga menunjukkan kekhawatiran meningkat di Washington – dengan mengirim pasukan tambahan ke Irak untuk mengamankan kedutaan Amerika dan bandara, yang didukung helikopter serbu Apache.Menteri Pertahanan AS Chuck Hagel mengatakan, “Kami membantu para diplomat Amerika dalam bekerja sama dengan pemimpin politik Sunni, Kurdi, dan Syiah yang sedang berusaha membentuk pemerintahan persatuan nasional yang inklusif.” Para pejabat militer AS berkeras pemerintahan yang inklusif adalah cara yang paling efektif bagi Irak untuk menghadapi kebrutalan ISIS. Kata mereka tanpa kemajuan politik, "masa depan Irak cukup suram." (VoA)


Tag:

Berita Terkait

Luar Negeri

HN Serta Ginting: Pemilu dan Pilkada Harus Ditata Ulang Kurangi “Cost” Politik Jor-joran

Luar Negeri

Ahmad Doli Pimpin Rapat Perdana Masa Transisi Kepemimpinan Jelang Musda Golkar Sumut

Luar Negeri

Indonesia Angkat Praktik Terbaik Pemberdayaan Perempuan di G20 Empower Summit

Luar Negeri

Wali Kota Muslim Pertama New York: Zohran Mamdani Raih Sejarah

Luar Negeri

Darma Wijaya Satu-satunya Kepala Daerah di Sumut Ikuti KPPD Lemhannas RI

Luar Negeri

‘Prabowo for Global Peace’, Saat Dunia Mengakui Mengangumi Pemimpin Dari Indonesia