AS Tolak Bantu Pemulihan Suriah Selama Iran Masih Bercokol

- Jumat, 12 Oktober 2018 16:21 WIB

Washington DC (SIB) -Amerika Serikat (AS) menyatakan penolakan upaya pemulihan di Suriah selama Iran masih menunjukkan keberadaannya di sana. Pernyataan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo di lembaga pro-Israel, seperti diberitakan AFP Kamis (11/10). Di Institut Yahudi untuk Keamanan Nasional Amerika, Pompeo berjanji bakal mengambil pendekatan agresif guna membendung pengaruh Iran di Timur Tengah. 

"Mengusir Iran merupakan tanggung jawab pemerintah Suriah setelah mereka memutuskan mengundang mereka," terang Pompeo. "Jika Suriah tak bisa menjamin Iran maupun sekutunya keluar, maka mereka tidak akan menerima satu dollar pun untuk pembangunan," tukas Pompeo. 

Pada Agustus, Presiden Donald Trump menarik diri dari rencana pembangunan jangka pendek Suriah dengan total bantuan 230 juta dollar AS, atau Rp 3,5 triliun. Ucapan Pompeo itu memperluas penjelasan mengapa AS terlibat dalam perang sipil yang menurut sejumlah kelompok peninjau telah menewaskan 365.000 orang sejak 2011 itu. 

Mantan Presiden Barack Obama memerintahkan AS mengintervensi Suriah untuk menghancurkan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Washington menempatkan sekitar 2.000 pasukan di sana untuk melatih dan menjadi konsultan kelompok paramiliter yang memberontak terhadap Presiden Bashar al-Assad. Mantan Direktur Badan Intelijen Pusat (CIA) itu berujar, dia menyatakan Assad kini semakin kuat berkat dukungan Iran dan Rusia. Karena itu, selain mengalahkan ISIS, AS menambahkan dua misi lain. 

Resolusi politik damai di Suriah dan keluarnya pasukan Iran. "Iran melihat ketidakstabilan situasi di Suriah sebagai peluang emas untuk memperkuat pengaruh mereka di kawasan," terang Pompeo. Dia memperingatkan jika Teheran dibiarkan terus berada di Suriah, maka Israel yang merupakan rival utama bakal terancam. Adapun Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton menyatakan pasukan AS bakal tetap bertahan selama militer Iran berada di luar negara mereka. 

ISIS Serang Koalisi AS

Sementara itu, kelompok teroris ISIS disebut telah meluncurkan serangan balasan mematikan untuk mengusir pasukan yang didukung oleh Amerika Serikat. Serangan itu dilakukan demi memukul mundur pasukan koalisi AS yang terus melancarkan operasi untuk merebut provinsi Deir Ezzor, di timur Suriah, Rabu (10/10). Ini adalah salah satu zona yang masih dihuni ISIS di Suriah, selain Idlib yang ada di barat.

Kelompok pemantau Obeservatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan para pejuang ISIS berhasil menyandera puluhan personel pemberontak Syrian Democratic Forces (SDF) dalam serangan itu.

"Pada hari Rabu ISIS meluncurkan serangan balik terhadap SDF di sekitar Hajin dan kota-kota di sekitarnya. "Bentrokan kemudian pecah dan masih berlangsung," ucap kepala obeservatorium tersebut, Rami Abdel Rahman, Kamis (11/10).

SDF, aliansi kurdi dan Arab, memang telah melancarkan operasi selama sebulan terakhir untuk mengusir ISIS dari daerah di Provinsi Deir Ezzor, termasuk kota terpencil Hajin. Operasi tersebut turut didukung serangan udara koalisi militer AS. Rahman mengatakan sejauh ini ISIS telah membunuh 10 pejuang SDF dan menyandera 35 lainnya.

Obeservatorium menurutkan ISIS memanfaatkan faktor cuaca seperti badai pasir untuk melakukan serangannya terhadap SDF.  Sebab, badai pasir membuat pesawat militer AS tidak mampu beroperasi membantu meluncurkan serangan balasan. 

Meski begitu, SDF membantah bahwa ada pasukannya yang diculik saat serangan terjadi. "Tidak ada pejuang SDF yang ditangkap ISIS di Deir Ezor. Informasi tersebut tidak benar," ucap pejabat media SDF Mustefa Bali kepada AFP. Sementara itu, ISIS menggambarkan serangan pada Rabu tersebut sebagai serangan "yang dilakukan para pejuang kekhalifahannya terhadap SDF." Pernyataan itu diutarakan ISIS melalui media sosial propagandanya.

Berdasarkan data observatorium, selama sebulan terakhir pertempuran di Hajin telah menewaskan setidaknya 139 pejuang SDF dan 267 militan ISIS. SDF telah berhasil mengusir ISIS dari sejumlah daerah di utara dan timur Suriah, termasuk Raqqa, ibu kota de facto kelompok pimpinan Abu Bakar Al-Baghdadi itu.

Terbentuk pada 2015 lalu, SDF dipelopori oleh Unit Perlindungan Rakyat (YPG), sebuah gerakan bersenjata Kurdi yang kuat. Ratusan pejuang dari negara asing banyak yang bergabung dengan YPG untuk memberangus ISIS. (AFP/kps/d)


Tag:

Berita Terkait

Luar Negeri

DPN Rudi Ardian Nainggolan Kukuhkan Pengurus PGPI Pembaharuan Sumut

Luar Negeri

Sekolah Primbana Medan Siap Terima Siswa Baru TA 2026/2027 Mulai SD, SMP dan SMA

Luar Negeri

Ratusan Kepala Daerah Terima Penghargaan di UHC Awards 2026

Luar Negeri

Wujud Nyata Jamin Kesehatan Masyarakat, Bupati Batubara Terima Penghargaan UHC Pratama

Luar Negeri

UNITA Raih Anugerah SPMI 2025 dari LLDIKTI Wilayah I Sumut

Luar Negeri

Dana BOS Rp870 Juta di SMPN 1 Idanogawo Disorot, Aktivis Minta Kejari Telusuri