Tokyo (SIB)- Hujan super lebat melanda sebagian besar wilayah Jepang, ketika topan Neoguri mendekati wilayah pusat negara ini. Topan ini membuat sejumlah sungai meluap dan berpotensi memicu tanah longsor. Sejauh ini sudah 3 orang yang tewas akibat topan ini.Seperti dilansir Reuters, Kamis (10/7), meski telah diturunkan statusnya dari topan super menjadi topan tropis, topan Neoguri tetap memberikan ancaman. Kini, sebagian besar wilayah pantai barat Pulau Kyushu, yang terletak paling selatan, merasakan hebatnya terjangan topan ini.Dilaporkan topan ini bergerak dengan kecepatan mencapai 126 kilometer per jam. Dengan disertai hujan deras dan angin kencang, tentu sangat mengganggu aktivitas warga setempat. Topan Neoguri memicu pembatalan ratusan jadwal penerbangan, serta mengganggu operasional kereta api dan memaksa penutupan sejumlah sekolah.Hujan lebat yang melanda akibat topan ini, berpotensi memicu banjir di sejumlah wilayah. Tanah longsor terpantau terjadi di wilayah pegunungan Nagiso, Jepang pada Rabu (9/7) tengah malam. Nahas, seorang bocah laki-laki berusia 12 tahun tewas akibat tanah longsor ini. "Awalnya saya pikir ada gempa bumi, kemudian rumah mulai dipenuhi lumpur. Saya berpegangan pada tiang dengan seluruh kekuatan saya," tutur seorang warga Nagiso kepada televisi nasional NHK.Dilaporkan sekitar 50 orang luka-luka akibat topan Neoguri ini. Sedangkan dua korban tewas lainnya, yakni seorang pria 62 tahun yang tewas setelah terjatuh dari perahunya yang diterjang gelombang besar di Prefektur Kochi, Shikoku, dan seorang nelayan berusia 81 tahun di Prefektur Kumamoto, Pulau Kyushu.Laporan badan prakiraan cuaca setempat menyebutkan, pagi ini topan Neoguri berada di lokasi sejauh 70 kilometer timur laut kota Miyazaki, Kyushu. Topan ini bergerak ke arah timur dengan kecepatan 30 kilometer per jam, dengan kecepatan angin hingga 90 kilometer per jam."Kemungkinan munculnya angin ribut semakin menipis, tapi hujan masih menjadi kekhawatiran di sejumlah wilayah. Ada sejumlah wilayah yang mungkin dilanda hujan lebih deras untuk waktu 24 jam ke depan," terang seorang pejabat dari Japan Meteorological Agency (JMA). (Detikcom/ r)