RIYADH (SIB) -Setelah hampir satu tahun ditahan oleh otoritas Arab Saudi, Pangeran Khaled bin Talal, saudara laki-laki dari miliarder Alwaleed bin Talal akhirnya dibebaskan. Dilansir Middle East Monitor dari Al-Quds Al-Arabi, mengutip sumber, Khaled bin Talal yang ditahan sejak Januari 2018 dibebaskan pada Jumat (2/11) lalu. Dia juga telah diizinkan bertemu dengan kerabatnya, termasuk Alwaleed, yang sebelumnya dilarang.
Tidak seperti pangeran Saudi lainnya yang ditangkap atas tuduhan korupsi, Pangeran Khaled ditahan karena mengkritik kebijakan Putra Mahkota Mohammed bin Salman yang menangkap para pangeran dan pengusaha tanpa membawa mereka ke pengadilan.
Pemerintah Saudi menyebut penangkapan para pangeran tersebut sebagai langkah penumpasan korupsi, namun para kritikus menyebutnya sebagai upaya Putra Mahkota untuk menyingkirkan para pesaingnya sebagai pewaris takhta dan mengkonsolidasikan kekuasaannya.
Selain Khaled, saudaranya, miliarder Alwaleed bin Talal telah lebih dulu dibebaskan pada awal Januari lalu, diyakini setelah mencapai kesepakatan dengan Putra Mahkota. Kabar dibebaskannya Khaled juga telah dikonfirmasi sejumlah kerabat melalui media sosial Twitter, dengan membagikan foto-foto Pangeran Khaled. "Terima kasih Tuhan atas keselamatanmu," tulis keponakannya, Putri Reem binti Alwaleed, dengan mengunggah foto Khaled sedang memeluk putranya yang telah koma selama bertahun-tahun dan juga sanak keluarga lainnya.
Pembebasan Pangeran Khaled datang di tengah desakan masyarakat terhadap Kerajaan Saudi atas kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi. Belum ada penjelasan resmi dari pihak kerajaan atas dibebaskannya Pangeran Khaled.
Pembebasan itu juga dilakukan sehari setelah Adik Raja Salman, Pangeran Ahmed bin Abdulaziz al-Saud, dikabarkan kembali ke Arab Saudi pada Kamis (1/11) setelah dua setengah bulan berada di luar negeri, demikian menurut sejumlah laporan sebagaimana diberitakan oleh media Barat. Kepulangan Pangeran Ahmed terjadi di tengah krisis isu kematian Jamal Khashoggi yang mengguncang pemerintahan Arab Saudi dan lingkaran kepemimpinan monarki --di mana keluarga kerajaan Saudi menghadapi tekanan hebat untuk memperjelas keadaan seputar kematian jurnalis pengkritik Negeri Petrodollar itu.
The New York Times, Reuters dan Financial Times melaporkan bahwa kembalinya Pangeran Ahmed ke Saudi telah memicu spekulasi tentang perannya dalam upaya manajemen krisis kerajaan menyusul kecaman internasional atas pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi, demikian seperti dikutip dari CNN, Jumat (2/11).
Sumber yang berbicara kepada CNN tidak menjelaskan alasan dan signifikansi kembalinya Pangeran Ahmed atau jika dia memang mencari jaminan untuk keselamatannya setelah menghabiskan waktu di luar negeri. Pangeran Ahmed menjabat sebagai deputi menteri dalam negeri selama beberapa dekade sebelum secara singkat mengambil peran menteri dalam negeri pada tahun 2012.
Dugaan Tentang Keretakan
Pada bulan September 2018, dugaan tentang keretakan di dalam keluarga kerajaan muncul setelah Pangeran Ahmed tertangkap kamera menjauhkan diri dari keluarga kerajaan ketika berbicara dengan para pengunjuk rasa anti-Saudi di London.
Menanggapi kerumunan demonstran yang dilaporkan marah atas keterlibatan kerajaan dalam konflik Yaman yang sedang berlangsung, Pangeran Ahmed tampaknya mengatakan seluruh keluarga Al-Saud tidak dapat disalahkan atas kekerasan di Yaman, hanya saudaranya (Raja Salman) dan keponakannya (Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman).
Namun, dalam pernyataan singkat melalui Agen Pers Saudi yang dikelola pemerintah, ia kemudian mengklarifikasi pernyataannya dengan mengatakan bahwa "raja dan putra mahkota bertanggung jawab atas negara dan keputusannya." "Termasuk untuk keamanan dan stabilitas negara dan rakyat. Oleh karena itu, tidak mungkin untuk menafsirkan apa yang saya katakan dengan cara lain," kata pernyataan itu.
Meskipun tidak jelas apakah kepulangan pangeran akan mengubah kepemimpinan monarki, Gregory Gause, seorang ahli Saudi di Texas A&M University, mengatakan bahwa hal itu menunjukkan keluarga kerajaan Saudi mungkin mencoba untuk secara internal merestrukturisasi dinasti.
"Saya tidak berpikir bahwa Pangeran Ahmed memiliki profil yang akan membuatnya menjadi penantang serius untuk posisi teratas, tetapi, dia adalah salah satu anggota paling senior dari keluarga Saud yang memiliki pengalaman politik," Gause mengatakan kepada CNN. "Dia selalu menjadi orang ke-dua di hampir semua pemerintahan Saudi ... dan ia senior," lanjut Gause yang menganalisis bahwa Pangeran Ahmed mungkin akan segera menempati posisi pengambilan keputusan yang penting di kerajaan. "Kembalinya Pangeran Ahmed akan konsisten dengan manuver semacam itu," Gause mengatakan.
Gause juga menambahkan bahwa kembalinya Pangeran Ahmed menunjukkan bahwa Keluarga Saud memahami bahwa kasus pembunuhan Jamal Khashoggi "telah mengubah iklim politik, sehingga mereka harus melakukan sesuatu (yang signifikan, dengan memanggil pulang Pangeran Ahmed) demi mempertahankan apa yang sedang mereka kerjakan saat ini."
Sementara itu, beberapa pekan lalu, adik kandung Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS); Pangeran Khalid bin Salman (KBS), meninggalkan posisinya sebagai Dubes Saudi untuk AS dengan terbang ke Riyadh, menurut laporan the New York Times pada 16 Oktober 2018.
Surat kabar itu menambahkan bahwa KBS tidak akan kembali ke AS sebagai utusan Saudi. Belum jelas siapa yang akan menggantikan KBS untuk posisi Dubes Saudi untuk AS yang ditinggalkannya.
Pada saat yang sama dengan kepulangan Pangeran Khalid, surat kabar Prancis Le Figaro, dengan mengutip sumber diplomatik di Paris, melaporkan bahwa Dewan Suksesi Kerajaan Arab Saudi (Allegiance Council) "telah mengadakan pertemuan rahasia untuk membahas kasus Jamal Khashoggi yang tewas di Konsulat Saudi di Istanbul atas perintah MBS," Le Figaro melaporkan pada 18 Oktober, seperti dikutip dari media Iran Press TV, Senin 22 Oktober 2018.
"Allegiance Council, yang menunjuk Pangeran bin Salman sebagai putra mahkota baru tahun lalu dengan melanggar aturan-aturan umum suksesi, sekarang berencana untuk menunjuk Pangeran Khalid bin Salman, Duta Besar Saudi untuk Amerika Serikat, sebagai deputi putra mahkota," lanjut Press TV mengutip Le Figaro.
Menurut laporan itu, KBS, yang populer baik di dalam maupun di luar negeri, secara bertahap akan mengambil alih saudaranya dan menggantikannya pada hari-hari kemudian.
Tapi, laporan dari CBS News menyatakan hal sebaliknya. Media itu melaporkan, "Kementerian Luar Negeri AS memahami bahwa KBS akan kembali mengisi posisinya sebagai Dubes Saudi untuk AS," demikian seperti dikutip dari Newsweek. Kendati demikian, berbagai kabar itu, belum terkonfirmasi dan diumumkan secara resmi oleh pejabat berwenang. (Middle East Monitor/CNN/deticom/lip6.com/f)