Pertumbuhan Populasi hingga Perubahan Iklim Jadi ‟Kambing Hitam‟ Kebakaran California

* Korban Hilang Tembus 1.000 Orang, Tewas 71 Orang
- Minggu, 18 November 2018 13:19 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/photo/dir112018/hariansib_Pertumbuhan-Populasi-hingga-Perubahan-Iklim-Jadi---8223-Kambing-Hitam--8223--Kebakaran-California.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
SIB/Liputan6
Sejumlah tenda terpasang di kamp pengungsian di sebuah lapangan di samping tempat parkir Walmart, California, Jumat (16/11). Kebakaran hutan dan lahan yang melanda California telah menewaskan 71 orang dan lebih dari 1.000 lainnya dilaporkan hilang.

California (SIB) -Tim penyelamat mempercepat proses pencarian ketika laporan orang hilang akibat kebakaran di California, Amerika Serikat, menembus angka 1.000 menjelang akhir pekan ini. Kepala kepolisian wilayah Butte, Korya Honea, mengatakan bahwa angka orang hilang hingga Jumat (16/11) tercatat sebanyak 1.011 meningkat drastis dari laporan sebelumnya yang hanya 630.

"Daftar ini sangat dinamis," ujar Honea yang kemudian mengatakan bahwa data ini masih mentah dan ada kemungkinan satu nama tercatat lebih dari satu kali. Ia juga meminta para keluarga orang hilang itu tidak panik karena kerabat mereka tersebut belum tentu meninggal dunia.

Honea kemudian menjelaskan bahwa sebelumnya saja, 329 orang yang sempat dilaporkan hilang akhirnya ditemukan dalam kondisi hidup. Menurut Honea, nama-nama dalam daftar itu dihimpun dari laporan melalui hotline yang dibuka setelah kebakaran meluas pada pekan lalu.

Ia mengatakan bahwa kebanyakan orang dalam daftar itu kemungkinan besar selamat, tapi belum bisa menghubungi keluarga atau aparat karena jaringan telepon belum beroperasi dengan baik. "Saya rasa tidak layak kita duduk di sini dan berspekulasi mengenai masa depan," tutur Honea sebagaimana dikutip Reuters.

Honea juga melaporkan bahwa hingga akhir pekan ini, jumlah jasad korban yang sudah dievakuasi menembus angka 71. Warga yang selamat juga tak lantas dapat hidup tenang karena rumah mereka kebanyakan sudah rata dengan tanah.

Dengan laporan 9.800 rumah hancur akibat kebakaran, setidaknya 1.100 orang ditampung di berbagai tempat darurat, seperti gereja, sekolah, dan pusat-pusat komunitas lainnya. Sebagian lainnya memilih untuk menyewa satu tempat bersama sanak saudaranya atau mendirikan tenda di dekat kendaraan mereka. Begitu besar dampak yang ditimbulkan, bencana ini pun disebut-sebut sebagai kebakaran terparah sepanjang sejarah California. 

Sementara itu, warga yang terdampak kebakaran itu mengecam Presiden Donald Trump yang berkomentar melalui kicauannya di Twitter. Dalam kicauannya Sabtu pekan lalu, Trump menyalahkan buruknya manajemen departemen kehutanan sebagai biang jatuhnya banyak korban. Trump mengancam tidak akan memberikan dana kepada departemen jika mereka tidak segera berbenah. 

Pernyataan itu disesalkan Maggie Crowder dari Magalia. "Jika Anda menghina orang kemudian Anda mengunjungi mereka, bagaimana mereka bakal menerima Anda? Tentunya tidak akan ada parade," keluh Crowder. Sementara Stacy Lazzarino yang merupakan pendukung Trump berkata akan sangat baik jika sang presiden melihat langsung dampak dari kebakaran tersebut. "Mungkin setelah dia mengunjungi tempat ini dan mengatakan 'Ya Tuhan', itu lebih dari cukup bagi kami," ujar Lazzarino. Dua kebakaran, Camp dan Woolsey, menerjang kawasan utara dan selatan California pada pekan lalu, dan menghancurkan sejumlah kota. Antara lain kota Paradise berpopulasi 27.000 jiwa yang hancur karena Api Camp. Selain itu, kerusakan parah juga terjadi di Magalia dan Concow. 

Pertumbuhan Populasi

Kebakaran menghancurkan telah berkecamuk di beberapa bagian California, dan jumlah korban tewas hari Kamis (16/11) mencapai 71 orang, kata para pejabat. Para pakar menduga banyak penyebab kebakaran tersebut, mulai dari pertumbuhan populasi, kerusakan peralatan hingga perubahan iklim. Mereka menyatakan kebakaran maut itu mungkin menunjukkan bahwa hal yang lebih buruk akan terjadi.

Jennifer Balch, direktur Earth Lab di University of Colorado Boulder, mengatakan kebakaran di bagian barat Amerika semakin intensif. Ada peningkatan lima kali lipat dalam hal jumlah kebakaran besar sejak tahun 1970-an, jelas Balch. Jadi, setiap 20 kebakaran yang terjadi pada tahun 1970-an, jumlahnya sekarang ini mencapai 100 kebakaran. Kawasan yang terbakar juga berlipat dua, ujar Balch.

Perubahan iklim telah membawa suhu yang lebih hangat dan variasi ekstrem salju dan hujan, yang menyebabkan tahun-tahun kering dan basah, ujar Leroy Westerling, yang mengkaji kebakaran hutan dan iklim di University of California, Merced. Ia mengatakan variasi itu menimbulkan lebih banyak kebakaran.

Kebakaran yang menjalar cepat melalui semak-semak yang sangat kering juga dapat menimbulkan korban, ujar Westerling, seperti kebakaran serupa yang menghancurkan sebagian besar kota Paradise di bagian utara California.

Westerling mengatakan, musim kebakaran yang panjang di California kini terjadi hingga akhir musim gugur, sewaktu kondisi kering menunda jatuhnya hujan musim dingin, dan angin kencang mengobarkan api yang masih menyala.

Perpindahan populasi menyebabkan pula lebih banyak peluang api yang terpercik, dengan orang-orang berpindah ke tempat-tempat yang mudah terbakar dan mereka mendirikan rumah di jalur api, kata Balch. Ia mengatakan faktor manusia menyebabkan 84 persen kebakaran hutan, dan sambaran petir merupakan penyebab selebihnya.

Peralatan yang rusak serta kabel listrik yang roboh banyak menjadi penyebab kebakaran, dan pihak berwenang sedang berupaya menyelidiki apakah rusaknya peralatan dari perusahaan gas dan listrik yang memicu dua kebakaran besar di California. (CNNI/Okz/h)


Tag:

Berita Terkait

Luar Negeri

Pria yang Tewas di Sungai Lagunda Sergai Merupakan Korban Pembunuhan, Dua Pelaku Diringkus Polres Tebingtinggi

Luar Negeri

Safari Ramadan di Masjid Jamik Al Ikhlas, Zul Fahmi Ajak Perangkat Desa Bersatu Memakmurkan Masjid

Luar Negeri

Pemkab Simalungun Gelar Pasar Murah di 2 Kecamatan

Luar Negeri

Dua Terduga Pengedar Sabu Dibekuk di Pantai Cermin

Luar Negeri

Brimob Bersenjata Lengkap Kawal Evakuasi Alat Berat Tambang Emas Ilegal Tapsel–Madina ke Batalyon C Sipirok

Luar Negeri

Bawa 47 Butir Ekstasi, Dua Warga Kota Tanjungbalai Ditangkap di Aek Kanopan Timur