Agresi Israel Lumpuhkan Kehidupan di Jalur Gaza

* Gaza Memanas, AS dan Ausralia Evakuasi Warganya
- Senin, 14 Juli 2014 13:27 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2014/07/hariansib_Agresi-Israel-Lumpuhkan-Kehidupan-di-Jalur-Gaza.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
SIB/AP Photo/Hatem Moussa
Warga Palestina meninggalkan kediamannya sambil membawa barang-barang milik mereka menuju tempat perlindungan PBB di sebuah sekolah di Jalur Gaza, Minggu (13/7), menghindari serangan udara militer Israel yang sejauh ini telah menewaskan lebih 150 orang.
Jalur Gaza (SIB)- Walaupun Israel telah menghujani Jalur Gaza dengan bom, ketakutan akan terbunuh atau terluka tak menghentikan seorang ayah yang sedang berpuasa menyusuri jalanan yang lengang dan toko yang tutup untuk membeli makanan buat dua putranya.Ahmed Abu Shaban, yang berusia 45 tahun dan ayah lima anak, bernafas lega saat ia akhirnya menemukan toko yang setengah-buka. Ia membeli dua kaleng susu dan segera pulang melewati permukiman; tak ada kendaraan sementara semua toko di sana tutup. "Alhamdu Lillah! Akhirnya ada yang buka," kata Abu Shaban, seorang guru di satu sekolah dasar di Kota Gaza. "Saya tak peduli dengan nyawa saya, tapi saya benar-benar peduli dengan keluarga saya," kata Abu Shaban. Ia menambahkan, "Saya harus berlari dan bersama keluarga saya sesuatu yang buruk terjadi ... Mereka mengkhawatirkan saya."Selama tiga hari belakangan, jet tempur Israel telah melancarkan serangan udara sengit sepanjang waktu terhadap lokasi yang menjadi sasaran di Jalur Gaza, yang mereka percaya "digunakan untuk menembakkan roket dan amunisi ke dalam wilayah Israel". Sebanyak 1,8 juta warga Jalur Gaza tetap tinggal di dalam rumah kecuali ada keperluan mendesak, akibat serangan udara yang tak pernah berhenti dan kemungkinan operasi darat."Kehidupan benar-benar lumpuh," kata Abu Shaban, sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Jumat malam. "Jalanan lengang dan tak ada orang yang keluar rumah karena khawatir terbunuh atau terluka sementara televisi memperlihatkan bahwa Israel menyerang ke mana-mana secara semena-mena."Kementerian Dalam Negeri dalam pernyataannya mengatakan lebih dari 70 rumah dan sebanyak 15 bangunan pemerintah hancur akibat serangan udara Israel dalam tiga hari belakangan. Di jalan utama di Kota Gaza, hanya ada beberapa ambulans yang mondar-mandir untuk membawa korban jiwa sipil dan gerilyawan ke rumah sakit. Deru kendaraan tanpa awak dan suara ledakan besar yang menggetarkan dan mengguncang rumah di daerah kantung itu."Selain hilangnya nyawa dan rusaknya bangunan serta rumah, kehidupan yang lumpuh di Jalur Gaza mengakibatkan kerugian ekonomi parah, yang pada dasarnya bertambah buruk," kata Shadi Nasan, pemilik pasar mini di Jalur Gaza. Nasan mengatakan selama hari pertama agresi militer Israel ke Jalur Gaza, tokonya dipenuhi orang yang membeli makanan, "tapi dalam dua hari belakangan, kegiatan usaha sangat merosot".Sementara itu, Ashraf Al-Qedra, Juru Bicara Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza, mengatakan kepada Xinhua di Rumah Sakit Shiffa di Kota Gaza bahwa 88 orang Palestina tewas dan 660 orang lagi cedera selama tiga hari belakangan. "Sebanyak dua-pertiga korban adalah perempuan, anak-anak dan pria tua"."Kami menderita kekurangan parah 35 persen obat, perlengkapan medis dan layanan kesehaan buat pasien. Kami telah menghentikan operasi normal dan hanya memusatkan perhatian pada operasi korban yang cedera dalam serangan udara Israel," kata Al-Qedra. Buat banyak rakyat Jalur Gaza, yang paling mereka khawatirkan bukanlah serangan saat ini terutama terhadap sasaran Hamas, tapi operasi darat berskala besar dari Israel --yang mungkin segera dilancarkan. Evakuasi WarganyaSebanyak 300 warga Amerika Serikat (AS) akan segera dievakuasi dari wilayah Gaza ke tempat yang lebih aman. Pasalnya serangan Israel semakin meningkat dan kondisi Gaza semakin memanas.  Kedutaan Besar Australia di Tel Aviv, Israel, memerintahkan warga Australia di Gaza untuk segera meninggalkan lokasi konflik itu. Pihak kedutaan khawatir atas kekerasan yang terus meningkat di wilayah itu.Kedutaan Australia sedang mengatur kepindahan warga Australia dari Gaza. Pemerintah federal meminta warga Australia yang ingin meninggalkan Gaza untuk segera menghubungi Departemen Luar Negeri dan Perdagangan supaya prosesnya lebih cepat.Perintah itu datang dari Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop. Dalam sebuah pernyataan, Bishop menjelaskan bahwa dia sangat khawatir dan peduli atas situasi yang memburuk di wilayah Israel dan Palestina. "Perseteruan kedua belah pihak telah berakibat pada kematian warga sipil. Saya meminta semua pihak mengendalikan diri dan melakukan sesuatu yang perlu untuk menghindarkan kekerasan lebih lanjut," kata Bishop. Selain meminta warganya pindah, pemerintah Australia juga telah meningkatkan level travel warning ke area Gaza dan sekitarnya.(Ant/Xinhua/c)


Tag:

Berita Terkait

Luar Negeri

Patrick Kluivert Tegaskan Timnas Indonesia Tampil Agresif saat Lawan Bahrain

Luar Negeri

Mazda Siap Luncurkan Produksi Massal untuk Mobil Sport Iconic SP

Luar Negeri

1 Tahun Peringati Serangan Hamas dan Agresi Israel ke Palestina Tewaskan 41.870 Orang

Luar Negeri

Alasan Kanker Payudara Bisa Berubah Ganas dan Menyebar ke Organ Lain

Luar Negeri

PM Israel Tolak Gencatan Senjata

Luar Negeri

Paus: Hentikan Pembantaian di Ukraina