Jenewa (SIB)- Wilayah udara yang dilintasi pesawat Malaysia Airlines MH17 saat ditembak jatuh pada Kamis (17/7) kemarin bukan termasuk zona larang terbang. Namun, maskapai penerbangan sudah diperingatkan tentang potensi bahaya saat melintasi wilayah tersebut. Demikian lapor Daily Mail, Jumat (18/7).Asosiasi Transportasi Internasional (International Transport Association/ITA) menyatakan, sebuah penilaian awal mengungkapkan, wilayah udara yang dilintasi pesawat itu "tidak termasuk wilayah larang terbang". Pesawat Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH17 hilang kontak dengan menara kontrol ketika terbang di atas Ukraina timur. Pesawat itu kemudian diketahui jatuh dan diyakini telah ditembak oleh rudal darat ke udara. Sebanyak 298 orang di dalam pesawat itu, termasuk belasan warga Indonesia, tewas. Siapa yang menembakkan rudal itu hingga kini belum diketahui. ITA yang berbasis di Geneva menyatakan dalam sebuah pernyataan, "Berdasarkan informasi yang tersedia saat ini, diyakini bahwa wilayah udara yang dilintasi pesawat itu tidak termasuk zona larang terbang."Menurut laporan Daily Mail itu, pesawat jenis Boeing 777 itu terbang hanya 300 meter di atas wilayah udara larang terbang ketika ditembak jatuh. Pemerintah Ukraina telah melarang pesawat melintas hingga di ketinggian 32.000 kaki dari permukaan. Pesawat MH17 yang jatuh itu terbang di ketinggian jelajah 33.000 kaki. Namun, itu berarti, pesawat tersebut masih berada dalam jangkauan rudal darat ke udara. Ada spekulasi bahwa pesawat MH17 yang naas itu mengambil sebuah jalan pintas di atas wilayah konflik di Ukraina timur itu demi menghemat bahan bakar.Daily Mail melaporkan, saat kerabat para penumpang pesawat sedang berkumpul di bandara untuk mengetahui nasib orang-orang tercinta mereka, muncul kabar bahwa pesawat itu sudah dua kali diperingatkan terkait risiko terbang di atas daerah di mana dua pesawat militer Ukraina sudah ditembak jatuh dalam pekan ini.April lalu, Organisasi Penerbangan Sipil Internasional menyarankan para operator penerbangan untuk mempertimbangkan rute-rute alternatif setelah menguraikan "kemungkinan adanya risiko serius bagi keamanan penerbangan sipil internasional".Senin lalu, Eurocontrol, badan yang mengoordinasikan semua lalu lintas di wilayah udara Eropa, mengirimkan sebuah nota dinas bagi para penerbang, yang dikenal sebagai Notam, yang mengulangi peringatan itu dan mengatakan bahwa pihaknya "sangat menyarankan untuk menghindari wilayah udara tersebut". Namun, banyak operator penerbangan terus saja menggunakan rute itu karena rute tersebut lebih pendek dan karena itu lebih murah.Penerbangan MH17 itu lepas landas dari Amsterdam pada Kamis siang dan terbang di ketinggian sekitar 33.000 kaki di salah satu rute utama dari Eropa ke Asia. Pesawat itu terbang di ketinggian 33.000 kaki dengan kecepatan 490 knot ketika akhirnya hilang dari layar radar saat mendekati perbatasan Rusia.Diyakini bahwa pilot pesawat itu mengabaikan sejumlah peringatan untuk menghindari wilayah udara di atas Ukraina itu. Daily Mail melaporkan, pesawat Malaysia Airlines itu menggunakan rute Ukraina tersebut demi menghemat bahan bakar karena berbelok ke utara atau selatan akan memakan waktu lama.Daily Mail mengatakan, pesawat komersial Inggris, Eropa, dan AS telah diperingatkan terkait penggunaan rute itu sejak April lalu. Sementara itu, seorang pakar penerbangan mengungkapkan, "Malaysia Airlines, sebagaimana sejumlah operator lainnya, telah terus saja menggunakan rute itu karena rute tersebut lebih pendek, yang berarti lebih sedikit bahan bakar yang digunakan dan akan menghemat uang."Malaysia Airlines MembantahNamun pihak Malaysia Airlines memberi penegasan, pihaknya melintas di wilayah itu karena ada jaminan aman. "Rute penerbangan itu sudah dinyatakan aman oleh International Civil Aviation Organisation dan International Air Transportation Association," jelas Malaysia Airlines dalam pernyataannya, Jumat (18/7). Malaysia Airlines juga sudah mendapat informasi bahwa wilayah yang dilintasi bukan termasuk wilayah konflik. Saat ini pihak MAS langsung mengalihkan rute seluruh rute penerbangannya di Eropa. Sejumlah maskapai Asia ternyata sudah tidak menggunakan rute yang digunakan pesawat MH17 sejak beberapa bulan lalu. Pengalihan rute penerbangan itu dilakukan karena masalah keamanan. Dua maskapai utama Korea Selatan yaitu Korean Air dan Asiana, serta maskapai Qantas Australia telah mengalihan seluruh penerbangan mereka yang melewati wilayah udara tersebut. Hal itu dilakukan sejak awal bulan Maret ketika pasukan Rusia menuju ke wilayah konflik Crimea. "Kami berhenti terbang di sekitar Ukraina karena urusan keamanan," ujar juru bicara Asiana, Lee Hyo-Min.Selain itu, maskapai penerbangan lain seperti Garuda Indonesia, Japan Airlines dan All Nippon Airways menyebutkan rute penerbangan mereka tidak pernah melintasi Ukraina. Sementara, maskapai Singapura Airlines langsung mengganti rute mereka segera setelah insiden yang menewaskan 298 orang itu. "Kami telah mengubah rute penerbangan sejak insiden (MH17) dan sudah tidak lagi menggunakan ruang udara itu," kata jubir Singapura Airlines.Sebelumnya, Perdana Menteri Najib Razak mengatakan bahwa otoritas penerbangan udara internasional menyebutkan rute penerbangan itu aman. "Rute penerbangan itu telah dinyatakan aman oleh International Civil Aviation Organization. Dan juga International Air Transportation Association menyatakan jika wilayah udara di mana pesawat itu melintas bukanlah daerah yang dilarang," ucap Najib. (Detikcom/f)