Perangi ISIS, AS Persenjatai Pejuang Kurdi Irak

* Washington Tidak Berencana Perluas Serangan Udara
- Rabu, 13 Agustus 2014 12:47 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2014/08/hariansib.com): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
SIB/AP Photo/Hasan Jamali
Dua jet tempur F/A-18 AU Amerika lepas landas dari kapal induk USS George H.W. Bush yang tengah berlayar di Teluk Persia. Amerika memutuskan mempersenjatai pasukan Kurdi dalam usaha menghentikan pergerakan militan ISIS.
Washington (SIB)- Pemerintah Amerika Serikat mulai mengirimkan persenjataan ke para pejuang Kurdi di Irak yang tengah berperang melawan para militan Daulah Islamiyah, atau yang sebelumnya disebut ISIS. "Kurdi membutuhkan tambahan senjata. Kami menyediakan senjata-senjata tersebut dan berupaya untuk menyediakan lebih banyak lagi," tutur juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Marie Harf kepada para wartawan di Washington, AS."Pemerintah Irak sendiri telah mengirimkan stok persenjataannya ke Kurdi, dan kami sedang berupaya untuk melakukan hal yang sama, dengan berkoordinasi bersama semua pihak terkait," imbuh Harf seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa (12/8).Namun langkah Amerika tidak diikuti sekutunya. Jerman menjelaskan bahwa "tak ada" pengiriman senjata untuk pasukan Kurdi di Irak. Juru Bicara Pemerintah, Steffen Seibert, mengatakan menurut prinsip-prinsip Pemerintah Jerman, Jerman tak menyediakan senjata buat daerah konflik.Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri memberitahu media bahwa Jerman saat ini memusatkan perhatian pada pengiriman bantuan kemanusiaan buat Irak. Pemerintah Jerman telah menjanjikan 4,4 juta euro (5,9 juta dolar AS) dalam bentuk bantuan kemanusiaan darurat guna membantu pengungsi yang terjebak oleh kaum fanatik Negara Islam (IS) di Irak Utara.Sementara militer Inggris untuk kedua kalinya mengirimkan bantuan kemanusiaan via udara bagi para pengungsi Irak. Sedangkan jet tempur Inggris siap mengawasi tugas kemanusiaan tersebut. Angkatan Udara Inggris atau yang disebut Royal Air Force (RAF) terpaksa membatalkan upaya pengiriman bantuan via udara pada Senin (11/8) kemarin, karena takut melukai warga yang ada di daratan.Namun Departemen Pembangunan Internasional menuturkan, upaya terus dilakukan hingga semalaman dan akhirnya berhasil. Sejauh ini, sudah dua kali militer Inggris mengirimkan bantuan kemanusiaan bagi pengungsi Irak. Bantuan tersebut berisi air dan lampu solar, yang juga bisa digunakan untuk mengisi daya telepon genggam. Inggris juga bersiap untuk mengerahkan sejumlah jet tempur jenis Tornado jika diperlukan. Hal ini dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi demi membantu penyaluran bantuan."Kami memutuskan untuk menempatkan sejumlah kecil Tornado di wilayah tersebut agar mereka bisa, jika diperlukan, menggunakan kemampuan pengintaiannya yang hebat untuk mengumpulkan kewaspadaan situasional untuk membantu upaya kemanusian," terang juru bicara kantor Perdana Menteri Inggris atau yang biasa disebut Downing Street. "Ini akan sama dengan peran Tornado di Inggris, awal tahun ini, mengumpulkan informasi di area yang terdampak oleh banjir parah," imbuhnya.Secara terpisah, militer AS mengkonfirmasi telah kembali melancarkan serangan udara terhadap konvoi militan ISIS pada Minggu, 10 Agustus larut malam waktu setempat. Menurut militer AS, saat itu para militan ISIS tersebut tengah bersiap menyerang pasukan Kurdi yang mengamankan kota mereka, Arbil. Arbil, yang merupakan ibukota wilayah otonomi Kurdi, menjadi lokasi dari konsulat AS dan sejumlah fasilitas diplomatik lainnya. Washington menegaskan tidak memiliki rencana untuk memperluas operasi udaranya di Irak. Tujuan utama AS hanyalah melindungi personel AS yang ada di kota Arbil dan melindungi para pengungsi Yazidi. "Tidak ada rencana untuk memperluas operasi udara, hingga di luar aktivitas pertahanan diri yang sekarang dilakukan," terang Letnan Jenderal William Mayville kepada wartawan di Pentagon.Serangan ini merupakan keterlibatan militer AS yang pertama di Irak pasca perang Irak beberapa tahun lalu. Muncul kekhawatiran, peristiwa masa lalu akan terulang. Namun Mayville menegaskan, AS sama sekali tidak punya niat tersebut."Prinsip pokok tugas kami, dan apa yang kami lakukan sekarang adalah melindungi fasilitas AS dan warga negara -- warga AS -- yang ada di fasilitas tersebut," tegasnya. Mayville menambahkan, juga menjadi misi AS di Irak untuk melindungi pesawat AS yang menjalankan tugas kemanusiaan di Gunung Sinjar dan menargetkan posisi ISIS yang mengepung wilayah tersebut.Sebelumnya pada Kamis, 7 Agustus lalu, Presiden AS Barack Obama memberikan izin serangan udara terhadap kelompok ISIS di Irak. Alasannya, para militan ISIS sangat mengancam keselamatan para personel AS di Arbil dan demi mencegah genosida terhadap kelompok-kelompok agama minoritas di Irak.Sementara itu, pesawat AS juga bergabung dengan militer Irak dalam upaya penyaluran bantuan via udara, bagi ribuan etnis Yazidi yang terjebak di Gunung Sinjar karena menghindari serangan militan ISIS. Serangan udara AS pada Senin (11/8), mengenai kendaraan baja milik ISIS, tiga truk dan sebuah kendaraan Humvee buatan AS yang diduga kuat dicuri ISIS dari militer Irak.Pria AS Ditangkap di Bandara JFKSeorang pria Amerika Serikat ditangkap di bandara John F. Kennedy (JFK), New York, AS. Pria ini sempat menulis tweet soal kesetiaannya pada pemimpin ISIS. Menurut dokumen yang diajukan ke pengadilan federal di Brooklyn, pria bernama Donald Ray Morgan ini ditangkap pada 2 Agustus lalu, saat baru tiba dari Frankfurt, Jerman.Juru bicara kantor jaksa setempat menyebutkan, Morgan ditangkap terkait dengan dakwaan kepemilikan senjata api di North Carolina. Pria berusia 44 tahun tersebut diketahui pernah terjerat pidana sebelumnya, namun tidak disebutkan lebih lanjut soal itu.Otoritas setempat juga menemukan bahwa Morgan sempat nge-tweet soal kesetiaannya terhadap pemimpin ISIS, yang menggunakan nama samaran Abu Omar al Amreeki. "Terdakwa menyatakan kesetiaannya pada pemimpin ISIS pada akun Twitter-nya: Abu Omar al Amreeki," terang juru bicara kantor jaksa setempat, tanpa memberi penjelasan lebih lanjut.Secara terpisah, biro investigasi federal AS atau FBI menyatakan bahwa Morgan sama sekali tidak dijerat dakwaan terorisme. "Tidak ada indikasi apapun terkait terorisme, dakwaan tersebut terkait pelanggaran senjata api," tutur juru bicara FBI. Surat kabar AS, New York Daily News melaporkan, Morgan sempat menghabiskan waktu selama 8 bulan di Libanon, tempat tinggal istrinya. Saat ini, Morgan akan dipulangkan ke North Carolina. (Ant/AFP/Detikcom/i)


Tag:

Berita Terkait

Luar Negeri

Hakim Tolak Nota Perlawanan Eks Direktur PTPN II, Ini Permintaan Kuasa Hukum

Luar Negeri

Polres Tanjungbalai Gelar Lat Pra Ops Keselamatan Toba 2026

Luar Negeri

Irwan Peranginangin: JPU Tidak Menjelaskan Secara Konkret Perbuatan Yang Dituduhkan

Luar Negeri

Aroma Khas Bawang Putih Sumut Terancam Hilang, Produksi Masih Terbatas

Luar Negeri

Sumut Surplus Beras 641 Ribu Ton, Gubernur Terima Satya Lencana Wirakarya dari Presiden

Luar Negeri

Harga Nenas Sipahutar Meroket, Kuasai 98,5% Produksi Sumut