Xi Jinping Janji Meminimalisir Dampak Virus Corona

China Kembangkan Metode Plasma Tangani Virus Corona

Redaksi - Sabtu, 15 Februari 2020 19:02 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2020/02/_3256_-China-Kembangkan-Metode-Plasma-Tangani-Virus-Corona.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Seorang pekerja di kompleks industri di Chongqing disemprot dengan desinfektan melewati terowongan yang dibangun untuk mencegah virus corona. 

Beijing (SIB)

Presiden Xi Jinping memastikan bahwa China dapat meminimalkan dampak dari wabah virus corona dan akan mempertahankan momentum perkembangan ekonominya. China akan berusaha untuk mencapai target pembangunan tahun ini, Xi menambahkan, dalam panggilan telepon dengan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad.

Dilansir oleh Channel News Asia, Jumat (14/2), pemerintah China telah mengambil langkah-langkah tegas untuk mencegah penyebaran virus lebih luas lagi dan terobosan baru dari metode pengobatan terus dikembangkan, Xi menambahkan.

"Kami juga akan dapat meminimalkan dampak epidemi, mempertahankan momentum pembangunan ekonomi China, dan berusaha untuk mencapai tujuan dan tugas pembangunan tahun ini," kata laporan itu mengutip Presiden Xi.

Pembuat kebijakan China telah menerapkan serangkaian langkah-langkah untuk mendukung ekonomi yang terguncang semenjak adanya wabah virus corona, yang diperkirakan akan berdampak buruk pada pertumbuhan kuartal pertama.

Untuk menangani pasien virus corona, China dilaporkan telah mengembangkan metode plasma. Cara itu diklaim cukup ampuh untuk menyembuhkan mereka yang terinfeksi. China National Biotec Group mengatakan plasma dari pasien yang pulih digunakan untuk melawan virus sebab dalam plasma tersebut telah terdapat antibodi penawar virus.

"Produk plasma untuk mengobati virus corona baru dibuat dari plasma yang diisi dengan antibodi yang disumbangkan oleh pasien yang pulih. Ia melalui inaktivasi virus dan diuji terhadap antibodi penawar virus serta beberapa mikroorganisme patogen," kata China National Biotec Group dikutip laman South China Morning Post, Jumat (14/2).

China National Biotec Group telah melakukan fase pertama perawatan dengan menggunakan metode tersebut terhadap tiga pasien kritis di rumah sakit di Distrik Jiangxia, Wuhan, pada 8 Februari lalu. Hasilnya cukup efektif. Tes klinis menunjukkan setelah 12 hingga 24 jam perawatan, indikator inflamasi utama di laboratorium menurun secara signifikan. Proporsi limfosit pun meningkat.

Indikator kunci seperti saturasi oksigen darah dan viral load meningkat. Tanda dan gejala klinis pun membaik secara signifikan. Menurut China National Biotec Group, saat ini terdapat 10 pasien yang sedang menjalani perawatan dengan metode plasma pemulihan.

Sebelumnya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan vaksin untuk Covid-19 kemungkinan tersedia dalam 18 bulan. Hingga waktu itu tiba, semua metode perawatan dan penanganan pasien yang cukup efektif harus diterapkan. "Kita harus melakukan segalanya hari ini menggunakan senjata-senjata yang tersedia," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus saat menggelar konferensi pers di Jenewa, Swiss.

AS Kecewa

Sementara itu otoritas Amerika Serikat (AS) menyatakan kekecewaan atas kurangnya transparansi dari China terkait penanganan wabah virus corona. Padahal sebelumnya Presiden AS Donald Trump memuji-muji China. Seperti dilansir AFP, Jumat (14/2), ungkapan kekecewaan terhadap China ini disampaikan oleh seorang pejabat senior Gedung Putih pada Kamis (13/2) waktu setempat. "Kami sedikit kecewa bahwa kami belum diajak terlibat dan kami sedikit kecewa dengan kurangnya transparansi dari pihak China," ujar Larry Kudlow selaku Direktur Dewan Ekonomi untuk Trump.

Lebih lanjut, Kudlow memprediksi bahwa dampak ekonomi akan 'cukup minimal' bagi AS, namun dia mengakui adanya kekhawatiran atas virus corona yang memicu 'ketidakpastian'. "Jika kita tidak mendapatkan informasi yang baik dari China, sangat sulit bagi kita untuk membuat penilaian yang layak," tandasnya.

Pada akhir Januari lalu, Trump melontarkan pujian dan mengucapkan terima kasih kepada Presiden Xi terkait penanganan virus corona. "China telah bekerja sangat keras untuk menangani virus corona. Amerika Serikat sangat menghargai upaya dan transparansi mereka (China-red). Semuanya akan berhasil dengan baik," ucap Trump dalam kicauan via Twitter saat itu. "Secara khusus, atas nama rakyat Amerika, saya ingin berterima kasih pada Presiden Xi," imbuhnya.

Beberapa waktu lalu, Dirjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, juga melontarkan pujian untuk respons China terhadap wabah virus corona. Tedros juga berterima kasih pada China karena telah mengidentifikasi virus ini dalam waktu singkat dan langsung membagi informasi tersebut ke dunia. (Detikcom/liputan6/f)

Berita Terkait

Luar Negeri

Era Baru AI Phone, 400 Juta Warga Dunia Gunakan Kecerdasan Buatan Samsung

Luar Negeri

Polres Belawan Tangkap Terduga Pengedar Sabu di Kelurahan Tangkahan

Luar Negeri

Henry Jhon Hutagalung Minta Wali Kota Jangan Persempit Ruang Jualan Daging Babi

Luar Negeri

Masyarakat Saribudolok Minta PLN Tidak Memadamkan Listik Selama Ramadan

Luar Negeri

Polres Tanjungbalai Gelar Patroli Asmara subuh

Luar Negeri

Gerakan ASRI dan Arah Baru Kebijakan Lingkungan di Era Prabowo