Saudi Bantah Rencana Pertemuan Pangeran MBS dengan Netanyahu

Redaksi - Sabtu, 15 Februari 2020 19:13 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2020/02/_3443_Saudi-Bantah-Rencana-Pertemuan-Pangeran-MBS-dengan-Netanyahu.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
AP Photo/Jacquelyn Martin
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) disebut akan bertemu PM Israel Netanyahu, rencana yang dibantah Saudi.

Riyadh (SIB)

Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud membantah kabar tentang adanya rencana pertemuan antara Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MBS) dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dia menegaskan kembali dukungan Riyadh terhadap Palestina.

"Tidak ada pertemuan yang direncanakan antara Arab Saudi dan Israel. Kebijakan Arab Saudi sudah sangat jelas sejak awal konflik ini (Israel-Palestina). Tak ada hubungan antara Saudi dan Israel, Kerajaan berdiri teguh di belakang Palestina," kata Pangeran Faisal, dikutip laman Al Arabiya pada Kamis (13/2).

Medis Israel sebelumnya mengabarkan bahwa Netanyahu berupaya mengagendakan pertemuan dengan Pangeran MBS. Hal itu dilakukan setelah Presiden Amerika Serikat (AS) meluncurkan rencana perdamaian Timur Tengah, yang di dalamnya turut tercakup solusi penyelesaian konflik Israel-Palestina.

Mengenai rencana perdamaian buatan Trump, posisi Saudi, kata Pangeran Faisal, tetap sama. Riyadh menghendaki solusi yang adil dan dapat diterima Israel serta Palestina. "Seperti yang telah kami katakan di masa lalu, Arab Saudi bersama anggota Liga Arab lainnya selalu menunjukkan keinginan untuk menormalkan hubungan dengan Israel jika ada penyelesaian (konflik) yang adil dan disepakati Palestina serta Israel. Kebijakan Saudi akan tetap teguh," ujar Pangeran Faisal.

Rencana perdamaian Timur Tengah yang dirilis Trump pada 28 Januari menuai banyak kritik dan protes. Selain karena tak melibatkan Palestina dalam prosesnya, rencana perdamaian itu pun sangat memihak kepentingan politik Israel.

Dalam rencananya, Trump menyatakan Yerusalem sebagai ibu kota Israel yang tak terbagi. Ia pun mengakui pendudukan Israel atas sebagian wilayah Tepi Barat dan Lembah Yordan. Dengan rencana tersebut, posisi Palestina kian tersisih. Ia tak bisa lagi mengharapkan Yerusalem Timur sebagai ibu kota masa depan negaranya.

Teritorial yang diinginkan Palestina, yakni berdasarkan garis perbatasan 1967, juga buyar. Sebab Israel telah mencaplok sebagian Tepi Barat dan Lembah Yordan. Saat berbicara di Dewan Keamanan PBB, Presiden Palestina Mahmoud Abbas menegaskan penolakan atas rencana tersebut.

Pada kesempatan itu, Abbas pun menegaskan bahwa penolakan terhadap rencana perdamaian Trump tak hanya disuarakan negaranya. Liga Arab, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Uni Afrika dan Uni Eropa juga bersikap sama seperti Palestina. (T/q)

Berita Terkait

Luar Negeri

Era Baru AI Phone, 400 Juta Warga Dunia Gunakan Kecerdasan Buatan Samsung

Luar Negeri

Polres Belawan Tangkap Terduga Pengedar Sabu di Kelurahan Tangkahan

Luar Negeri

Henry Jhon Hutagalung Minta Wali Kota Jangan Persempit Ruang Jualan Daging Babi

Luar Negeri

Masyarakat Saribudolok Minta PLN Tidak Memadamkan Listik Selama Ramadan

Luar Negeri

Polres Tanjungbalai Gelar Patroli Asmara subuh

Luar Negeri

Gerakan ASRI dan Arah Baru Kebijakan Lingkungan di Era Prabowo