Washington (SIB)
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan dia tidak keberatan dengan keputusan Presiden Filipina Rodrigo Duterte untuk mengakhiri perjanjian militer yang sudah berlangsung beberapa dekade dengan negaranya.
Duterte pada Selasa (11/2) memutuskan Perjanjian Kunjungan Pasukan (VFA) dengan AS yang telah terjalin selama dua dekade. Pemutusan perjanjian dipicu pencabutan visa AS yang dipegang sekutu Duterte dalam perang melawan narkotikanya.
Menteri Pertahanan AS, Mark Esper menyayangkan keputusan Duterte, yang diambil di saat Washington berusaha menekan pengaruh China di Asia Tenggara. Keputusan itu akan sah secara hukum dalam 180 hari, sementara para pejabat AS berharap Duterte dapat membatalkan keputusannya tersebut.
Namun, Trump tampaknya berbeda pendapat dengan Esper, bahkan menyebut keputusan Manila tersebut bisa menjadi sebuah penghematan bagi AS. "Saya tidak keberatan jika mereka ingin melakukan itu (memutuskan VFA), itu akan menghemat banyak uang," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih sebagaimana dilansir Reuters, Kamis (13/2).
Trump telah sering menyatakan keinginan untuk membawa pasukan militer AS pulang dari pengerahan selama puluhan tahun di luar negeri, bahkan telah meminta beberapa sekutu AS untuk membayar lebih besar untuk hak menerima bantuan pertahanan dari Negeri Paman Sam.
Trump mengatakan AS telah membantu Filipina mengalahkan militan Negara Islam (IS). Dia mengatakan dia memiliki hubungan "sangat baik" dengan Duterte dan menambahkan: "kita akan melihat apa yang terjadi."
Diakhirinya VFA mempersulit upaya Washington untuk mempertahankan kehadiran pasukannya Asia-Pasifik di tengah gesekan terkait kehadiran militer AS di beberapa negara, termasuk Korea dan Jepang. AS juga memiliki masalah keamanan berkaitan dengan China dan Korea Utara. (okz/q)