Sahel (SIB)
Sejumlah pria bersenjata telah melakukan penembakan brutal di sebuah gereja protestan di Burkina Faso utara. Akibatnya 24 orang tewas dan 18 orang terluka. Serangan itu terjadi pada Minggu (17/2) saat pelayanan di gereja berlangsung. Gubernur Sahel, Kolonel Salfo Kabore mengatakan bahwa sekelompok 'teroris bersenjata' menyerang Desa Pansi, Yagha, Sahel. Mereka menyerang penduduk lokal setelah mengidentifikasi mereka dan memisahkan dari mereka yang bukan penduduk. "Korban sementara adalah 24 tewas, termasuk pendeta, 18 terluka dan orang-orang yang diculik," kata Kabore.
Seorang penduduk kota terdekat Sebba mengatakan, penduduk Desa Pansi kemudian melarikan diri untuk menyelamatkan diri. Mereka lantas membakar gereja setelah menembaki warga sipil tersebut. Para pelaku lantas menculik seorang pastor. Mereka juga mencuri beras dan minyak dari toko setempat, kemudian menculik tiga pemuda untuk membantu membawa seluruh barang-barang tersebut. Seperti diketahui, orang-orang Kristiani dan gereja-gereja di Bukrina Faso utara memang kerap menjadi sasaran para Islamis bersenjata.
Presiden Togo, Faure Gnassingbe pun mengecam penembakan brutal itu. Dalam lawatannya ke utara negara itu menjelang pemilihan presiden Sabtu depan, mengatakan ancaman di wilayah tersebut nyata adanya.
"Ancaman itu nyata dan tekanannya sangat kuat," katanya. "Kami melihat bahwa serangan (di Burkina) semakin mematikan, sayangnya Benin juga menderita, jadi kami merasakan tekanan ini sedikit lebih banyak setiap hari," imbuh Kabore.
Pekan lalu juga terjadi serangan di Yagha. Saat itu pelaku menembak mati seorang pastor senior, dan menculik satu pendeta. Kekerasan kini marak terjadi di Burkina Faso yang semula damai. Menurut data dari Pendataan Lokasi Konflik Bersenjata, sekitar 1.300 warga sipil di negara itu meninggal akibat tindak kekerasan.
Para pelaku tidak hanya menargetkan masyarakat Nasrani, tetapi juga turut membantai warga Muslim yang ada di lokasi serangan. Kelompok bersenjata itu diduga terkait dengan gerakan ISIS Sahara dan organisasi ekstremis lainnya di Afrika. (Detikcom/d)