Beijing (SIB)
Pemerintah AS mengumumkan lima media China termasuk Xinhua menjadi agen mata-mata pemerintah China setelah mengidentifikasi mereka sebagai agensi yang dikontrol langsung oleh pemerintah Beijing. Lima media tersebut di antaranya China Global Television Network (CGTN), China Radio International, China Daily, Hai Tian Development USA dan Xinhua. Kelimanya dianggap sebagai media asing yang harus mendaftarkan diri mereka ke Departemen Pemerintah AS selayaknya kedutaan dan konsulat negara asing lainnya.
Berdasarkan keterangan pejabat AS, kelima media yang disebutkan dianggap memenuhi segala definisi tentang misi asing di bawah Tindakan Misi Asing. Pendeknya, secara substansi mereka secara efektif dikontrol oleh pemerintah asing (luar AS). "Mereka secara efektif dikontrol oleh pemerintah China." Ungkap pejabat tersebut. Xinhua, China Radio, China Daily dan CGTN memang dikontrol langsung oleh pemerintah pusat China.
Pemerintah AS bergerak mengikuti peringatan pejabat pemerintah dan pembuat hukum tentang adanya ancaman dari pemerintah China terhadap keamanan nasional AS. Perubahan status juga mewajibkan mereka mendeklarasikan saham real-estate mereka di AS kepada Departemen Pemerintah dan memohon persetujuan jika ada tagihan tambahan lain. Pada Sabtu (15/02) Menteri Pertahanan AS, Mark Esper dan Menteri Dalam Negeri Mike Pompeo menggunakan Konferensi Keamanan Munich sebagai rujukan atas "arahan salah" yang dilakukan Presiden Xi Jinping.Pompeo membandingkan Beijing dengan Moskow dan Teheran dengan mengatakan bahwa Pemerintah China merupakan ancaman kepada Eropa dan juga AS.
Sementara itu Pemerintah China mengumumkan pihaknya akan mencabut izin pers milik tiga reporter media terkemuka Amerika Serikat (AS), Wall Street Journal (WSJ). Pengusiran ini terkait tulisan opini pada WSJ yang mengkritik respons pemerintah China terhadap wabah virus corona. Seperti dilansir CNN, Rabu (19/2), pengusiran ini menjadi pengusiran wartawan asing terbesar di China dalam beberapa tahun terakhir.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Geng Shuang, dalam press briefing menyatakan pengusiran ini dipicu oleh tulisan opini yang dirilis WSJ pada 3 Februari lalu, yang berjudul 'China is the real sick man of Asia'. Isi dari tulisan itu mengkritik respons pemerintah China terhadap virus corona yang merajalela.
"Para editor menggunakan judul yang diskriminatif secara rasial, yang memicu kemarahan dan kecaman di kalangan rakyat China dan komunitas internasional," kata Geng dalam pernyataannya. "Sangat disesalkan, apa yang dilakukan WSJ sejauh ini hanyalah mengelak dan menghindari tanggung jawabnya. Mereka tidak merilis permintaan maaf resmi atau memberitahu kami soal rencana yang akan dilakukan terhadap orang-orang yang terlibat," imbuh Geng. "Dengan demikian, diputuskan bahwa mulai hari ini, kartu pers milik tiga jurnalis WSJ akan dicabut," tegasnya.
WSJ telah merilis artikel untuk mengonfirmasi kabar pengusiran wartawannya oleh China. "Wakil Biro Josh Chin dan reporter Chao Deng, keduanya warga negara AS, juga reporter Philip Wen, seorang warga negara Australia, telah diperintahkan untuk meninggalkan negara itu dalam waktu lima hari," sebut Kepala Biro WSJ di China, Jonathan Cheng, dalam artikel itu.
Otoritas China telah membatasi visa untuk menunjukkan ketidaksenangan atau menambah tekanan terhadap media-media asing di China. Sejumlah wartawan asing ditempatkan dalam visa jangka pendek, bukannya visa standar yang berlaku setahun. Namun tergolong sangat tidak biasa bagi seorang wartawan asing untuk diusir dari China. (Detikcom/kps/d)