Bangkok (SIB)- Pemimpin kudeta Thailand secara resmi disetujui oleh Raja Bhumibol Adulyadej sebagai perdana menteri (PM) baru. Pengesahan ini merupakan langkah maju menuju pembentukan pemerintahan yang akan mengawasi jalannya reformasi di kerajaan yang dilanda pergolakan politik itu. Pekan lalu, panglima militer Jenderal Prayut Chan-O-Cha telah dipilih sebagai PM oleh majelis nasional, yang sebagian besar terdiri dari para pejabat militer. Jenderal berumur 60 tahun itu adalah pemimpin kudeta tak berdarah yang terjadi 22 Mei lalu.Dalam seremoni untuk menerima dukungan Raja yang digelar singkat, Prayut tampak mengenakan seragam resmi berwarna putih. Dia terlihat berlutut dan menunduk di depan potret besar Raja Bhumibol Adulyadej. "Yang Mulia Raja telah menunjuk saya sebagai PM. Saya sangat bersyukur... ini kehormatan besar bagi saya dan keluarga saya," tutur Prayut usai seremoni tersebut seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (25/8). "Saya akan bekerja dengan kejujuran dan demi kepentingan rakyat dan negara," imbuh Prayut. Dengan penunjukkan ini, Jenderal Prayut juga akan tetap menjadi kepala junta militer Thailand. Seorang juru bicara junta militer mengatakan, Prayut akan memilih para anggota kabinet dan mengusulkan para menteri tersebut untuk mendapat persetujuan Raja pada September mendatang.Junta militer yang secara resmi dikenal sebagai National Council for Peace and Order (NCPO), mengambil alih kekuasaan negara setelah berbulan-bulan aksi protes, yang menewaskan sedikitnya 30 orang dan melukai ratusan orang lainnya. Aksi-aksi demo antipemerintah tersebut juga telah mengganggu perekonomian negara dan membuat takut para turis untuk berkunjung.Junta militer menolak untuk menggelar pemilihan umum baru pada tahun 2015, meskipun gencarnya seruan internasional untuk segera mengembalikan kekuasaan ke pemerintah sipil. Namun junta bertekad akan mengawasi reformasi yang dimaksudkan untuk membersihkan politik dan masyarakat. (AFP/dtc/i)