KOLOMBO (SIB)- Harapan untuk menemukan korban selamat dalam bencana tanah longsor di Sri Lanka, menipis. Diperkirakan lebih dari 100 orang tewas tertimbun longsor yang dipicu hujan deras ini. "Saya pikir tidak mungkin ada korban selamat," ujar Menteri Penanggulangan Bencana, Mahinda Amarweera seperti dilansir dari Associated Press, Kamis (30/10). "Sekitar 100 orang tertimbun, meskipun ada sejumlah anak-anak dan beberapa pekerja perkebunan yang tidak berada di rumah mereka ketika bencana terjadi," imbuhnya.Tanah longsor itu melanda satu desa di wilayah perkebunan teh Sri Lanka setelah beberapa hari hujan lebat. Dilaporkan sekitar 130 rumah warga setempat tertimbun longsor. Sedangkan ratusan orang lainnya masih hilang. Sedikitnya wilayah seluas 3 kilometer persegi terdampak tanah longsor ini. Longsor paling parah melanda desa Haldummulla, yang berjarak sekitar 192 kilometer dari ibukota Kolombo. Anak-anak yang pulang dari sekolah dikagetkan ketika mendapati rumah mereka tertimbun longsor.Amaraweera menuturkan, warga setempat telah diperingatkan sejak tahun 2005 untuk menjauhi area yang terancam terkena tanah longsor dan tinggal di wilayah lain. Namun banyak yang tidak mempedulikan peringatan tersebut. Presiden Mahinda Rajapaksa memerintahkan perlengkapan berat militer untuk dikerahkan ke lokasi, guna mempercepat pencarian. Namun pada Rabu (29/10) malam, pencarian dihentikan sementara karena kurangnya pencahayaan dan cuaca buruk. "Kami telah menghentikan operasi penyelamatan karena gelap dan cuaca buruk. Juga ada ancaman tanah longsor lanjutan," ujar Amarweera. Sejumlah bencana tanah longsor telah terjadi di negara itu sejak awal hujan lebat pada pertengahan September yang mengakibatkan kerusakan jalan, tetapi belum pernah ada korban tewas seperti pada peristiwa hari Rabu kemarin. Sejumlah ruas jalan di distrik Kandy, Nuwara Eliya, dan Badulla ditutup pada Rabu karena tanah longsor. Orang-orang yang tinggal di daerah perbukitan yang terdampak sebagian besar berasal dari Tamil India. Mereka merupakan keturunan para pekerja yang dibawa ke Sri Lanka dari India Selatan pasa masa kolonial Inggris sebagai tenaga kerja murah untuk bekerja di perkebunan teh, karet dan kopi. (AP/R16/i)