Ouagadougou (SIB)- Perebutan kekuasan terjadi di Burkina Faso pasca pengunduran diri Presiden Blaise Compaore. Komandan pengawal kepresidenan Burkina Faso merebut kekuasan dari Panglima militer yang sebelumnya mengklaim kudeta. Tak lama setelah Presiden Blaise Compaore mengundurkan diri dari jabatannya, Panglima Militer Jenderal Honore Traore menyatakan kudeta atas kekosongan kepemimpinan di negara Afrika tersebut. Tindakan itu dilakukan Jenderal Traore setelah membubarkan parlemen.Namun klaim kudeta Traore tersebut menuai penolakan dari para demonstran setempat dan sejumlah pejabat militer lainnya. Setelah sempat terjadi baku tembak di dekat istana kepresidenan, pada Sabtu (1/11) dini hari, Letnan Kolonel Issaac Zida yang merupakan komandan pengawal kepresidenan, mengumumkan via radio bahwa dirinya mengambil alih kekuasaan."Mulai hari ini, saya memegang tanggung jawab sebagai pemimpin transisi dan kepala negara," ujar Zida yang mengenakan seragam militer dari studio televisi setempat, BF1 seperti dilansir dari Associated Press, Sabtu (1/11). "Saya memberi hormat bagi para martir dalam perjuangan ini dan menghormati pengorbanan yang dilakukan rakyat," tukasnya.Zida menambahkan, militer dikerahkan ke lapangan untuk menghindari aksi anarkis dan demi memastikan transisi demokrasi berjalan baik. Menurutnya, prosedur pelaksanaan pemilu dalam waktu dekat akan disusun oleh lembaga yang terdiri atas berbagai elemen masyarakat, termasuk partai politik. Zadi juga meminta Uni Afrika dan blok regional Afrika Barat, ECOWAS untuk memberikan dukungan terhadap transisi demokrasi di Burkina Faso. "Ini bukanlah kudeta, tapi perjuangan rakyat. Rakyat memiliki harapan dan impian, dan kami yakin bahwa kami mampu memahami mereka," tuturnya kepada Reuters.Unjuk rasa mendesak Compaore mundur berlangsung sejak Kamis (30/10) hingga Jumat (31/10). Sedikitnya 3 orang tewas dalam bentrokan yang terjadi setelah ratusan ribu demonstran menyerbu gedung parlemen dan membakarnya.Unjuk rasa tersebut merupakan bentuk kemarahan rakyat Burkina Faso atas niat Compaore untuk kembali mencalonkan diri dalam pemilu, setelah dia menjabat nonstop selama 27 tahun terakhir. Compaore yang purnawirawan militer menjabat sejak kudeta pada tahun 1987 silam.Unjuk rasa pecah pada Kamis (30/10), setelah Compaore berupaya mengubah konsitusi agar dirinya bisa mencalonkan kembali dalam pemilu tahun depan. Parlemen setempat harusnya melakukan voting pada hari tersebut, terkait amandemen konstitusi, namun rakyat bergerak dan gedung parlemen pun dibakar. Ratusan ribu demonstran memenuhi Place de la Nation di ibukota Ouagadougou, pada Jumat (31/10). Setelah sempat menolak mundur, Compaore akhirnya menyerah pada tekanan rakyatnya sendiri. "Saya yakin bahwa saya telah memenuhi tugas saya, yang menjadi perhatian terbesar saya ialah kepentingan negara ini," ucap Compaore dalam pernyataan tertulisnya. Dalam pernyataannya, Compaore juga menyatakan digelarnya pemilu dalam waktu dekat, atau 90 hari setelah pengunduran dirinya. Pasca pengumuman tersebut, konvoi militer besar-besaran diyakini membawa Compaore ke kota Po, dekat perbatasan Ghana, yang merupakan pangkalan militer terbesar. Rakyat menyambut dengan senang pengunduran diri Compaore ini. Mereka menari, bersorak dan bersiul di tengah jalanan Ouagadougou setelah pengumunan Compaore disiarkan di televisi setempat."Ini merupakan sub-Saharan Spring dan harus dilanjutkan melawan semua presiden yang berupaya untuk mempertahankan kekuasaannya di Afrika," tutur mahasiswa hukum, Lucien Trinnou merujuk pada Arab Spring yang lebih dulu merajalela di kawasan Timur Tengah. (dtc/AP/R16/ r)