Donetsk (SIB)- Rusia mendukung kemenangan pemberontak Ukraina timur pro Moskow dalam pemilu kontroversial yang digelar Minggu lalu, sementara Eropa mengecamnya dengan mengatakan pemilu tersebut sebagai hambatan baru bagi perdamaian di Ukraina.Pengakuan cepat Rusia ini memicu krisis diplomatik baru yang bisa mendorong jatuhnya lagi sanksi Barat. "Kami menghormati pengungkapan keinginan penduduk tenggara (Ukraina)," kata Kementerian Luar Negeri Rusia. "Mereka yang terpilih telah menerima mandat untuk menuntaskan masalah-masalah praktis dalam membangun kembali kehidupan normal di kawasan itu."Vladimir Chizhov, Wakil Tetap Rusia untuk Uni Eropa, meminta Uni Eropa harus mengakui pemilu di Republik Rakyat Donetsk dan Luhansk yang diproklamirkan secara mandiri, jika tertarik penyelesaian politik konflik Ukraina. "Saya percaya bahwa jika Uni Eropa benar-benar tertarik dalam penyelesaian politik cepat atas krisis di Ukraina timur, harus menyambut pemilu ini," kata Chizhov, lapor RIA Novosti."Saya tidak menyerukan secara otomatis mengakui republik memproklamirkan secara mandiri itu, tidak ada yang mengharapkan dari Uni Eropa. "Tetapi fakta bahwa penduduk daerah ini telah menyatakan keinginan mereka harus diakui berdasarkan nilai-nilai demokrasi yang dianjurkan oleh Uni Eropa," tambahnya.Sebaliknya, diplomat utama Uni Eropa Federica Mogherini mengecam pemilu separatisme itu sebagai hambatan baru bagi jalan menuju perdamaian. Sedangkan Presiden Ukraina Petro Poroshenko mengecam pemilu itu karena diselenggarakan di bawah ancaman tank dan senjata.Pemimpin pemberontak di dua kantong separatis sendiri enggan untuk melakukan kompromi begitu mereka dipastikan memenangkan Pemilu. "Ukraina tak menginginkan perdamaian sebagaimana yang diklaimnya. Jelas mereka memainkan standard ganda," kata presiden terpilih dari wilayah yang menamakan dirinya Republik Rakyat Donetsk, Alexander Zakharchenko.Zakharchenko yang menjadi pemimpin Donetsk, meraih 81 persen suara, sedangkan dua lawannya memperoleh sembilan persen. Di Lugansk, pemimpin pemberontak Igor Plotnitsky, mantan perwira tentara Uni Soviet, meraih 63 persen suara. (Ant/AFP/ r)