Seoul (SIB)- Negara-negara Asia tak cukup berbuat banyak dalam upaya global memerangi Ebola, kendati memiliki tenaga kesehatan yang sangat terlatih yang bisa membantu menghentikan penyebaran virus mematikan itu, kata Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim.Ribuan pekerja kesehatan diperlukan untuk membantu memerangi wabah amat mematikan itu sejak mulai tercatat pada 1976. Virus ini sudah membunuh hampir 5.000 orang yang kebanyakan di negara-negara Afrika Barat seperti Liberia, Guinea dan Sierra Leone."Banyak negara di Asia bisa membantu tapi kenyataannya tidak, khususnya saat menyangkut pengiriman tenaga kesehatan," kata Kim dalam jumpa pers di Seoul, Selasa (4/11). "Saya menyeru para pemimpin di seluruh Asia untuk mengirimkan tim profesional kesehatan terlatih mereka ke tiga negara Afrika Barat."Korea Selatan sendiri telah berjanji menyumbangkan 5,6 juta dolar AS untuk memerangi Ebola, sedangkan Jepang dan Tiongkok telah mengirimkan perangkat dan staf kesehatan ke Afrika Barat. Tiongkok juga telah menyumbangkan 123 juta dolar AS untuk 13 negara Afrika dan organisasi internasional untuk memerangi Ebola, selain mengirimkan ratusan pekerja kesehatan. Namun keseluruhan bantuan Asia tidak sebanding dengan kontribusi AS yang telah mengirimkan ribuan tentara dan mengalirkan 1 miliar dolar AS, di samping negara Barat lainnya."Kami memerlukan ribuan pekerja kesehatan, dan kami akan memerlukan mereka selama enam bulan ke depan sampai setahun. Perang melawan Ebola tidak akan berakhir sampai kita mencapai kasus nol di tiga negara itu," kata Kim.Sejumlah negara Asia sudah menerapkan pengawasan perbatasan yang sangat ketat untuk menangkal penyebaran Ebola, bahkan Korea Utara telah menutup perbatasannya dan menerapkan aturan karantina 21 hari bagi orang asing yang mengunjungi negara itu.Kim mengatakan fokus pada hanya menutup perbatasan tak akan terlalu berdampak. "Dunia perlu memadamkan api (biang timbulnya wabah) karena jika tidak, Ebola bisa menyebar ke negara mana saja, termasuk yang ada di sini di Asia," tegas Kim. Sementara itu Organisasi Africa Governance Initiative (AGI) dalam temuannya terungkap bahwa virus Ebola menyebar sembilan kali lebih cepat dibanding dua bulan lalu di sejumlah daerah Sierra Leone. "Sementara kasus baru terus turun di Liberia, Ebola di sisi lain terus menyebar dengan semakin cepat di sejumlah daerah Sierra Leone," kata AGI dalam laporannya.Rata-rata kasus baru di daerah pedalaman sekitar Freetown pada akhir Oktober lalu adalah 12 setiap harinya--jauh lebih tinggi atau sembilan kali lipat dibanding angka 1,3 pada awal September. Penyebaran Ebola juga meningkat cepat di ibu kota Sierra Leone, Freetown, dengan angka rata-rata enam kali lebih tinggi dibanding dua bulan lalu.Analisis dari AGI tersebut didasarkan pada angka kasus baru yang tercatat oleh kementerian kesehatan Sierra Leone. Laporan AGI muncul setelah utusan Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa membanggakan perlambatan penyebaran di sejumlah wilayah dan semakin baiknya praktik penguburan korban virus Ebola.AGI, yang merupakan organisasi masyarakat sipil yang dibentuk mantan perdana menteri Inggris Tony Blair, menyatakan bahwa meskipun gambaran besar wabah Ebola telah berubah, situasi di Afrika Barat masih "sepenuhnya berada dalam krisis.""Pemerintah Sierra Leone telah melakukan langkah nyata dalam hal pencegahan wabah dengan memperluas akses perawatan dan perubahan praktik penguburan korban," kata kepala AGI, Nick Thompson. "Namun kita tidak boleh beristirahat sampai wabah Ebola benar-benar dihentikan. Dan berdasarkan temuan perkembangan kasus baru di sejumlah wilayah pedalaman Sierra Leone, kita masih mempunyai pekerjaan besar untuk mengatasi Ebola," kata Thompson. (Ant/Rtr/ r)