Hasil Mengejutkan di Pemilu Sela AS

2 Warga Afro-Amerika Duduk di Senat dan DPR

- Kamis, 06 November 2014 11:57 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/photo/dir112014/hariansib_-2-Warga-Afro-Amerika-Duduk-di-Senat-dan-DPR.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
SIB/AP Photo/Rick Bowmer
Anggota Republik Mia Love (tengah kiri) dipeluk ayahnya, Jean Maxime Bourdeau, setelah memenangkan pemilu sela di Utah, Selasa (4/11). Love adalah wanita perempuan kulit hitam pertama yang terpilih sebagai anggota DPR.
Washington (SIB)- Para pemilih South Carolina telah memilih warga Afro-Amerika pertama menjadi anggota Senat AS dari wilayah selatan sejak Perang Saudara Utara-Selatan dua abad silam. Tidak itu saja, di negara bagian sebelah barat AS, Utah, Mia Love menjadi perempuan kulit hitam pertama yang terpilih sebagai anggota DPR.Berusia 38 tahun, Love adalah mantan walikota Saratoga Springs, Utah.  Dia merebut satu kursi Kongres yang sudah dikuasai seorang Demokrat. Di South Carolina Tim Scott (49) dengan mudah merebut kembali kursi Senat setelah menjadi senator tanpa dipilih pada 2012 karena senator sebelumnya mengundurkan diri.Putera seorang asisten perawat yang tumbuh di lingkungan miskin dan kemudian sukses dalam bisnis serta politik lokal, Scott terkenal berpandangn konservatif dan kemenangannya akan kian menguatkan Partai Republik untuk meraih suara di luar pemilih warga kulit putih.Dia adalah senator kulit hitam pertama dari wilayah Selatan sejak era Rekonstruksi yang merupakan periode setelah Perang Saudara yang berakhir pada 1877. Dia akan mewakili negara bagian yang menjadi tempat pertama peluru ditembakkan pada Perang Saudara 1861 di mana pemberontak menembaki sebuah kapal pemerintah pusat (federal) di Port Charleston.Kemenangan Scott menandai suasana kebalikan yang mencengangkan dari senator yang sejak lama mewakili South Carolina, Strom Thurmond, yang adalah penentang utama kesetaraan rasial yang selama bertahun-tahun mengupapayakan pemisahan rasial,Sementara itu dinasti politik Bush mendapat anggota junior yang baru, George P. Bush, yang sukses memenangi Pilkada di Texas untuk mendapatkan posisi penting di negara bagian itu sebagai Land Commissioner. Bush berusia 38 tahun ini adalah keponakan mantan presiden George W. Bush, cucunda mantan presiden George H. W. Bush, dan anak mantan gubernnur Florida yang disebut-sebut calon presiden Jeb Bush.Bush memenangi kursi Land Commissioner (setingkat bupati di Indonesia) yang mengepalai bidang pertanahan dan pengawasan hak menambang minyak dan gas di Texas. Media lokal memproyeksikan bahwa Bush junior memenangi sekitar 60 persen suara melewati lawan-lawannya.Pengacara sebuah perusahaan energi ini adalah orang pertama dalam dinasi politik Bush setelah Senator Connecticut Prescott Bush yang sukses pada kesempatan pertamaPemilu yang diikutinya. Kendati nama Bush sensitif di pelataran nasional, namun dalam politik Texas nama masih laku. George W. Bush menjadi gubernur negara bagian ini sebelum menjadi Presiden AS pada 2001.Bush muda mampu mengumpulkan jutaan dolar AS untuk kampanyenya sehingga menembus rekor terbanyak untuk penggalangan dana guna memperebutkan pos yang biasanya tak banyak diperhatikan orang ini. Ibunda George P. Bush berasal dari Meksiko dan dia sendiri fasih berbicara Bahasa Spanyol yang menjadikan dia calon yang menarik bagi warga Latino Texas.Bush muda ini juga punya pengalaman militer karena pernah menjadi perwira pada pasukan cadangan Angkatan Laut AS. Sebagai Land Commissioner, Bush akan mengawasi aliran pendapatan besar dari sektor minyak dan gas yang selama ini membiayai sekolah-sekolah negeri di Texas. Soroti Isu Ekonomi dan KeamananKekalahan Demokrat sudah diprediksi menyusul berbagai jajak pendapat publik yang menunjukkan para pemilih AS sangat tidak puas dengan pemerintah dan khawatir akan ancaman dari luar negeri. Ini terutama sangat dirasakan oleh kelompok yang suaranya diperebutkan oleh Partai Republik dan Demokrat, yaitu: perempuan.Para pengamat mengatakan jika perempuan fokus pada keamanan nasional, itu bisa jadi kabar buruk bagi Demokrat, yang mayoritasnya di Senat terancam. Banyak perempuan di seluruh AS khawatir akan isu-isu ekonomi dan keamanan nasional. Dan kedua partai politik itu sadar kaum perempuan akan menentukan siapa yang mendominasi Senat dan sebagian posisi gubernur.Seorang pengunjung Alabama Nancy Capiello mengatakan dia tidak akan memilih. Ia mengatakan, “Saat ini saya merasa harus lebih memperhatikan keluarga terdekat saya, dan hal-hal lain kurang begitu penting karena saya merasa tidak ada orang yang bekerja untuk menyelamatkan atau melindungi kita dengan cara apapun.”Hawa Coulibaly dari Virginia mengatakan tidak berniat untuk memilih, namun selalu mengikuti perkembangan. “Saya khawatir dengan apa yang terjadi tetapi saya merasa pemerintah mengendalikannya. Saya merasa pemerintah melakukan hal yang sebaik-baiknya,” ujar Hawa. Respon-respon ini mencerminkan pendapat perempuan yang disampaikan kepada berbagai jajak pendapat.Margie Omero bekerja di perusahaan riset publik Purple Strategies di Virginia. Dia menyebut sikap itu “mengenaskan.” “Orang-orang merasa keadaan ekonomi lebih baik. Tetapi kita melihat kekhawatiran akan ekonomi digantikan oleh kekhawatiran mengenai disfungsi pemerintah dan ketidakstabilan internasional - ISIS atau Ebola atau kerentanan internasional, penembakan di sekolah, kriminalitas,” kata Margie.Neil Newhouse, seorang petugas poling pada Public Opinion Strategies di Virginia, sepakat dan mengatakan ini bisa jadi kabar buruk bagi Demokrat. Dia juga mengatakan, ada kesenjangan gender dalam politik AS selama berpuluh-puluh tahun.“Laki-laki lebih cenderung ke Republik, dan perempuan lebih cenderung ke Demokrat. Laki-laki cenderung memilih karena isu-isu ekonomi, dan perempuan cenderung memilih karena isu-isu keamanan yang personal,” tambahnya. Dan bahkan dalam kelompok pemilih perempuan sendiri, ada kesenjangan lainnya, kata Isabel Sawhill dari Brookings Institution. “Perempuan yang menikah cenderung memilih Republik daripada Demokrat, sedangkan perempuan yang tidak menikah cenderung memilih Demokrat, jadi bukan hanya kesenjangan gender yang cenderung memilih Demokrat secara keseluruhan,” papar Isabel. Banyak perempuan AS mengatakan mereka ingin Kongres dan presiden bekerja sama untuk menangani kekhawatiran mereka. (Ant/AFP/VoA/ r)


Tag:

Berita Terkait

Luar Negeri

Sapa Warga di Bantaran Sungai Babura, Rico Waas Tegaskan Komitmen Respons Cepat dan Tepat Sasaran

Luar Negeri

Pemko Medan Luncurkan PKH Adil Makmur Bantu Warga Kurang Mampu

Luar Negeri

Warga Geram, Arus Listrik di Kotapinang Padam Menjelang Pelaksanaan Ibadah Magrib

Luar Negeri

Bupati Tapteng Bantu Evakuasi Warga, BPBD Update Banjir di Tapteng

Luar Negeri

Jelang Imlek, Penjualan Buah di Medan Meningkat Tajam

Luar Negeri

Minggu Kasih Polres Batu Bara Menyapa Warga, Tebar Bantuan dan Perkuat Silaturahmi