Irak (SIB)- Kelompok militan ISIS kembali menggemparkan jagat maya dengan video yang baru saja diunggahnya ke laman Youtube. Mereka mengunggah video yang menggambarkan puluhan anak-anak Kazakhstan, dilatih secara militer dengan senapan serbu AK-47.Seperti dilansir dari laporan AP, Minggu (23/11), video berjudul "Race Toward Good" yang berdurasi dua menit 15 detik itu diproduksi oleh kelompok dari Al-Hayat Media Center. Aktivitas di dalam video terlihat kentara, lantaran dibuat dengan kualitas tinggi."Coba lihat saudara terbaru kami dari tanah Kazakhstan. Mereka memiliki resistensi tinggi menanggapi agresi tentara Salib dan melatih anak-anak mereka, agar tahu betul bagaimana cara yang benar kembali kepada Allah," sebut narasi dalam video tersebut.Sementara itu, salah seorang pejuang Kazakhstan mengatakan, pihaknya melakukan pelatihan ini sebagai langkah untuk mempersiapkan diri mereka melawan orang-orang kafir (non-Muslim) dan mushrikin (musyrik) yang menyebarkan kekufuran. "Kami juga berperang untuk melawan berbagai tindakan tawaghit (berdosa) dalam segala bentuk yang dihadirkan kaum kafir dan mushrikin," sebutnya.Dalam video propaganda itu, terlihat jelas para anak-anak yang dilatih "menikmati" aktivitas tersebut. Di sela-sela latihan, mereka kerap berteriak "Allah Maha Besar". Bicara materi latihan, anak-anak yang kebanyakan berjenis kelamin laki-laki juga diajarkan bagaimana cara membaca dan menulis seperti halnya sekolah pada umumnya. Selain itu, mereka juga diajari bagaimana cara menafsirkan Alquran.Sedangkan materi kemiliteran, mereka diajarkan bagaimana menjadi penembak jitu, alias sniper dengan senjata canggih, termasuk berkelahi dengan teknik, dan materi taktik infanteri lainnya. "Mereka akan terus berlatih baik secara fisik dan militer sampai mereka benar-benar siap di pertempuran. Dengan izin Allah, mereka akan menjadi generasi penerus kami. Mereka adalah orang-orang yang akan mengguncang bumi dan menyebarkan agama kami ke seluruh penjuru bumi," sebut salah seorang pejuang ISIS di Khazakstan.Suara lantang anakTak kalah gentar dengan para seniornya, salah seorang anak yang dilatih mengaku senang mendapatkan ilmu yang memang menjadi kesukaannya. Dalam sebuah wawancara, Abdullah -nama anak itu-, menyatakan dirinya siap mati demi apa yang diyakininya."Saya senang berlatih di kamp. Di masa depan, saya akan menjadi penjagal bagi orang-orang kafir. Aku akan menjadi mujahid, Insya Allah (Insya Allah)," lantang Abdullah.Uniknya, dalam video itu juga digambarkan adanya seorang balita yang masih belum bisa berjalan namun sudah mengenakan seragam militer. Ia juga terlihat menggendong senapan tiruan, namun dengan semangat yang sama dengan kakak-kakaknya.Sementara itu, laporan menyebutkan jika setidaknya ada sekira 300 warga Kazakhstan yang telah melakukan perjalanan ke Suriah dan bergabung dengan ISIS. Data itu dikeluarkan Komite Keamanan Nasional Kazakhstan. "150 dari 300 warga Kazakhstan yang telah bergabung Negara Islam adalah perempuan," sebut Ketua Komite Keamanan Nasional Kazakhstan, Nurtai Aykayev.Eksekusi 23 Warga Militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) membunuh paling tidak 23 warga kabilah Arab saat menyerang wilayah Ramadi, kata seorang pemimpin kabilah dan seorang perwira polisi seperti dikutip AFP. Beberapa bagian dari Ramadi, ibukota provinsi Anbar, sudah di luar kendali pemerintah sejak Januari lalu. ISIS melancarkan serangan dahsyat dengan melakukan serangan bom, bom mobil dan serangan bersenjata selama berjam-jam dari empat arah dalam upaya memperluas pendudukannya.Sampai Sabtu (22/11), sebagian besar pertempuran itu sudah berakhir, namun bentrok masih terjadi di Ramadi selatan, yang jaraknya 100 km dari Baghdad. Salah satu dari pusat konsentrasi penduduk terbesar di Anbar masih dikuasai pemerintah.Kapten polisi Qaysar al-Hayani mengatakan militan ISIS telah mengepung para pejuang suku Albu Mahal dan Albu Fahad di Al-Sijariyah, sampai suku-suku kehabisan amunisi, lalu mereka mengeksekusi 23 warga kedua suku ini. Sheikh Omar al-Alwani, panglima suku-suku yang memerangi ISIS mengatakan sekitar 15 militan ISIS menyusup ke Al-Sijariyah, yang berada di bagian timur Ramadi, dengan berpura-pura sebagai mahasiswa dari suatu tempat.Ke-15 militan ISIS ini tak bersenjata ketika mereka masuk ke wilayah ini namun kemudian dipersenjatai oleh para pengkhianat suku dan menyerang kedua suku itu, dengan menewaskan 25 anggota kabilah Albu Fahad, kata Alwani. Baik Alwani maupun Hayani mengatakan bahwa Al-Sijariyah berhasil direbut kembali dengan menewaskan sekitar dua lusinan petempur ISIS.Kementerian pertahanan Irak menerbitkan penyatakan kepada Al-Sijariyah bahwa bentrok terjadi antara pasukan keamanan, suku-suku dan para milisi di satu pihak, melawan ISIS di pihak lain. Alwani mengatakan pertempuran juga terjadi Sabtu ini di Al-Hoz, di selatan Ramadi, sedangkan serangan lainnya oleh para militan berhasil dihalau, demikian AFP. Menjadi Anggota ISISKepala badan intelijen Swedia, Sabtu (22/11), menyatakan sekitar 300 warga negeri itu telah bergabung dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang kini menduduki sebagian wilayah Irak dan Suriah."Sebanyak 100 orang sudah terkonfirmasi ikut berperang di Timur Tengah, lalu ada ratusan lainnya yang belum terkonfirmasi atau belum dihitung. Sehingga totalnya mencapai antara 250 hingga 300 orang," kata kepala badan intelijen Swedia, Anders Thornberg.Lebih jauh Thornberg menambahkan jumlah pemuda Swedia yang meninggalkan negeri tersebut untuk berjihad bersama ISIS terus meningkat. "Sejumlah pemuda Swedia pergi meninggalkan negeri ini dan berlatih di kamp-kamp pelatihan, untuk belajar cara menggunakan bahan peledak dan senjata api," tambah Thornberg.Hal yang paling dikhawatirkan adalah mereka yang sudah terlatih bertempur itu kembali ke Swedia dan melakukan aksi terorisme di wilayah negeri Skandinavia tersebut. Pada akhir Oktober lalu, Swedia mengeluarkan undang-undang yang melarang warga negaranya terlibat dalam konflik bersenjata di luar negeri. Sebelumnya, kordinator anti-terorisme Uni Eropa, Gilles de Kerchove memperkirakan 3.000 warga Eropa telah bergabung dengan ISIS yang terus mengejutkan dunia dengan sejumlah video aksi pemenggalan. (AFP/Ant/AP/vvn/f)