Prancis (SIB)- Paus Fransiskus melontarkan kritikan terhadap negara-negara Eropa. Dalam pidatonya di Parlemen Eropa, Paus Fransiskus mengingatkan, “era filosofi†dan “ide besar†yang selama ini dianut bangsa Eropa telah digantikan oleh teknis birokrasi institusi Uni Eropa (UE). Paus Fransiskus juga mengingatkan Parlemen Eropa bahwa Uni Eropa sudah mulai dipandang sebagai institusi yang “membahayakan bangsa Eropa.†“Dalam beberapa tahun terakhir, setelah UE meluas, ada pertumbuhan ketidakpercayaan di antara penduduk terhadap sejumlah institusi yang dianggap suka menjauhkan diri, terlibat mengeluarkan peraturan yang dianggap sebagai insentif bagi orang-orang tertentu,†demikian ujar Paus Fransiskus seperti dilansir dari Telegraph, Selasa (25/11). “Ide-ide besar yang pernah menginspirasi bangsa Eropa sepertinya sudah kurang menarik, dan digantikan oleh teknis-teknis birokrasi dari institusi itu sendiri,†tukas Paus Fransiskus di hadapan para anggota Parlemen Eropa di Strasbourg, Prancis.Sebagai seorang Paus pertama dari Argentina dan non Eropa, Pernyataan Paus Fransiskus tersebut telah mendobrak tradisi Gereja Katholik Roma yang selalu memberikan dukungan tanpa syarat kepada Uni Eropa. Paus terakhir yang berpidato di hadapan anggota Parlemen Eropa di Strasbourg adalah Paus John Paulus tahun 1988. Paus asal Polandia tersebut melontarkan pujian bagi UE sebagai “pemancar peradaban†disaat Uni Soviet dan perang dingin memerintahkan kehancuran bagi Eropa. Paus Fransiskus mengingatkan Parlemen Eropa bahwa demokrasi perlu dipertahankan, menggunakan kata-kata yang mengkritik “keseragaman†tak populer kebijakan zona Eropa, yang mengambil-alih sejumlah pemilu untuk mendikte anggaran belanja negara-negara di UE yang menggunakan mata uang tunggal seperti Italia.“Sudah bukan rahasia lagi bahwa konsep persatuan dipandang sebagai keseragaman menyerang ketahanan sistem demokrasi, melemahkan kaum kaya, dan interaksi konstruktif sejumlah organisasi dan partai politik,†papar Paus Fransiskus. “Hal itu berisiko bagi kelangsungan dunia ide, minim berkata-kata, menyesatkan dan berakhir pada membingungkan realitas demokrasi dengan nominal politik baru, tukasnya. (Telegraph/R16/i)