Proses Pemakzulan Yingluck Shinawatra Dimulai

- Sabtu, 29 November 2014 15:52 WIB
Bangkok (SIB)- Legislatif militer Thailand memulai proses permakzulan terhadap mantan Perdana Menteri Thailand yang digulingkan, Yingluck Shinawatra, Jumat (28/11). Proses tersebut dilakukan sebagai akibat dari program subsidi beras oleh Yingluck, yang merugi. Seperti dilansir dari AP, proses pemakzulan tersebut dipandang sebagai langkah lanjut untuk mencoba mengakhiri pengaruh kuat politik keluarga Shinawatra di pemerintahan Thailand. Yingluck digulingkan dari jabatannya Mei lalu, setelah pengadilan menemukan dia bersalah atas penyalahgunaan kekuasaan, beberapa hari sebelum militer mengambil alih pemerintahan menyusul demonstrasi jalanan berbulan-bulan yang bertujuan mengusir pemerintahan Yingluck.Sehari setelah penurunan Yingluck, Komisi Nasional Anti-Korupsi Thailand menyatakan perempuan mantan perdana menteri itu bersalah atas penyalahgunaan skema beras. Keputusan yang dikeluarkan oleh junta atau secara resmi dikenal sebagai Dewan Nasional untuk Ketentraman dan Ketertiban (NCPO), bergerak selangkah lebih dekat untuk membasmi pengaruh Yingluck dan kakaknya mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra.Thailand telah mengalami serangkaian pergolakan politik sejak Thaksin disingkirkan dalam kudeta sebelumnya pada tahun 2006. Kerajaan Shinawatra juga terbagi berdasarkan pendukung dan musuh-musuhnya. Pakar Asia Tenggara dari konsultan politik berbasis di New York, Eurasia Group, Ambika Ahuja, mengatakan bahwa pihak militer menggunakan ancaman permakzulan sebagai alat "tawar-menawar". "Mengingat reaksi potensial dari pendukung akar rumput Thaksin, tentara akan melanjutkan prosesnya secara hati-hati," kata Ahuja. Militer ingin menggunakan kemungkinan impeachment sebagai tawar-menawar daripada menyudahi permainan segera, kata Ahuja. "Kami telah menetapkan Jumat, 9 Januari 2015, menjadi hari pembukaan sidang yang melibatkan terdakwa, Komisi Anti-Korupsi Nasional dan terdakwa Yingluck," kata Pornpetch Wichitcholachai, Presiden Majelis Legislatif Nasional.Skema pembelian beras yang membayar petani hingga 50 persen di atas tarif pasar untuk hasil panen mereka, membantu membawa Yingluck berkuasa dalam pemilihan umum pada tahun 2011 karena dukungan dari para petani terutama di daerah utara dan timur laut negara itu. Namun skema tersebut menciptakan ketidakstabilan finansial yang mengakibatkan ratusan ribu petani tidak dibayar dan diperkirakan 19,2 juta ton beras masih belum terjual dan berada di gudang negara.Sidang tersebut akan berlangsung selama 45 hari sebelum dilakukan pemungutan suara untuk memproses pendakwaan terhadap pemakzulan Yingluck. Junta juga telah merobak pelayanan sipil dan membersihkan beberapa perwira senior di kepolisian, setelah terlihat sebagai lembaga yang setia pada Thaksin untuk mencoba untuk menetralisir sekutu-sekutunya.Yingluck menghadapi tuntutan pidana terpisah yang diajukan terhadap dirinya oleh Komisi Anti Korupsi Nasional atas skema beras tersebut. Jika terbukti bersalah Yingluck akan menghadapi hingga 10 tahun hukuman penjara. Namun jaksa penuntut umum mengatakan belum ada bukti yang cukup dan akan membentuk komite untuk menyelidiki lebih lanjut kasus itu. (AP/Ant/q)


Tag:

Berita Terkait

Luar Negeri

Tahun Ini, 12 Ruas Jalan di Medan Bebas Kabel Udara

Luar Negeri

Staf dan ASN Diskop UKM Sumut Prihatin Pimpinan Terjerat Hukum

Luar Negeri

Polres Labuhanbatu Sambut Kapolres Baru AKBP Wahyu Endrajaya, Lepas AKBP Choky Sentosa Meliala dengan Kekeluargaan

Luar Negeri

Panglima TNI Mutasi 187 Pati Termasuk Letjen Widi Prasetijono

Luar Negeri

Ribuan Umat Kristiani Hadiri Perayaan Natal Kota Tanjungbalai Tahun 2025

Luar Negeri

Keluarga Besar SMA Negeri 1 Pematangsiantar Rayakan Natal Bersama Guru dan Siswa