Guinea (SIB)- Korban ebola yang meninggal kini bertambah 1.200 orang, terhitung sejak Rabu (27/11). Sehingga total penderita ebola yang meninggal di Afrika Barat sudah mencapai 7.000 orang.Seperti dilansir AFP, Sabtu (29/11), data dari World Health Organization (WHO) menyebutkan 16.169 orang telah terinfeksi ebola. 6.928 di antaranya telah meninggal.Korban yang meninggal adalah penderita ebola di
tiga negara di Afrika Barat yang menjadi pusat wabah. Tiga negara itu adalah Sierra Leone, Guinea dan Liberia.
Angka kematian terakhir menunjukkan peningkatan tajam, terutama di wilayah Liberia. Namun WHO tidak memberikan penjelasan mengenai data peningkatan tersebut.Walau begitu, pengumpulan data penderita ebola dan korban meninggal sangat sulit dilakukan. Data terkini saja baru mencakup 70 persen dari penderita ebola, karena
sebagian penderita tak melaporkan penyakit yang mereka derita.
Kunjungi Wabah EbolaPresiden Prancis Francois Hollande menjadi pemimpin negara Barat pertama yang mengunjungi negara dengan infeksi Ebola tinggi. Dia datang ke Guinea tanpa takut terkena virus mematikan itu. Surat kabar the Daily Mail melaporkan, Sabtu (29/11), bersama rombongan pengawalnya Hollande disambut oleh Presiden Guinea Alpha Conde. Dalam lawatannya itu Hollande berjanji memberikan bantuan obat-obatan bagi negara-negara yang terkena Ebola parah. Ada tiga negara yang terkena dampak buruk virus ini yakni Liberia, Sierra Leone, dan Guinea. Lebih dari 5.700 orang tewas di ketiga wilayah itu. Di Guinea sendiri sekitar 1.260 orang meninggal dan 2.134 terinfeksi Ebola. "Kami bersama Anda memerangi virus ini dan kami punya tugas mendukung Anda dalam memberantas Ebola," ujar Hollande saat mengunjungi salah satu rumah sakit di Guinea.Selanjutnya Hollande bakal mengunjungi Senegal untuk menghadiri pertemuan di Ibu Kota Dakar. Presiden Prancis ini juga menjanjikan akan
membicarakan dan menggerakkan dunia Internasional untuk melawan Ebola. Prancis telah menggelontorkan dana sekitar Rp 1,5 triliun
demi memerangi Ebola terutama di Guinea. Uang itu digunakan untuk membangun sejumlah pusat kesehatan dan membayar tenaga medis yang melayani penderita virus tersebut.
(AFP/dtc/f)