Beirut (SIB)- Militer Libanon berhasil menangkap istri dan anak laki-laki pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi. Keduanya ditangkap ketika tengah menyeberang perbatasan
dari Suriah baru-baru ini. Informasi tersebut disampaikan oleh pejabat keamanan Libanon yang enggan disebut namanya, seperti
dilansir Reuters, Selasa (2/12). Namun pejabat Libanon tersebut menolak untuk menyebutkan nama maupun kewarganegaraan wanita yang mereka sebut sebagai salah
satu istri Baghdadi.Surat kabar setempat, As-Safir melaporkan bahwa penangkapan istri pemimpin ISIS tersebut dilakukan militer Libanon dalam koordinasinya dengan intelijen asing. Disebutkan oleh As-Safir, istri Baghdadi bepergian dengan paspor palsu ditemani salah satu anak laki-lakinya. Libanon berbatasan langsung dengan Suriah di bagian timur. Tidak diketahui pasti kapan istri dan anak Baghdadi tersebut ditangkap. Namun menurut As-Safir, para penyidik Libanon kini tengah diinterogasi di kantor pusat Kementerian Pertahanan Libanon.Baru-baru ini, foto wanita bernama Saja Hamid al-Dulaimi yang diyakini sebagai istri al-Baghdadi beredar di media online. Tapi belum bisa dipastikan apakah ia benar istri si
pemimpin ISIS atau bukan. Sebab istri pemimpin ISIS dikabarkan lebih dari satu.Sebelumnya al-Baghdadi dikabarkan kritis terkena serangan udara koalisi militer yang dipimpin Amerika Serikat di Kota Perbatasan Irak Barat, al-Qaim. Sumber lain
menyebut al-Baghadi tewas bersama pemimpin ISIS lainnya akibat serangan tersebut. Namun hingga kini, belum diketahui bagaimana nasib sang pemimpin tertinggi ISIS, apakah masih hidup atau sudah mati.Baghdadi memproklamasikan khilafah Negara Islam Irak dan Suriah yang kini mereka sebut dengan Negara Islam, Juni lalu. Dia dimasukkan pada daftar awas terorisme pada Oktober 2011 oleh Amerika
Serikat. Tidak itu saja, AS juga memberi hadiah 10 juta dolar AS bagi siapa pun yang bisa menangkapnya.Militer Libanon meningkatkan kewaspadaannya di perbatasan semenjak ISIS merajalela di Irak dan Suriah. Libanon juga banyak menghadapi simpatisan ISIS di wilayahnya. Dalam beberapa bulan terakhir, otoritas Libanon
menangkap sejumlah anggota militan yang melakukan serangan di negara tersebut demi memperluas pengaruh ISIS.Penangkapan itu kemungkinan akan dimanfaatkan Libanon sebagai alat tawar menawar di tengah-tengah upaya pemerintah Libanon tengah mengupayakan pertukaran tahanan dengan ISIS dan Front Nusra, cabang Al Qaeda Suriah yang menyandera lebih 20 tentara Libanon dan polisi sejak Agustus. Seorang petugas pengadilan mengatakan jaksa penuntut militer akan mengawasi interogasi, seraya menambahkan tes DNA juga sedang dilakukan untuk memastikan apakan anak yang ikut ditangkap adalah putra al-Baghdadi.Tidak banyak diketahui mengenai kehidupan pribadi istri al-Baghdadi, termasuk jumlah istri dan anaknya. Istri al-Baghdadi diyakini warga Irak bernama Saja al-Dulaimi yang pernah ditahan pihak berwenang Suriah namun dibebaskan menyusul kesepakatan pertukaran tahanan dengan Front Nusra.
BUNGKER SENJATA KIMIASementara itu militer Irak mengklaim berhasil merebut kembali bungker berisi sisa-sisa senjata kimia yang selama ini dikuasai ISIS. Bungker tersebut merupakan peninggalan era mendiang Saddam Hussein. ISIS berhasil menguasai kompleks bungker tersebut pada Juni lalu, namun mereka tidak berhasil masuk ke dalam. Senjata kimia tua, roket serta perlengkapan lainnya disimpan di dalam dua bungker yang disegel oleh pemerintah Irak.Wakil Menteri Luar Negeri Irak, Mohammad Jawad Al-Doraky menuturkan, militer Irak berhasil mengusir ISIS dari kompleks bungker tersebut dan mengambil alih. Menurut Al-Doraky, sebuah fasilitas untuk menghancurkan sisa-sisa senjata kimia yang disimpan di dalam bungker tersebut tengah dipersiapkan. Fasilitas tersebut dibangun dengan dana bantuan AS sebesar puluhan juta dolar AS."Militer Irak, selama periode sebelumnya, menemukan kompleks Muthanna dan akses jalan ke lokasi itu," ucap Al-Doraky kepada delegasi dalam konferensi tahunan Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW). "Teknisi militer kini bekerja untuk memindahkan ranjau dan bahan peledak dari sekitar lokasi dan wilayah tersebut," imbuhnya. "Teroris tidak akan bisa memasuki bungker yang disegel tersebut," tandas Al-Doraky.Isi bungker tersebut berisi senjata kimia yang pada era Saddam Hussein tahun 1980-an silam, digunakan untuk membunuh ribuan warga Kurdi di Irak. Isi bungker tersebut diwajibkan untuk dihancurkan di bawah Konvensi Senjata Kimia.
HAPUS MEDIA SOSIALOtoritas Amerika Serikat memperingatkan personel militernya untuk waspada terhadap militan ISIS. Sebabnya, ada kemungkinan ISIS merencanakan serangan terhadap mereka di wilayah AS. Hal itu disampaikan dalam buletin intelijen gabungan yang dikirimkan kepada badan penegak hukum AS oleh FBI dan Departemen Keamanan Dalam Negeri.Intinya, buletin tersebut mengimbau seluruh anggota militer AS untuk menghapus akun media sosial mereka maupun hal lainnya di internet, yang kira-kira menarik perhatian ISIS, atau mengungkapkan identitas tentara-tentara AS. Disebutkan ABC News, otoritas AS mengindikasikan telah menerima informasi intelijen bahwa ISIS tengah menargetkan wilayah AS, tepatnya di perbatasan. "FBI baru-baru ini menerima laporan yang mengindikasikan individu di luar negeri tengah mencari dan menargetkan individu dengan satu pikiran yang bersedia dan mampu melakukan serangan terhadap anggota militer AS, baik yang masih aktif maupun yang sudah tidak aktif, yang berbasis di AS," demikian isi buletin tersebut, menurut sumber Reuters.Saat dikonfirmasi, juru bicara FBI membenarkan laporan ABC News tersebut, namun dia menolak untuk menunjukkan salinan memo peringatan kepada militer tersebut. Sedangkan juru bicara Pentagon, Kolonel Steve Warren menyebutkan bahwa memo tersebut bertujuan memperkuat panduan bagi personel militer yang baru saja menyelesaikan tugasnya beberapa mingu lalu.Baru-baru ini, diketahui bahwa Pentagon meminta staf dan pegawainya untuk lebih waspada dan memeriksa akun media sosial mereka. Instruksi ini dikeluarkan setelah dua tentara Kanada tewas dalam serangan teroris terpisah di dalam wilayah Kanada pada Oktober lalu."Departemen ini sudah sejak lama waspada dan memperhatikan potensi ekstremisme yang tumbuh di wilayah domestik dan kami terus mendorong dan menasihati seluruh personel kami untuk selalu waspada tingkat tinggi," ucap Warren. Secara terpisah, sumber dari kalangan pemerintah AS menuturkan kepada Reuters, peringatan ini dikeluarkan sebagai respons atas maraknya ancaman terhadap militer AS via media sosial oleh terduga militan.
(Detikcom/AP/R15/i)