Hong Kong (SIB)- Tiga pencetus utama kelompok pro-demokrasi gerakan Occupy Central, Selasa (2/12), sambil berderai air mata memutuskan untuk menyerahkan diri kepada polisi dan meminta para pengunjuk rasa yang masih bertahan untuk mundur. "Di saat kami mempersiapkan diri untuk menyerah, kami bertiga meminta para pelajar untuk mundur, menanamkan akar di masyarakat dan mengubah cara pergerakan," kata pemimpin Occupy Central, Benny Tai.Pengumuman itu muncul setelah ratusan pengunjuk rasa pro-demokrasi bentrok dengan polisi Minggu malam mengakibatkan puluhan orang terluka, dalam malam paling penuh kekerasan sejak aksi ini dimulai dua bulan lalu. Benny Tai mengatakan dia dan kedua temannya akan menyerahkan diri pada Rabu (3/12), sebagai sebuah komitmen terhadap hukum serta prinsip perdamaian dan cinta."Menyerahkan diri bukan sebuah aksi pengecut, ini adalah aksi berani berdasarkan sebuah janji. Menyerang bukan untuk gagal, ini merupakan sebuah kritik senyap terhadap sebuah pemerintahan yang tak memiliki nurani," tambah Benny.Benny memuji keberanian para pengunjuk rasa dan mengkritik polisi telah lepas kendali sekaligus mengatakan sudah waktunya para pengunjuk rasa meninggalkan tempat berbahaya itu. Benny Tai, Chan Kin-man dan Chu Yiu-ming mendirikan kelompok perlawanan sipil Occupy Central pada awal 2013 untuk mendorong reformasi politik di Hongkong. Namun, belakangan kelompok ini lebih banyak berada di belakang aksi setelah kelompok pelajar yang lebih radikal mulai mengambil alih gerakan pro-demokrasi. Joshua Wong, salah seorang pemimpin demo, mengatakan dia dan dua anggota kelompoknya akan melakukan demo mogok makan hingga tuntutan mereka dipenuhi. Demo yang berlangsung sejak beberapa bulan lalu, di mana para demonstran menghendaki rakyat Hongkong bisa memilih kepala pemerintahan pada pemilihan umum 2017 tanpa campur tangan Beijing, berakhir ricuh. Para aktivis prodemokrasi dan anggota kepolisian Hong Kong bentrok tatkala ribuan orang berupaya mengepung kantor pemerintah sejak Minggu malam. Dengan memakai helm proyek dan masker debu, para demonstran berjibaku dengan polisi yang bersenjatakan pentungan kayu dan semprotan merica di distrik Admiralty. Kepolisian Hongkong mengatakan, sebanyak 45 orang telah ditahan dan sejumlah petugas mengalami cedera. Insiden kekerasan itu terjadi setelah para pimpinan gerakan protes menyeru kepada demonstran untuk bergerak dari kamp-kamp di Connaught Road ke kantor kepala pemerintahan Hongkong, CY Leung.Seraya mereka berjalan menuju lokasi, para demonstran melempari benda-benda ke arah polisi. Mereka juga berseru, “Saya ingin demokrasi sejati.†Polisi memerintahkan para demonstran untuk mundur. Ketika mereka menolak, polisi lalu menyerbu dan memukul mundur.“Aksi kami dilakukan demi melumpuhkan kerja pemerintah. Pemerintah selama ini menunda-nunda...dan kami percaya bahwa kami perlu memusatkan tekanan ke kantor pemerintah, simbol kekuasaan,†kata Alex Chow, ketua gerakan protes pelajar. Pekan lalu, lebih dari 100 orang—termasuk tokoh-tokoh kunci gerakan protes—ditahan di kawasan Mong Kok yang berfungsi sebagai kamp demonstran. (AP/R15/d)