Putin Tuduh Sejumlah Negara Berupaya Hancurkan Rusia

- Sabtu, 06 Desember 2014 11:31 WIB
Moskow (SIB)- Presiden Rusia Vladimir Putin, Kamis menuduh musuh-musuh Moskow tengah berupaya menghancurkan ekonomi negaranya untuk mencegah Kremlin menjadi aktor internasional kuat.Dalam pidato tahunan yang kental dengan nuansa pratriotik, Putin membanggakan aneksasi atas semenanjung Krimea dan memuji kekuatan rakyat Rusia sambil mengejek sinisme Barat soal krisis Ukraina. Dia juga mengatakan bahwa sanksi ekonomi yang diderita Rusia harus menjadi cambuk agar negara tersebut mengembangkan ekonominya yang mandiri."Kami siap menghadapi setiap tantangan dan menang," kata Putin yang kemudian disambut dengan tepuk tangan meriah dari sekitar 1.000 pejabat yang hadir.Pada saat bersamaan, mata uang rubel jatuh dan diperkirakan akan membuat ekonomi Rusia semakin jatuh ke dalam krisis yang diperparah oleh menurunnya harga minyak dunia.Menanggapi persoalan ekonomi itu, Putin menyalahkan Barat dan menuduh mereka tengah berupaya menerapkan politik isolasi--yang pada masa Perang Dingin dikenal dengan Tirai Besi--terhadap Rusia. Menurut Putin, negara-negara tersebut berharap Moskow akan hancur seperti Yugoslavia pada 1990an."Tidak diragukan lagi, mereka akan senang menyaksikan hancurnya Yugoslavia terulang di negara kita--dengan semua konsekuensi tragis yang akan dialami oleh warga di sini. Skenario ini tidak boleh terjadi," kata dia.Lebih dari itu, Putin juga yakin bahwa negara-negara Barat tetap akan menerapkan sanksi ekonomi meskipun krisis Ukraina tidak terjadi."Saya yakin jika semua peristiwa ini tidak terjadi, mereka akan mencari alasan lain demi mencegah Rusia menjadi negara kuat," kata dia.Menurut sejumlah pengamat, retorika Putin itu tidak akan banyak membantu perekonomian Rusia bangkit. Mantan deputi bank sentral, Sergey Aleksashenko, bahkan mengaku frustasi terhadap kegagalan sang presiden dalam hal ekonomi."Tidak ada hal yang perlu didiskusikan ataupun diharapkan. Semuanya akan terus berlanjut sebagaimana sekarang dan ini adalah yang dikehendaki Putin," kata Aleksashenko.Analis lain, Dmitry Trenin  dari lembaga Carnegie Moscow Centre, memperkirakan Rusia akan mengalami periode yang sulit selama 4-5 tahun ke depan.Sementara itu sejumlah pengamat politik mengatakan bahwa Putin akan terus memainkan sentimen nasionalis dan permusuhan dengan Barat untuk menutupi persoalan ekonomi yang dihadapi Rusia.Popularitas Putin di Rusia sendiri masih sangat tinggi dan sampai saat ini belum muncul gerakan sipil kuat yang mengkritik krisis ekonomi. Namun di sisi lain, kejatuhan rubel merupakan akhir dari stabilitas mata uang yang sering kali dibanggakan Putin sepanjang 15 tahun kekuasaannya.Mata uang rubel sudah turun sepertiga dari nilai awal tahun. Sementara di sisi lain, jatuhnya harga minyak dunia juga memukul keuangan negara sehingga menyulitkan perusahaan-perusahaan setempat membayar hutang yang pada umumnya berbentuk dolar AS. (Ant/Rtr/d)


Tag:

Berita Terkait

Luar Negeri

Tujuh Rumuh di Desa Kutabangun Karo, Diterjang Angin Puting Beliung

Luar Negeri

Angin Puting Beliung Rusak Enam Rumah Warga di Tarutung

Luar Negeri

Bertemu Prabowo, Putin Ucap Belasungkawa Bencana Banjir Sumatera

Luar Negeri

Polda Sumut Rilis Data: 488 Bencana Terjadi, 147 Warga Meninggal dan 174 Masih Hilang

Luar Negeri

Polda Sumut Kerahkan 1.754 Personel untuk Penanganan Cepat dan Terukur di 20 Wilayah Bencana

Luar Negeri

Angin Puting Beliung Terjang Desa Sumbersekar Malang