Phoenix (SIB)- Insiden penembakan berbau rasial kembali terjadi di wilayah Amerika Serikat. Seorang polisi di Phoenix, Amerika Serikat menembak mati seorang pria kulit hitam yang dicurigai menjual narkoba. Kepolisian Phoenix, seperti dilansir Reuters, Jumat (5/12), menuturkan pria bernama Rumain Brisbon (34) ini berada di dalam mobilnya, yang berhenti di luar minimarket setempat pada Selasa (2/12) lalu. Dua saksi mata melapor kepada polisi yang berpatroli di sekitar lokasi, bahwa mobil yang ditumpangi Brisbon tersebut menjual narkoba.Dalam pernyataannya, kepolisian Phoenix menyatakan bahwa polisi tersebut kemudian meminta bantuan personel lain. Namun dia sempat melihat Brisbon bergerak dan seperti memindahkan sesuatu dari kursi penumpang di belakang.Menurut kepolisian, polisi yang sudah mengabdi selama 7 tahun tersebut meminta Brisbon untuk menunjukkan kedua tangannya. Namun Brisbon menempatkan satu tangannya di bagian pinggang dan melarikan diri. Si polisi kemudian mengejar Brisbon hingga akhirnya berhasil menangkapnya dan keduanya terlibat pergulatan sengit. Saat pergulatan tersebut, polisi meyakini dirinya merasakan ada pistol di dalam saku Brisbon. "Polisi memberikan perintah agar dia tiarap tapi dia menolak, dan malah berteriak dan memaki petugas," demikian pernyataan kepolisian Phoenix.Pada saat itu, salah satu penghuni apartemen membuka pintu dan kedua pria tersebut masuk ke dalam rumah penghuni apartemen tersebut. Dalam pergulatan tersebut, si polisi gagal untuk memegangi tangan Brisbon yang diyakini memegang pistol di dalam saku celananya."Takut karena Brisbon memiliki pistol di dalam sakunya, petugas melepas tembakan dua kali ke bagian dada Brisbon," imbuh pernyataan tersebut. Usai tembakan dilepas, personel kepolisian yang lain tiba di lokasi. Brisbon yang terkena tembakan sempat mendapat perawatan medis, namun akhirnya dia dinyatakan tewas di lokasi kejadian.Kepolisian setempat menyebutkan, Brisbon diketahui membawa sebotol pil oxycodone, sebuah senapan semi-otomatis dan sebuah toples yang diyakini berisi mariyuana di dalam mobilnya. Sedangkan polisi berusia 30 tahun tersebut tidak mengalami luka apapun. Sementara itu demonstrasi mengecam keputusan dewan juri yang tidak akan mengadili polisi yang mencekik pria kulit hitam hingga tewas terus berlanjut. Ratusan orang masih memadati jalan-jalan utama Kota New York untuk menggelar aksi demonstrasi. Akibat aksi ini Kota New York macet parah.Demonstrasi dimulai ketika jam sibuk pulang kantor pada sore waktu New York. Pihak kepolisian pun kewalahan mengatur lalu-lintas di sana. Sementara itu di pusat kota Times Square, sekira 3.000 orang berkumpul untuk memprotes keputusan Dewan Juri. Aksi ini terus berlanjut hingga menjelang tengah malam waktu New York. Selain itu para pendemo juga memblokade jalan 42nd Street and Seventh Avenue di Kota New York, sehingga kemacetan panjang tidak dapat dihindarkan. Dari kota Washington D.C dilaporkan sekira ratusan orang menggelar aksi demonstrasi di depan Kementerian Kehakiman Amerika Serikat (AS), mereka menuntut agar dilakukan reformasi di bidang hukum di AS.Keputusan Dewan Juri New York yang membebaskan seorang polisi kulit putih bernama Daniel Pantaleo telah membuat gelombang demonstrasi anti rasis meluas di seluruh AS. Seperti diberitakan sebelumnya, Pantaleo dibebaskan oleh Dewan Juri dari tuduhan melakukan pembunuhan pemuda kulit hitam bernama Eric Garner. Padahal rekaman video menunjukan Pantaleo mencekik Eric, dan korban telah berteriak “Saya tidak bisa bernapasâ€. (Detikcom/d)