Nairobi (SIB)Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
Antonio Guterres memperingatkan bahwa invasi darat Israel terhadap
Rafah, Jalur Gaza bagian selatan, akan menyebabkan "bencana kemanusiaan yang epik".Seperti dilansir AFP dan Al Arabiya, Sabtu (11/5), peringatan itu disampaikan Guterres setelah para perunding meninggalkan perundingan gencatan senjata yang digelar di Kairo, Mesir, tanpa menghasilkan kesepakatan apa pun."Serangan darat besar-besaran di
Rafah akan menyebabkan bencana kemanusiaan yang besar dan menghentikan upaya kita untuk membantu masyarakat ketika kelaparan mulai terjadi," ucap Guterres saat berkunjung ke Nairobi, Kenya, pada Jumat (10/5) waktu setempat.Dia menambahkan bahwa situasi di Jalur Gaza bagian selatan kini bagaikan "di ujung pisau"."Kita secara aktif terlibat dengan semua pihak yang terlibat untuk melanjutkan kembali masuknya pasokan penyelamat nyawa -- termasuk bahan bakar yang sangat dibutuhkan -- melalui perlintasan perbatasan
Rafah dan Kerem Shalom," tegasnya.Guterres mengulangi seruannya untuk gencatan senjata di Jalur Gaza.
100.000 Orang Ngungsi PBB melaporkan bahwa jumlah orang yang mengungsi dari
Rafah, bertambah melebihi 100.000 ribu orang dalam beberapa hari terakhir. Eksodus massal terjadi saat ancaman invasi darat besar-besaran oleh Tel Aviv semakin membayangi kota paling selatan di Jalur Gaza itu.Seperti dilansir AFP dan Al Arabiya, Sabtu (11/5), militer Israel sejak Senin (6/5) waktu setempat menyerukan warga Palestina untuk segera mengungsi dan meninggalkan wilayah
Rafah bagian timur, yang semakin memicu kekhawatiran internasional yang luas akan terjadinya invasi darat secara besar-besaran.Badan anak-anak PBB, atau UNICEF, melaporkan lebih dari 100.000 orang telah mengungsi dari
Rafah sejauh ini. Sedangkan laporan badan kemanusiaan PBB atau OCHA menyebut jumlah orang yang mengungsi melebihi 110.000 orang.Semua mata tertuju pada
Rafah dalam beberapa pekan terakhir, yang populasinya membengkak menjadi sekitar 1,5 juta jiwa setelah ratusan ribu warga Palestina melarikan diri dari pertempuran di wilayah Jalur Gaza lainnya.Kepala sub-kantor OCHA di Gaza, Georgios Petropoulos, menyebut situasi di daerah kantong Palestina itu telah mencapai "level darurat yang belum pernah terjadi sebelumnya"."Perintah evakuasi baru-baru ini yang kami terima dari pemerintah Israel terkait dengan operasi militer di
Rafah kini memicu lebih dari 110.000 pengungsi yang harus berpindah ke utara," ucap Petropoulos dalam pengarahan via tautan video dari
Rafah, yang disampaikan di Jenewa, Swiss."Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang harus mengungsi sebanyak lima atau enam kali," sebutnya.Negara-negara di seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat (AS) yang merupakan pendukung utama Israel, telah mendesak Tel Aviv untuk tidak memperluas serangan darat ke
Rafah, dengan alasan kekhawatiran akan banyaknya korban sipil. (**)