Lilongwe (SIB)- Presiden Malawi Peter Mutharika mengumumkan separuh dari negara Afrika selatan itu satu zona bencana setelah hujan deras dalam beberapa hari lalu menewaskan setidaknya 48 orang dan menyebabkan 70.00 orang kehilangan tempat tinggal.Hujan lebat juga menghancurkan tanaman di negara, yang tahun lalu menghasilkan sekitar 3,9 juta ton jagung, surplus hampir satu juta ton.Departemen Badan Perubahan Iklim dan Meteorologi memperingatkan bahwa hujan lebat dan banjir bandang di negara itu dalam dua sampai tiga pekan ke depan."Sejauh ini, diperkirakan 69.995 orang terlantar akibat banjir dan 48 orang tewas. Banjir juga menghancurkan puluhan hektar tanaman, menghanyutkan ternak dan merusak prasarana seperti jalan-jalan dan jembatan-jembatan," kata Mutharika dalam satu pernyataan Selasa malam.Ia juga mengatakan banyak orang masih tetap terkurung dan perlu diselamatkan dari daerah-daerah rendah yang rawan banjir."Saya mengumumkan semua 15 distrik yang dilanda banjir ditetapkan sebagai Daerah-Daerah Bencana. Saya menyerukan bantuan kemanusiaan, dari masyarakat donor internasional," katanya.Ramalan panen di negara itu, di mana banyak pertanian masih dikerjakan para petani yang menggantungkan hidupnya pada sektor itu, memburuk setelah hujan turun yang lambat dalam musim tanam yang biasanya dilakukan Oktober atau November.Hujan-hujan komulatif yang berada di bawah rata-rata sejak awal musim hujan Oktober tahun lalu telah menimbulkan dampak merugikan pada tanaman biji-bijian tahun 2015, tetapi hujan lebat yang berkepanjangan bisa memperburuk situasi," kata Jeffrey Luhanga, Kepala Sekretariat Kementerian Pertanian.Cuaca lembab juga menyebabkan kerusakan di negara tetangga Mozambik, yang secara periodik dihantam banjir pada waktu lalu.Jembatan-jembatan ambruk di negara itu dan pemerintah yang baru dipilih mengumumkan satu "siaga merah" untuk daerah-daerah tengah dan utara negara itu dan mengirim perahu-perahu pertolongan dan bantuan ke daerah-daerah yang dilanda banjir.(Ant/Rtr/d)