Jakarta
(harianSIB.com)Sekitar 50 ribu warga
Turki turun ke jalan memadati
Lapangan Tandogan,
Ankara, Senin (15/9), untuk memprotes persidangan terkait tuduhan kecurangan suara pada kongres
Partai Rakyat Republik (CHP) yang mengukuhkan
Ozgur Ozel sebagai ketua umum.
Penggugat menilai kongres tersebut sarat manipulasi. Jika hakim memutuskan tuduhan itu terbukti, maka hasil kongres bisa dibatalkan dan posisi Ozel terancam dicopot.
Dalam aksinya, massa mengibarkan bendera Turki serta mengenakan kaus bergambar pendiri Republik Turki, Mustafa Kemal Ataturk. Wakil Ketua CHP, Murat Bakan, menyebut jumlah demonstran mencapai 50 ribu orang.
Di hadapan para pendukungnya, Ozel menegaskan bahwa sidang ini merupakan bentuk kudeta yudisial terhadap dirinya.
"Pemerintah ini tidak menginginkan demokrasi. Mereka tahu, jika demokrasi ada, mereka tidak akan menang pemilu. Mereka juga tidak menginginkan keadilan, karena keadilan akan membongkar kejahatan mereka. Kasus ini politis, tuduhannya fitnah. Ini kudeta, dan kami akan melawan," tegasnya dikutip AFP dan dilansir dari CNNindonesia.com.
Ia menuding pemerintah lebih memilih cara-cara menindas daripada bertarung melalui pemilihan umum.
"Sayangnya, siapa pun yang menimbulkan ancaman demokrasi terhadap pemerintah kini menjadi target pemerintah," ujarnya.
Ozel juga menyinggung Presiden Recep Tayyip Erdogan terkait banyaknya massa yang berkumpul menentang 'pembungkaman' demokrasi. Erdogan merupakan pimpinan partai berkuasa.
"Erdogan, pernahkah Anda melihat Lapangan Tandogan seperti ini?" tanyanya.
Di sisi lain, para pengunjuk rasa meneriakkan seruan agar Erdogan mundur dari jabatan kepala pemerintahan.
"Erdogan mundur!" teriak massa.
Persidangan ini dicurigai bertujuan untuk membatalkan hasil kongres CHP pada November 2023, dengan tuduhan kecurangan suara. Saat itu, kongres memilih Ozel sebagai pemimpin.
Para pengamat politik lokal menilai kasus hukum ini merupakan upaya bermotif politik untuk melemahkan partai politik tertua di Turki, yang meraih kemenangan besar atas Partai AKP yang dipimpin Erdogan. Sebab, dalam berbagai jajak pendapat, elektabilitas partai oposisi terus meningkat.(*)