Israel(harianSIB.com)
Saat matahari terbenam, Senin (22/9/2025), suara shofar, tanduk domba yang ditiup sebagai instrumen sakral, menggema di seluruh Israel. Tiupan berulang itu menandai perayaan Rosh Hashanah, Tahun Baru Yahudi, yang juga dikenal sebagai Hari Peniupan Sangkakala.
Dalam tradisi Yahudi, shofar ditiup sebanyak seratus kali. Setiap tiupan memiliki makna simbolis: Tekiah sebagai seruan stabil, Shevarim yang terputus-putus penuh penyesalan, hingga Teruah yang bergetar menyerupai tangisan. Tiupan terakhir, Tekiah Gedolah, disebut sebagai puncak yang melambangkan kelengkapan dan kesempurnaan ilahi.
Tiupan shofar bukan hanya ritual tahunan, melainkan panggilan untuk refleksi diri. Rosh Hashanah dikenal juga sebagai Yom Teruah (Hari Peniupan), Yom Ha-Din (Hari Penghakiman), dan Yom Hazikaron (Hari Peringatan). Pada hari ini, umat Yahudi diajak berhenti dari kesibukan duniawi dan melakukan introspeksi mendalam.
Rabbi Shmuly Yanklowitz, dalam sebuah esai, menekankan relevansi pesan shofar di zaman modern. Ia mengaitkannya dengan sejarah kehancuran Bait Suci Yerusalem pada tahun 70 Masehi, ketika seorang rabbi bijak, Yochanan ben Zakkai, memilih membangun sekolah alih-alih menuntut balas. Pesan itu dianggap relevan bagi masyarakat masa kini yang kerap terjebak dalam polarisasi dan konflik, termasuk di media sosial.
Baca Juga: Ribuan Peserta Meriahkan GAMKI Fun Run 2025 di Medan "Rosh Hashanah adalah tentang teshuvah, yakni kembali kepada jati diri terbaik kita," tulisnya.
Bagi sebagian orang, tiupan shofar juga menjadi simbol ketahanan menghadapi ketidakpastian hidup. Rabbi Simcha Scholar dari lembaga kemanusiaan Chai Lifeline menekankan bahwa kehidupan penuh tantangan, termasuk penyakit serius yang diderita anak-anak. Namun, dalam penderitaan itu muncul kekuatan, keteguhan, dan kepedulian yang sejalan dengan semangat Rosh Hashanah.