Manila (SIB)-Paus Fransiskus menyebut kebebasan berekspresi ada batasannya, terutama jika menyangkut penghinaan terhadap agama lain. Paus menilai siapapun tidak boleh menghina keyakinan dan agama orang lain. Seperti dilansir AFP dan Reuters, Jumat (16/1), pernyataan Paus ini disampaikan kepada wartawan dalam penerbangan dari Sri Lanka ke Filipina. Pernyataan ini masih berkaitan dengan serangan teror di Paris dan karikatur Nabi Muhammad yang kembali diterbitkan Charlie Hebdo."Membunuh dalam nama Tuhan merupakan sebuah kekonyolan," sebut Paus Fransiskus ketika ditanya soal serangan brutal terhadap majalah Charlie Hebdo yang menewaskan 12 orang. Namun Paus juga menyebutkan bahwa setiap orang tidak bisa mengejek atau menghina agama dan keyakinan yang dianut orang lain. Setiap agama, menurut Paus, memiliki martabat dan harus dihormati. "Anda tidak bisa memprovokasi, Anda tidak bisa menghina keyakinan lain, Anda tidak bisa mengolok-olok agama," tegasnya.Paus yang mengecam keras serangan teror di Prancis ini, kemudian ditanya wartawan soal keterkaitan antara kebebasan beragama dengan kebebasan berekspresi. Seperti diketahui, Charlie Hebdo mempublikasi karikatur Nabi Muhammad dengan dalih kebebasan berekspresi, namun karikatur tersebut dianggap sebagai penghinaan bagi umat muslim dunia."Saya pikir, baik kebebasan beragama dan kebebasan berekspresi sama-sama merupakan hak asasi manusia yang mendasar," terangnya. "Setiap orang tidak hanya memiliki kebebasan dan hak, tapi juga kewajiban untuk mengatakan apa yang menurutnya baik ... kita memiliki hak untuk mendapat kebebasan secara terbuka tanpa menyinggung," tutur Paus.Untuk memberi contoh, Paus kemudian menunjuk salah satu ajudannya dan berkata: "Memang benar bahwa Anda tidak boleh bereaksi keras, tapi meskipun kita teman baik jika dia menyebut kata makian terhadap ibu saya, dia bisa mengharapkan tonjokan, itu normal." "Anda tidak bisa mengolok-olok agama orang lain," imbuhnya. "Orang-orang memprovokasi dan kemudian sesuatu bisa terjadi. Dalam kebebasan berekspresi, ada batasannya," tandas Paus.Sesaat setelah tiba di Manila, Paus Fransiskus menyerukan pemerintah Filipina untuk menanggulangi korupsi dan mendengarkan jeritan kaum miskin, yang menderita akibat kesenjangan sosial di negara Katolik terbesar di Asia itu.Paus yang tiba di Manila pada Kamis, 15 Januari malam, menunju istana kepresidenan Malacanang untuk seremoni penyambutan resmi kedatangannya. Seremoni ini dipimpin oleh Presiden Benigno Aquino sementara puluhan ribu warga Filipina berbaris di pinggir-pinggir jalan untuk menyambut sang Paus. "Saat ini, penting agar para pemimpin politik menjadi luar biasa untuk kejujuran, integritas dan komitmen pada kebaikan bersama," ujar Paus. Hal tersebut disampaikan Paus usai pertemuan tertutup dengan Aquino. Paus pun menyerukan para pejabat pemerintah untuk menolak setiap bentuk korupsi, yang mengalihkan sumber daya dari kaum miskin.Kedatangan Paus disambut dengan penjagaan super ketat. Hampir 50 ribu tentara dan polisi dikerahkan di Manila, juga di Provinsi Leyte yang akan dikunjungi Paus pada akhir pekan ini. Penjagaan super ketat ini dikarenakan lawatan dua Paus lainnya di masa silam diwarnai dengan percobaan pembunuhan.Lonceng-lonceng gereja dibunyikan di berbagai penjuru Filipina saat pesawat yang mengangkut Paus mendarat di bandara internasional Manila pada Kamis, 15 Januari. Warga yang berkerumun di bandara bertepuk tangan dan bersorak-sorai ketika Paus Fransiskus melangkah keluar dari dalam pesawat.Sebelumnya pada Rabu, 14 Januari, Presiden Aquino meninjau langsung tempat-tempat publik dan rute iring-iringan kendaraan yang akan membawa Paus. Bahkan menurut Menteri Dalam Negeri Filipina Manuel Roxas, Aquino bersedia menjadi "pengawal pribadi" Paus guna memastikan keselamatannya. (Detikcom/d)