Kiev (SIB)- Pasukan militer Ukraina merebut kembali hampir semua wilayah bandara Donetsk di Ukraina timur yang telah direbut dari mereka beberapa minggu lalu. Dalam waktu bersamaan, ribuan orang berkumpul di ibu kota Kiev dalam pawai damai yang disponsori oleh negara pada Minggu (18/1).Serangan oleh militer terjadi di dekat kota industri Donetsk yang menjadi pusat pemberontakan pro-Rusia, sementara penembakan intensif di bagian lain terjadi di wilayah "Donbass". Dengan upaya untuk memulai perundingan perdamaian yang tersendat, pemberontak pro-Rusia telah meningkatkan serangan dalam sepekan terakhir dan korban telah berjatuhan, termasuk 13 warga sipil yang tewas akibat serangan terhadap sebuah bus penumpang, yang disebut Kiev dilakukan oleh kelompok separatis.Juru bicara militer Andriy Lysenko mengatakan operasi militer telah kembali di garis pertempuran di dekat bandara namun tidak melanggar 12 butir rencana perdamaian yang disepakati dengan Rusia dan pemimpin separatis September lalu di Minsk. "Kami berhasil hampir sepenuhnya membersihkan wilayah bandara, yang merupakan milik pasukan Ukraina, ditandai dengan garis pemisahan militer," katanya.Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Moskow prihatin dengan apa yang mereka sebut sebagai eskalasi oleh pasukan Ukraina yang tidak berkontribusi terhadap upaya perdamaian. Dia kemudian mengatakan Presiden Ukraina Petro Poroshenko menolak rencana perdamaian yang tercantum dalam surat yang dikirim oleh Presiden Rusia Vladimir Putin pada hari Kamis (15/1). "Dalam beberapa hari terakhir, Rusia telah secara konsisten melakukan upaya-upaya sebagai perantara dalam menanggulangi konflik," kata Peskov, menurut kantor berita Itar Tass.Kata Peskov, surat Putin memuat rencana konkret bagi kedua belah pihak untuk menarik artileri berat. Saluran televisi Rusia NTV menerbitkan surat itu pada Minggu (18/1) malam. Di dalamnya, Putin mengusulkan "langkah-langkah mendesak untuk penghentian saling menembak dan juga penarikan cepat oleh pihak dalam konflik untuk alat pengancur dengan kaliber yang lebih dari 100 mm.†Seorang juru bicara Poroshenko mengatakan ia belum mengomentari surat tersebut. Selesaikan KrisisPresiden Rusia Vladimir Putin telah berusaha meminta semua pihak yang terlibat dalam krisis Ukraina agar tak menyia-nyiakan waktu dalam menelesaikan kemelut itu secara damai. "Saya mengusulkan kedua pihak ... agar melakukan tindakan mendesak guna menghentikan tindakan saling melancarkan pemboman, serta secepatnya menarik senjata berat," demikian pesan Putin yang dikirim kepada timpalannya dari Ukraina Petro Poroshenko sebagaimana dikutip Stasiun Televisi Rusia, Channel One. "Perkembangan baru-baru ini di Ukraina Tenggara, pemboman yang berlanjut terhadap permukiman di Wilayah Donetsk dan Lugansk, mengakibatkan keprihatinan besar dan benar-benar membahayakan proses penyelesaian secara damai berdasarkan Kesepkatan Minsk pada September tahun lalu," kata Putin.Putin berjanji Rusia siap bekerjasama dengan Organisasi bagi Keamanan dan Kerja-Sama di Eropa (OSCE) guna memantau pelaksanaan kesepakatan gencatan senjata itu dan penarikan senjata oleh semua pihak yang bertikai di Ukraina. Namun, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov, Minggu (18/1) mengungkapkan usul Putin mengenai penarikan senjata "ditolak" oleh pihak Ukraina, demikian laporan Xinhua. "Presiden Ukraina menerima surat pada Jumat pagi (16/1) ... Sayangnya, pihak Ukraina menolak rencana yang diusulkan tersebut tanpa memberi tawaran pilihan, dan pada saat yang melanjutkan operasi militer," kata Peskov, yang dikutip kantor berita RIA Novosti.Juru Bicara Kremlin itu menegaskan, "Rusia terus melancarkan upaya guna menengahi konflik tersebut dalam beberapa hari belakangan." Selain itu, Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan Moskow siap "menggunakan pengaruhnya" dan membujuk gerilyawan lokal agar menerima baik penarikan senjata sebagai "isyarat itikad baik" guna menghindari makin banyak korban jiwa di pihak sipil.Menurut pernyataan tersebut, Pemerintah Kiev diduga memanfaatkan gencatan senjata belum lama ini untuk menata kembali pasukannya dan melanjutkan aksi militernya, dan pada saat yang sama mendesak pelaksanaan skenario kekerasan guna menyelesaikan krisis itu. Saat menyerukan sepenuhnya dipatuhinya Kesepakatan Minsk oleh semua pihak, Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan Moskow akan melakukan semua yang bisa dilakukannya guna memastikan bahwa Kelompok Kontak dalam bertemu secepatnya. (Xinhua/Ant/q)