Manila (SIB)- Pemimpin Gereja Katolik Roma, Paus Fransiskus, mengakhiri kunjungannya ke Asia, Senin (19/1). Paus meninggalkan Asia menuju Roma setelah melakukan kunjungan ke Sri Lanka dan Filipina. Kepulangan Paus menuju Vatikan dilepas oleh lebih dari satu juta warga Manila yang berkerumun di sepanjang jalan menuju bandara. Sebelum mengakhiri kunjungannya di Filipina, Paus sempat mengadakan misa Minggu di Manila yang dihadiri oleh 6 juta umat. "Saya tak bisa membayangkan keimanan orang-orang yang amat sederhana ini," ucap Paus yang takjub atas begitu banyaknya umat yang hadir dalam misa itu, mengutip pernyataan Uskup Agung Manila, Kardinal Luis Antonio Tagle.Uskup Agung Tagle selalu mendampingi Paus selama lima hari berada di Filipina. Selama berada di Filipina, Paus selalu menyerukan pada umatnya, terutama pada pejabat negara dan pemimpin politik, agar terus berjuang melawan kekuatan yang menyebabkan kemiskinan dan ketidakadilan sosial, serta lebih peduli terhadap sesama. "Belas kasihan terhadap warga miskin yang ditunjukkan oleh banyak orang di dunia tak cukup melalui cara derma semata," kata pemimpin Vatikan berusia 78 tahun itu. Seruan ini pun disampaikan Paus saat bertemu dengan Presiden Filipina, Benigno Aquino Jr. Paus pun menyempatkan diri untuk berkunjung ke Kepulauan Leyte di Filipina tengah yang pada November 2013 lalu dilanda topan Haiyan yang dahsyat. Bencana alam ini selain merenggut lebih dari 7.350 nyawa, juga meninggalkan nestapa karena banyak warga kehilangan anggota keluarganya dan tempat tinggal serta memperparah angka kemiskinan di Filipina. "Paus menyerukan agar kita mengasihi kaum papa dan peduli terhadap anak-anak yang tak berdaya serta memerangi ketidakadilan," kata Uskup Agung Tagle. Dalam khotbahnya, Paus selalu menyerukan agar umat bisa mengelak dari segala bentuk struktur sosial yang bisa melanggengkan kemiskinan, ketidakpedulian, serta korupsi. Saat berada di sebuah universitas di Manila, Paus amat tersentuh dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang anak perempuan yang ditelantarkan berusia 12 tahun bernama Glyzelle Iris Palomar. "Ada banyak anak ditinggalkan oleh orang tuanya. Banyak di antara mereka jadi korban dan hal-hal buruk menimpa mereka seperti kecanduan obat terlarang serta prostitusi. Mengapa Tuhan membiarkan hal ini terjadi walau itu bukanlah kesalahan anakanak? Mengapa hanya segelintir orang saja yang mau membantu kami?" tanya Glyzelle. Atas pertanyaan Glyzelle, Paus amat terharu hingga kemudian menyerukan umat agar lebih peduli. "Saya menyeru pada Anda semua untuk bertanya pada diri sendiri: Apakah saya akan iba saat melihat anak yang kelaparan, anak telantar menggunakan narkoba, anak jalanan, anak yang disiasiakan, anak yang dilecehkan, atau anak yang diperbudak oleh orang lain?" kata Paus. (KJ/ r)