Jakarta(harianSIB.com)
Ketegangan meningkat di kompleks Masjid Al-Aqsa, Yerusalem, setelah kesepakatan status quo yang selama puluhan tahun menjaga stabilitas di lokasi suci itu dilaporkan melemah.
Kepala Polisi Yerusalem, Avshalom Peled, mengizinkan warga Yahudi membawa lembaran doa cetak ke area Al-Aqsa selama Ramadan. Kebijakan ini dinilai menyimpang dari aturan lama yang membatasi aktivitas doa non-Muslim di kompleks tersebut.
Mengutip CNBC Indonesia, pengamat kebijakan Yerusalem Daniel Seidemann, mengatakan status quo praktis runtuh karena kini terdapat aktivitas doa harian yang dilakukan secara terbuka. Ia menilai aparat sebelumnya sangat ketat mencegah provokasi, namun kini langkah tersebut justru dianggap sebagai penegasan kontrol.
Tekanan juga dialami Jerusalem Waqf selaku pengelola situs. Lembaga itu melaporkan 17 staf ditahan tanpa dakwaan, 42 lainnya dilarang memasuki kompleks, serta sejumlah kantor digeledah. Pembatasan juga disebut menghambat perbaikan fasilitas dan pelayanan bagi jemaah selama Ramadan.
Baca Juga: Himapsi Ajak Masyarakat Saling Menghormati di Bulan Ramadan Pada pekan pertama
Ramadan, polisi Israel memperpanjang jam kunjungan pagi bagi warga Yahudi dan turis. Seorang imam Al-Aqsa dilaporkan ditahan dan kompleks sempat digerebek saat pelaksanaan salat tarawih pertama.
Analis dari International Crisis Group, Amjad Iraqi, menilai situasi tahun ini lebih berisiko dibanding sebelumnya. Ia menyebut adanya pergeseran sikap pemerintah Israel yang dinilai semakin percaya diri dan kurang terpengaruh tekanan diplomatik internasional.