Beberapa Jam Setelah Zona Keamanan Disepakati

Bus Dihantam Serangan Artileri di Donetsk, 13 Nyawa Melayang

- Jumat, 23 Januari 2015 15:08 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/photo/dir012015/hariansib_-Bus-Dihantam-Serangan-Artileri-di-Donetsk--13-Nyawa-Melayang.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Berlin (SIB)- Konflik Ukraina timur kembali merenggut korban jiwa warga sipil. Setidaknya 13 orang tewas ketika bus yang mereka naiki terkena serangan artileri di kota Donetsk, Ukraina timur. "Dua belas orang tewas di bus listrik dan seorang lainnya yang tengah berada di dalam satu mobil yang melintas di lokasi tersebut," ujar seorang pejabat dinas emergensi di Donetsk. Kota Donetsk merupakan basis para pemberontak pro-Rusia yang memerangi militer Ukraina. Disampaikan pejabat tersebut seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (22/1), sekitar 12 orang juga terluka dalam insiden itu.Sebelumnya pada Rabu, 21 Januari malam waktu setempat, serangan artileri juga dilancarkan ke kawasan dekat bandara Donetsk, yang menjadi pusat pertempuran beberapa hari terakhir. Satu orang yang berada dalam bus tewas akibat serangan itu. Serangan itu terjadi beberapa jam setelah para menteri luar negeri Rusia, Ukraina, Jerman dan Prancis mengakhiri pertemuan di Berlin mengenai krisis Ukraina. Hasil pertemuan itu adalah seruan bersama untuk menghentikan pertempuran, namun tanpa adanya kesepakatan untuk menghentikan pertumpahan darah di Ukraina timur. Pertemuan empat hari mengenai krisis Ukraina menghasilkan perkembangan diplomatik dengan tercapainya kesepakatan untuk membentuk zona aman antara pasukan pro-Rusia dengan pasukan Kiev, kata Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier."Akhirnya hari ini tercapai kesepakatan bahwa garis demarkasi, yang disebutkan dalam protokol Minsk, akan menjadi batas dimana penarikan persenjataan berat harus dimulai," kata Steinmeier, Rabu malam setelah pertemuan dengan para menlu dari Prancis, Rusia dan Ukraina, seperti dilaporkan Reuters. Namun, imbuh dia, "Banyak hal bergantung pada pertanyaan bahwa apa yang sudah kita sepakati tidak akan hanya di atas kertas saja, tetapi juga akan mengubah situasi di lapangan."Dalam pernyataan bersama yang dirilis oleh Kementerian Luar Negeri Jerman, para menteri menekankan "dengan perhatian serius" bahwa pertempuran di Ukraina timur sudah sangat meningkat dan menyebabkan hilangnya nyawa termasuk warga sipil. "Ini harus segera dihentikan dan ketenangan harus dikembalikan," demikian pernyataan tersebut, dan menambahkan bahwa para menlu meminta semua pihak di lapangan untuk menghormati kesepakatan itu sepenuhnya. Termasuk penarikan senjata berat sesuai garis kontak seperti disebutkan dalam rencana perdamaian Minsk.Para menlu mengatakan harus ada kemajuan nyata pelaksanaan protokol Minsk sepenuhnya sebelum rencana pertemuan puncak dilaksanakan. Termasuk gencatan senjata efektif, kesepakatan soal pengiriman bantuan kemanusiaan dan kelanjutan pembebasan tahanan.Keempat menlu menekankan kembali dukungan bagi kelompok kontak Ukraina dan meminta dilakukannya pertemuan antara penandatangan rencana perdamaian Minsk dalam beberapa hari mendatang untuk melaksanakan gencatan senjata dan menarik mundur persenjataan berat. Mereka juga menyerukan dibentuknya kelompok kerja untuk menangani aspek-aspek yang relevan dengan kesepakatan Minsk. Konflik Ukraina telah pecah sejak April 2014 lalu. Sejauh ini, lebih dari 4.800 orang dilaporkan telah tewas selama krisis tersebut.  Presiden Ukraina Petro Poroshenko menyebut lebih dari 9 ribu tentara Rusia ada di wilayahnya. Tentara-tentara tersebut membantu separatis pro-Rusia yang terus bertempur melawan tentara Ukraina di wilayah timur negara tersebut. RUSIA BERTANGGUNG JAWAB Perdana Menteri Ukraina mengatakan, Kamis (22/1) Rusia bertanggung jawab atas penembakan bus di Donetsk, yang menewaskan 13 orang.Militer Kiev sebelumnya menuding pemberontak atas kejadian kedua dalam kurang dari dua pekan itu.Namun, Perdana Menteri Arseniy Yatsenyuk mengatakan Rusia paling bertanggung jawab karena merekalah yang memasok persenjataan berat kepada pemberontak dan mendukung mereka dengan tentara --satu dakwaan yang sudah dibantah oleh Rusia."Teroris Rusia kembali melakukan kejahatan kemanusiaan yang mengerikan," kata Yatsenyuk dalam sebuah pernyataan yang dipublikasikan di laman resmi pemerintah."Dan tanggung jawab atas insiden ini ditanggung oleh Federasi Rusia," katanya.Ukraina menyebut gerakan selama sembilan bulan di zona perang industri sebagai "operasi anti-teroris" yang merupakan bagian dari gerakan global melawan militan radikal.Sebagai balasan, Kremlin mengecap perang itu sebagai "operasi hukuman" yang dirancang oleh Kiev untuk menghukum kawasan yang dihuni etnik Rusia itu karena mendukung hubungan lebih dekat dengan Moskow.Yatsenyuk mengatakan pertempuran yang oleh pengamat internasional disebut telah menewaskan lebih dari 5 ribu orang itu hanya bisa dihentikan "dengan menyingkirkan pasukan Rusia dan bandit-bandit Rusia dari wilayah Ukraina".(AFP/dtc/Ant/c)


Tag:

Berita Terkait

Luar Negeri

Tambahan Korban Terungkap, Anggota DPR RI Kawal Orang Tua Buat Laporan ke Polres Asahan

Luar Negeri

Polda Sumut Jamin Keamanan Warga Rayakan Imlek

Luar Negeri

Libur Imlek 2026, Objek Wisata Danau Toba di Sirukkungan Ramai Pengunjung

Luar Negeri

Tahun Baru Imlek 2026 Shio Kuda Api Ekonomi Akan Pulih Jika Cepat, Kuat dan Gesit Seperti Kuda

Luar Negeri

Puluhan Gepeng di Pematangsiantar Padati Pintu Masuk Vihara Berebut Angpau

Luar Negeri

Dua Truk Tabrakan di Tikungan Cindelaras Sibolangit, Dua Sopir Terluka