New York (SIB)- Dewan Keamanan PBB akan menggelar sidang khusus untuk membahas kekerasan di Ukraina timur. Sidang dilakukan setelah serangan roket-roket pemberontak pro-Rusia menewaskan 30 orang. Presiden Amerika Serikat Barack Obama bertekad untuk meningkatkan tekanan terhadap pemerintah Rusia setelah serangan di Mariupol, Sabtu (24/1) waktu setempat. Mariupol merupakan kota utama yang terletak di antara wilayah separatis dekat perbatasan Rusia dan semenanjung Crimea yang dicaplok Rusia pada Maret 2014 lalu.Serangan mematikan terhadap kota pelabuhan tersebut terjadi sehari setelah para pemberontak pro-Rusia menarik diri dari pembicaraan damai, dan bersumpah akan merebut wilayah baru. Seperti dilansir AFP, Senin (26/1), sidang khusus Dewan Keamanan PBB digelar, Senin (26/1) sekitar pukul 15.00 waktu setempat. Sidang khusus digelar setelah 15 anggota DK PBB gagal untuk menyepakati resolusi mengecam serangan roket tersebut, dikarenakan sikap Rusia yang memblokade resolusi tersebut.Kepolisian setempat mengatakan, 95 orang juga terluka akibat puluhan roket jarak jauh yang menghantam distrik pemukiman padat penduduk dan sebuah pasar di Mariupol pada Sabtu (24/1) tersebut. Sejumlah pemimpin dunia mengecam keras serangan roket maut tersebut. Kanselir Jerman Angela Merkel pun turut menyerukan presiden Rusia untuk menekan para separatis pro-Rusia, guna mengakhiri konflik Ukraina.Tewaskan 9 OrangKorban jiwa terus berjatuhan dalam konflik di Ukraina timur. Pertempuran di wilayah tersebut menewaskan 9 orang dalam 24 jam terakhir. Di antaranya termasuk tujuh tentara Ukraina. "Sebagai akibat gempuran, Ukraina telah kehilangan tujuh tentara sementara 24 orang lainnya terluka," kata juru bicara militer Ukraina Vladyslav Seleznyov seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (26/1). Gubernur wilayah separatis Lugansk juga termasuk di antara dua warga sipil yang tewas dalam insiden itu.Para pemberontak pro-Rusia telah menarik diri dari pembicaraan damai dan mengumumkan serangan-serangan baru di Ukraina timur. Hal ini meningkatkan keprihatinan internasional dan pemerintah Rusia pun diserukan untuk menghentikan para pemberontak.Sebelumnya pada Sabtu, 24 Januari, serangkaian serangan roket menghantam kota Mariupol dan menewaskan 30 orang. Hampir 100 orang luka-luka dalam peristiwa tersebut. Menurut para pengamat, roket-roket tersebut ditembakkan dari arah wilayah yang dikuasai separatis pro-Rusia. Konflik Ukraina telah pecah sejak April 2014 lalu. Sejauh ini, lebih dari 4.800 orang dilaporkan telah tewas selama krisis tersebut. (AFP/dtc/f)