Abuja (SIB)- Kelompok radikal Boko Haram terus menebar teror di Nigeria. Seorang jenderal Amerika Serikat mengatakan, butuh upaya internasional yang sangat besar untuk memerangi Boko Haram. Saat ini hubungan antara militer Nigeria dan AS tengah dilanda ketegangan, menyusul keputusan Nigeria membatalkan pelatihan oleh para penasihat militer AS terhadap unit pasukan yang akan memerangi Boko Haram.Jenderal David Rodriguez, kepala Komando AS untuk Afrika menyampaikan keprihatinan soal Boko Haram dan banyaknya warga yang kehilangan tempat tinggal akibat serangan-serangan militan tersebut. "Saya pikir, butuh upaya internasional yang sangat besar untuk mengubah keadaan yang terus mengarah ke arah yang keliru ini," tutur Rodriguez dalam event yang digelar Center for Strategic and International Studies, sebuah think tank Washington. "Kepemimpinan Nigeria dan militer Nigeria harus benar-benar memperbaiki kapasitas mereka untuk bisa menangani itu," tandas jenderal bintang empat itu seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (28/1).Konflik yang ditimbulkan Boko Haram di Nigeria sejauh ini, telah menewaskan lebih dari 13 ribu orang. Sekitar satu juta warga telah kehilangan tempat tinggal akibat serangan-serangan kelompok radikal tersebut. Menurut Rodriguez, respons militer Nigeria sangat tidak efektif dan bahkan di sejumlah tempat, justru membuat keadaan lebih buruk. "Saya harap mereka mengizinkan kita membantu lebih banyak lagi," tutur Rodriguez.Sebelumnya pada November 2014 lalu, Duta Besar Nigeria untuk AS, Adebowale Ibidapo Adefuye, menyampaikan bahwa negaranya tidak puas dengan dukungan AS atas perjuangan melawan Boko Haram. Washington pun telah memblokir penjualan sejumlah peralatan militer dikarenakan keprihatinanan soal HAM. Hal tersebut direspons Nigeria dengan membatalkan pelatihan oleh militer AS terhadap unit pasukannya yang akan memerangi Boko Haram. Nigeria sebenarnya memiliki kekuatan militer terbesar di Afrika Barat. Namun militer Nigeria menuai kritikan di dalam dan luar negeri karena gagal menghentikan serangan-serangan Boko Haram. (Detikcom/ r)