Nanjing (SIB)- China dan Taiwan mengadakan pembicaraan tingkat tinggi, Selasa (11/2/2014) waktu setempat. Pembicaraan ini adalah yang pertama kalinya untuk kedua negara selama kurun 65 tahun. Kedua negara mengadakan pembicaraan resmi yang bersejarah karena selama ini mereka bersaing sengit.Pemerintahan Taiwan lewat Menteri Urusan China Daratan, Wang Yu Chi, bertemu Menteri RRC untuk Hubungan dengan Taiwan, Zhang Zhijun, dalam acara hingga 14 Februari mendatang. Pertemuan diadakan di Nanjing bagian timur China.Dipilihnya Kota Nanjing sebagai lokasi pertemuan karena kota tersebut adalah ibukota di masa pemerintahan Nasionalis pimpinan Chiang Kai-sek selama perang melawan Komunis pimpinan Mao Zedong sebelum Nasionalis akhirnya melarikan diri ke Taiwan. Kota Najing juga merupakan lokasi pemakaman pendiri republik China, Sun Yat-sen. Sejauh ini belum diketahui agenda dari pertemuan itu, namun diperkirakan keduanya akan membicarakan isu perdagangan. Beijing menginginkan Taiwan meratifikasi perjanjian di mana kedua pihak membuka jalur perdagangan seluas-luasnya kepada pengusaha China dan Taiwan untuk berinvestasiPertemuan ini diharapkan bisa menormalisasi hubungan bilateral mereka sejak terpisah pada 1949 usai perang sipil silam. "Tujuan utama saya ke China daratan adalah untuk mempromosikan saling kesepahaman antara kedua pihak. Ini akan berdampak krusial pada institisionalisasi ikatan kedua belah pihak," kata Wang sebelum berangkat ke China. Pemerintah Taiwan mengatakan bahwa agenda mereka dalam pertemuan itu menawarkan dibukanya perwakilan permanen di kedua negara. Selain itu, Taiwan juga akan membicarakan kebebasan pers di China setelah pemerintah Beijing menolak akreditasi beberapa media asing."Kebebasan Pers adalah nilai universal. Kami berulang kali mengatakan bahwa hal yang terpenting dari pertukaran berita kedua pihak adalah adanya aliran informasi yang bebas dan adil," ujar pernyataan Dewan Urusan China Daratan Taiwan.Pada 65 tahun silam, 2.000 pendukung pemimpin nasionalis, Chiang Kai Shek memilih melarikan diri ke Taiwan, dengan nama resmi Republik China, setelah kalah perang dari pihak komunis pimpinan Mao Zedong. Semenjak itu, pulau Taiwan dan China daratan diperintah secara terpisah. Kedua pihak mengklaim dirinya sebagai pemerintahan China yang sah. Mereka pernah menjalin kontak pada dekade 1990-an lewat organisasi semi resmi.Kebanyakan negara, termasuk Indonesia dan Amerika Serikat tidak secara formal mengakui Taiwan sebagai negara merdeka. Kebijakan satu China memaksa banyak negara tidak mengakui Taiwan. Akibatnya, Taiwan tidak memiliki Kedutaan Besar, hanya perwakilan dagang.Hubungan dengan China membaik setelah Ma Ying-jeou yang pro-Beijing memimpin Taiwan. Penerbangan dari China ke Taiwan dibuka, meningkatkan ekonomi Taiwan di sektor pariwisata. Sebaliknya, banyak investor Taiwan yang menanamkan modal miliaran dolar di China daratan. Tidak pernah ada pembicaraan formal pemerintah China-Taiwan selama ini. Komunikasi mereka berlangsung secara tidak langsung melalui kelompok dagang dan persahabatan Taiwan-China. (Detikcom/ r)